
Seperti yang sudah direncanakan, Miranda dan Rizal keesokan harinya berangkat menuju ke jogjakarta. Kali ini mereka berangkat menggunakan mobil pribadi. Mereka berangkat pagi setelah sarapan.
Bahagia. Tentu saja mereka berdua bahagia. Mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk tidur dalam satu kamar lagi. Meski mereka merasa hubungan mereka sedang tidak aman, tapi mereka tetap akan menjalaninya dan semakin berhati hati dalam bertindak.
"Berarti kita nanti tidur di hotel apa gimana, Non," tanya Rizal begitu mereka telah masuk jalan tol.
"Kita menyewa sebuah rumah di pusat kota Zal, rumah temanku," jawab Miranda tanpa menoleh.
"Rumah? aman nggak, Non?"
"Aman, lagian kalau di hotel kita nggak bakalan aman. Aku yakin Tomi ngirim orang untuk mengawasi gerak gerik kita."
"Ah, iya benar. Wah, non Miran cerdas juga ya?"
"Haruslah."
Apa yang dipikirkan Miranda memang benar adanya. Bukan hanya mengawasi, Tomi juga mengirim tiga orang sekaligus untuk menculik Miranda sesuai drama yang telah dia rencanakan dengan Rio. Dalam hati Tomi sudah sangat yakin kalau rencananya akan berjalan dengan sempurna.
Setelah beberapa jam perjalanan, mobil yang dikendarai Rizal telah sampai di jawa tengah, Tepatnya di daerah brebes.
"Mau mampir ke kampungku apa, Non?" tawar Rizal.
"Emang udah deket dari sini?" tanya Miranda menoleh ke arah sang supir pujaan.
__ADS_1
"Masih jauh sih, tiga jam ke arah selatan, sedangkan kita ini langsung ke timur kan?"
"Kalau mau lewat selatan ya nggak apa apa, sekalian kenalan sama calon mertua."
"Hahaha ... bisa aja, Non. Gampanglah Non kapan kapan saja, lagian aku lagi kerja. Kecuali pas liburan lah nggak apa apa. Jadi banyak waktu buat keluarga."
Miranda mengulas senyum. Ada rasa iri dalam hati Miranda, tiap mendengar kisah keluarga Rizal. Meski keluarga Rizal tidak kaya raya, bahkan kadang kekurangan. Tapi Miranda merasa keluarga itu sangat saling menyayangi. Terbukti, Miranda sering melihat Rizal sedang bercanda dengan keluargnya meski hanya melalui ponsel. Sedangkan Miranda, berbalas pesan dengan orang tua pun jarang, apalagi telfon sambil berbagi tawa. Itu sangat mustahil akan terjadi.
Entah apa yang dipikirkan orang tua Miranda. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, seperi tidak sadar kalau mereka mempunyai anak semata wayang yang sering mereka abaikan. Bahkan selama Miranda menikah, mereka menghubungi hanya sekedar menanyakan kehamilan tanpa tahu apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangga anaknya.
"Kita cari rest area dulu, Zal. Aku udah lapar," pinta Miranda.
"Oke."
Karena rasa lapar yang sudah mendera, Miranda maupun Rizal memilih menu yang tidak lama penyajiannya. Seperti soto, bakso dan beberapa menu tambahan. Mereka juga membeli sekalian beberapa makanan untuk nanti saat sampai tujuan, agar setelah sampai, mereka tidak perlu mencari makanan jika lapar.
Selain karena lapar, mereka juga butuh istirahat sejenak. Apalagi Rizal, ini adalah pengalam pertamanya membawa mobil dalam jarak yang lumayan jauh. Miranda meminta Rizal agar tidur sejenak, daripada nanti di jalan ngantuk. Bisa berbahaya buat perjalanan mereka.
Waktu terus merangkak maju, hingga tak terasa mereka sampai jogja ketika hari sudah gelap. Dengan arahan Miranda, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang akan digunakan mereka.
"Rumahnya cukup nyaman ya, Non," ungkap Rizal begitu turun dari mobil dan memandang rumah sederhana dan penuh pepohonan.
Rizal dan Miranda agak terkejut saat pintu rumah itu ada yang membukanya. Seorang wanita paru baya keluar menghampiri mereka.
__ADS_1
"Maaf anda siapa ya?" tanya wanita itu begitu langkah kakinya berhenti tepat di hadapan Miranda dan Rizal.
"Saya Miranda, temannya Violin, Bu," Miranda yang menjawab.
"Oh iya, Non Violin sudah bilang. Anda yang mau menginap disini?"
"Iya, Bu,"
"Ya udah, silakan masuk, Non."
Miranda pun melangkah mengikuti wanita itu. Sedangkan Rizal kembali ke mobil, mengambil koper serta barang bawaan lainnya.
Setelah berbasa basi sejenak, wanita yang diberi amanat untuk merawat rumah itu pun pamit sembari menyerahkan kunci rumah.
Melihat keadaan yang sudah sepi, pikiran nakal Rizal pun mulai bekerja. Segera dia memeluk Miranda dari belakang.
"Berarti sekarang sudah boleh buka baju dong, ya?" bisik Rizal nakal.
"Nggak! Belum boleh, mandi dulu," tolak Miranda.
Tapi Rizal tidak peduli. Tangannya langsung saja melucuti pakaiaan Miranda, dan wanita itu pasrah menerimanya.
...@@@@@...
__ADS_1