
Rasa bahagia juga sedang dirasakan oleh seorang pemuda bernama Iqbal. Disaat dia menggalau dan kebingungan mencari jalan keluar agar dia dapat meredakan kemarahan keluarganya, justru Iqbal mendapat kejutan yang tak terduga di rumahnya.
Malam itu, disaat dia baru saja pulang dari rumah Jamal, Iqbal dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang awalnya seperti menantang hubungan dirinya dengan Karin. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Amanda, ibunya Karin.
Malam itu Iqbal sangat tidak menyangka kalau Nyonya Amanda bisa datang ke rumahnya dan menjelaskan kejadian kepada orang tua Iqbal tentang apa yang terjadi kepada anak anak mereka. Iqbal sendiri tidak tahu cerita selengkapnya bagaimana, tapi yang pasti saat Iqbal pulang, dia ikut berbicara sejenak dan restu meluncur dari mulut kedua orang tua dan juga kakaknya.
Satu lagi yang membuat Iqbal terkejut, yaitu berita kecelakaan yang dialami oleh Karin. Sungguh Iqbal sangat syok mendengarnya. Iqbal pikir Karin baik baik saja karena setiap berbalas chat, Karin tidak pernah bercerita kalau dia mengalami kecelakaan.
Tentu saja, rasa kecewa dan khawatir langsung menyergap hati Iqbal. Bagaimana bisa Karin tidak memberi kabar tentang kecelakaan yang menimpanya?
Disaat dia ingin memberi tahu kepada Karin, Nyonya Amanda justru malah melarangnya. Awalnya Jamal heran, tapi setelah Nyonya Amanda menjelaskan, Iqbal langsung paham dan dia setuju dengan ide sang nyonya.
Siang harinya, seperti yang telah disepakati, Rizal berangkat ke kota bersama Amanda. Rasa canggung diantara sudah pasti ada. Meski sudah saling memaafkan, tetap Iqbal merasa tetap tidak enak hati. Apalagi sekarang mereka berada di dalam satu mobil. Iqbal duduk di depan bersama sang supir. Sedangkan Amanda duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan yang sanngat berarti antara Iqbal dan Amanda. Beruntung ada Pak supir, jadi Iqbal memilih ngobrol bersama supir berbagi cerita dan pengalaman hidup.
Sementara itu, rasa khawatir justru sedang dirasakan oleh keluarga Amanda. Suami dan ketiga putrinya merasa khawatir dan frustasi karena sudah dua hari, Amanda tidak ada kabar.
Amanda memang sengaja melakukannya. Bahkan dia menyuruh sang supir agar mematikan ponselnya. Dia pergi diam diam karena merasa bersalah dan kecewa pada sang suami. Amanda tahu, dia salah. Tapi dia sangat kecewa saat sang suami justru mengancam akan menceraikannya. Amanda ingin memberikan sedikit pelajaran kepada Martin agar suaminya tahu, tidak semua masalah rumah tangga harus berakhir dengan perceraian. Tapi jika itu yang Martin inginkan, Amanda bisa apa?
__ADS_1
Kini Martin dan ketiga putrinya nampak berkumpul di dalam ruang rawat Karin. Wajah lelah, sedih dan frustasi, jelas sekali terlihat pada diri mereka.
"Mami kemana?" rintih Karin. Dia sangat sedih dan sangat merasa bersalah. Karena dialah semua kekacauan ini terjadi. Air matanya bahkan selalu menetes saat dia mengingat betapa bencinya dia terhadap Maminya.
"Papi sudah lapor polisi, Pi?" tanya Belinda.
"Sudah," jawab Martin lemah.
"Terus Mami kemana?" gumam Belinda.
Hingga malam menjelang, mereka masih berkumpul di ruangan yang sama. Martin yang sedang libur bekerja, memilih menghabiskan waktu di rumah sakit menemani anaknya. Sedangkan Belinda dan Aleta sesekali pulang buat istirahat dan keperluan lainnya.
"Mami!" pekik Aleta dan Belinda.
Tidak sampai disitu. Mereka kembali dibuat terkejut saat seseorang yang mereka kenal ikut masuk bersama Amanda.
"Iqbal!"
Aleta dan Belinda segera menyongsong dan memeluk Maminya, sedangkan Karin hanya mampu menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat, dan Martin juga terdiam meski kini amarahnya bergejolak.
__ADS_1
Iqbal memberi salam pada Martin lalu mendekati Karin. "Kenapa nggak cerita kalau kamu kecelakaan? Hum? Kenapa?"
Karin tetap terdiam. Dia masih terkejut karena orang yang dia rindukan kini berdiri di hadapannya dan datang bersama Mami. Ini terlalu mengejutkan.
"Non," panggil Iqbal lembut. Ingin rasanya Iqbal memeluk gadis dihadapannya, tapi dia menahan diri karena tak enak ada Tuan Martin dan yang lain.
"Bagaimana bisa kamu datang sama Mami, Bal?" bukannya menjawab, Karin malah melempar pertanyaan.
"Mami yang datang ke rumah Iqbal, Sayang," Amanda yang menjawab pertanyaan anaknya. Tentu saja mereka kembali terkejut.
"Bagaimana bisa, Mi?" tanya Aleta.
"Ya bisa dong, Mami kan tahu alamatnya," jawab Amanda berusaha tenang. Padahal dia sedang gugup, apalagi Martin memandangnya dengan tatapan tajam. "Ya sudah, Mami akan pulang dulu, istirahat. Mami capek. Bal, jagain Karin ya?"
"Iya, Nyonya."
Amanda langsung melenggang meninggalkan ruangan anaknya. Aleta dan Belinda pun memilih ikut pulang bersama Amanda. Tak lama setelah itu, Martin juga ikut pergi karena butuh penjelasan pada istrinya.
...@@@@@...
__ADS_1