TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 239 (Iqbal)


__ADS_3

"Bal, Iqbal!" teriak Karin dari depan pintu kamar kost yang Iqbal tempati.


Ceklek! Pintu terbuka.


"Ada apa?" tanya si penghuni kamar.


"Kok ada apa? Kamu abis tidur?"


"Nggak, lagi main game, hehhehe ..."


"Makan yuk, aku lapar ..."


"Oke!"


Iqbal dan Karin lantas pindah masuk ke dalam kamar kost lain. Tepatnya kamar kost yang Karin gunakan. Beruntung mereka tadi sempat beli makanan, jadi mereka tidak perlu keluar lagi mencari makanan. Meskipun kadang mereka pesan makanan lewat pesanan online.


Iqbal masuk ke dalam kamar tanpa menaruh curiga sama sekali. Meski dia mendengar kran kamar mandi berbunyi. Dia langsung duduk dan mengambil makanan yang memang sudah diletakkan dilantai oleh Karin. Dia langsung menikmati makanan, begitu juga dengan Karin.


Tak lama kemudian, saat mereka lagi asyik menikmati makanannya. Mata Iqbal membelalak saat melihat siapa yang keluar dari kamar mandi.


"Aleta! Belinda!" pekik Iqbal. Seketika dia merasa kesusahan menelan makanannya yang sedang dia kunyah.


Bukan saja keberadaan Aleta dan Belinda yang membuat terkejut. Tapi apa yang mereka pakai membuat darah Iqbal berdesir, nafasnya terasa sesak dan juga isi celananya perlahan menegang.


Dalam pikiran Iqbal, sepertinya Aleta dan Belinda habis numpang mandi. Mereka hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh mereka. Tentu saja tubuh mereka tidak tertutup sempurna.

__ADS_1


"Hy, Bal," sapa keduanya hampir bersamaan.


"Kalian lagi pada ngapain?" tanya Iqbal yang fokus makannya kini telah terbagi. Sedangkan Karin hanya mehahan senyumnya saat melihat ekspresi muka Iqbal. Dia sungguh ingin menguji pertahanan pemuda itu. Karin melirik boxer yang Iqbal pakai sudah ada yang mengembang di tengah tengahnya.


"Habis numpang mandi, Bal," jawab Belinda sambil duduk diatas kasur menghadap Iqbal, begitu juga Aleta. Pemuda itu semakin dilanda resah gelisah yang tak menentu. Mata Iqbal mau tak mau melihat dua lubang nikmat tanpa bulu yang sedikit tertutup handuk.


Iqbal mencoba berpaling dan menunduk, matanya fokus menatap makanan yang rasa nikmatnya seperti hilang. Karin, Belinda dan Aleta saling lirik dan saling melempar senyum.


"Kamu kenapa menunduk, Bal? Kamu nggak suka kita ada disini?" celetuk Aleta.


"Eh, em ... bukan begitu kok, Non?" balas Iqbal sambil tergagap. "Aku cuma lagi sangat lapar."


"Oh lapar," ujar Belinda. "Pantes celana boxernya mengembang. Pasti kekenyangan itu."


"Tenang, Iqbal, jangan panik gitu. Aku nggak akan minta lihat isi boxermu kok. Itu udah miliknya Karin," beo Belinda lagi. Wajah Iqbal semakin memerah, hawa panas langsung mengalir di dalam tubuhnya.


Iqbal melirik, matanya kembali memicing. Kali ini dengan sangat jelas, Iqbal melihat dua benda dibawah perut Belinda dan Aleta seperti berteriak mengharap kepada Iqbal agar mau bermain disana. Dada Iqbal semakin bergemuruh, jiwa lelakinya bergejolak. Iqbal semakin tak tahan, dia lantas bangkit dan beranjak keluar kamar. Dia tidak peduli isi boxer yang jelas terlihat menonjol dan menegang.


"Sial! Ini pasti Karin sedang ngerjain aku!" umpet Iqbal begitu keluar kamar dan masuk ke dalam kamarnya sambil mengusap isi boxer yang sedang meronta menginginkan sarangnya.


"Iqbal pasti marah tuh, Rin," ujar Aleta sembari memakai pakaiannya.


"Nggak bakalan, aku tahu Iqbal sayang banget sama aku."


"Ya syukurlah, kalau begitu kita pamit ya? Salam buat Iqbal," balas Belinda.

__ADS_1


Dua wanita itu lantas pergi dengan hati yang damai. Mereka bahkan sempat berteriak pamit pada Iqbal saat melewati kamarnya.


Begitu kedua kakaknya pergi, Karin langsung membereskan sampah makanan. Setelah itu, Karin mendatangi kamar Iqbal. Beruntung kamar Iqbal tidak dikunci, Karin bisa langsung masuk.


Terlihat Iqbal sedang berbaring telentang dengan mata terpejam. Pemuda itu tahu Karin masuk kamarnya. Tapi dia tetap terdiam.


"Bal, kamu tidur?" tanya Karin begitu dia duduk di tepi kasur.


"Tadi ngapain nyuruh Belinda dan Aleta kayak gitu?" tanya Iqbal terdengar dingin.


"Nyuruh apaan?" Karin bertanya balik.


"Nggak usah pura pura. Aku tahu, kamu sengaja mau ngerjain aku. Mentang mentang udah damai dan baikan, seenaknya nguji aku kayak gitu," sungut Iqbal.


"Astaga! Siapa yang nguji kamu, Iqbal? Orang aku ..."


"Nanti kalau aku tergoda sama cewek lain, kamu ngamuk ngamuk. Nyalahin aku dengan tuduhan tuduhan nggak jelas. Dipikirnya aku lelaki murahan apa gimana?"


"Ya ampun, Bal. Siapa yang berpikiran kayak gitu, aku cuma ..."


"Sudahlah nggak usah membela diri. Udah jelas salah, masih saja berkilah," ketus Iqbal. Dia langsung memunggungi Karin. Sedangkam Karin malah mengulum senyum meski dia merasa bersalah.


"Aku yakin, setelah ini, kamu marahnya hilang, Bal," guman Karin


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2