
"Mampir di rumah makan padang lah, Mal?"
"Tempat biasa?" Selin mengangguk. "Dengan senang hati akan saya antarkan, Tuan putri. Gass,"
Selin terkekeh, saking gemasnya, pipi Jamal sampai kena cubit.
"Aduh, sakit, Non," rintih Jamal, terus memasang wajah cemberut. Melihat ekspresi Jamal, suara tawa Selin malah semakin menjadi, membuat Jamal mendengus sebal tapi akhirnya ikut tertawa juga.
Hingga akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan. Begitu mobil terparkir, Selin dan Jamal segera turun. Tanpa mereka sadari, Sejak mobil keluar dari kampus ada mobil yang mengikuti. Sekarang pemilik mobil itu juga ikut turun, dan ternyata mereka terdiri dari dua orang pria.
Mereka masuk di rumah makan padang, dimana Selin dan Jamal berada. Mereka bahkan terus mengawasi gerak gerik targetnya sembari makan disana juga.
"Target kita cantik juga, kalau bukan karena duit, udah aku makan dia," ucap pria yang berambut rada panjang.
"Yoi, namanya juga masih muda, pasti lagi enak enaknya itu," balas rekannya yang berkepala plontos.
"Cowoknya kok ya kayak gitu banget, menang tampang doang," ejek pria berambut gondrong.
"Sekali hantam, paling pingsan, hahaha ..." imbuh pria berkepala plontos. Mereka terlihat sedang meremahkan Jamal.
__ADS_1
Sedangkan di meja lain, Jamal dan Selin juga sedang bercanda sambil menikmati nasi padang. Mereka makan sangat lahap. Mungkin karena lapar, mereka melahap masing masing satu piring hingga hampir tanpa adanya percakapan.
Tidak sampai lima belas menit, nasi padang dalam piring mereka telah habis. Mereka memilih duduk sebentar sambil mengobrol sesuatu yang akan mereka katakan pada Tuan Gustavo.
"Non, ini sih misal, setelah kita ngomong jujur sama Tuan Gustavo dan kita terpisah, apa yang akan Non Selin lakukan?" tanya Jamal. Sejujurnya dia enggan menanyakan hal itu. Memikirkannya saja, Jamal merasa sesak.
Bukan hanya Jamal yang merasa sesak, Selin yang diberi pertanyaan seperti itu juga dadannya langsung bergemuruh. Bahkan, wajah cerianya yang tadi dia tebarkan, lenyap dan berubah jadi murung.
"Kenapa pertanyaan seperti itu harus kamu lontarkan sih, Mal? Apa nggak ada pertanyaan lain? Harusnya tanpa kamu tanya pun kamu udah tahu jawabannya," balas Selin terdengar menusuk. Ada nada kecewa yang begitu kentara dari setiap dia mengeluarkan kata.
"Maaf," ucap Jamal penuh sesal. "Setelah ini, kita kemana, Non? main dulu atau langsung pulang?"
"Kita main aja dulu, bisa jadi setelah ini, kita akan terpisah, Mal," jawab Selin terdengar sangat getir bagi keduanya.
"Baiklah."
"Kita cegat mereka dimana?" tanya si kepala plontos begitu mobil mereka sudah melaju dan mengikuti target.
"Tunggu saja saat ada kawasan sepi. Kita langsung bergerak."
__ADS_1
"Oke."
Mobil yang dikendarai Jamal masuk ke kawasan Mall, mereka memarkirkan mobilnya di parkir bawah tanah di bawah Mall. Begitu juga mobil yang dikendarai dua orang tersebut. Beruntung saat mereka sampai, Jamal dan Selin sudah turun dari mobil dan beranjak menuju pintu masuk.
"Kita tunggu aja disini, pasti nanti saat mereka keluar, tempat ini sepi," ucap pria yang berambut agak grondrong.
"Baiklah."
Sementara di dalam Mall, Jamal dan Selin memilih berada di wahana aneka permaianan. Berbagai permainan seru mereka coba, dan jika diperhatikan mereka seperti sepasang kekasih yang sedang kencan.
Mereka saling tanding, saling ejek, saling curang, dan tentunya saling tertawa. Mereka juga tidak segan bergandengan tangan dan bersikap mesra di dalam keramaian tersebut. Mereka sangat menikmati momen yang bisa saja ini adalah momen kebersaman terakhir mereka sebelum mereka jujur pada Tuan Gustavo.
Puas mencoba beragam permainan, tempat kedua yang mereka pilih untuk menghabiskan waktu bersama adalah bioskop. Mereka memilih sebuah film romantis. Tentu saja, kebanyakan film romantis dari negara barat pasti ada saja adegan yang membuat gerah penonton.
Begitu juga yang dirasakan Selin dan Jamal. Berhubung tempat duduk yang mereka pilih adalah tempat duduk paling ujung dan pojok, mereka pun menyalurkan rasa gerah mereka lewat perang bibir. Dan perang bibir itu tak kalah panas dengan film yang sedang mereka tonton.
Beberapa puluh menit kemudian film pun usai. Kini waktunya dua anak manusia itu pulang untuk melaksanakan rencana mereka.
Saat mereka sampai di tempat parkir mobil, tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara. "Jangan bergerak atau pisau ini akan tembus ke perutmu."
__ADS_1
Jamal terperangah. Dia menoleh ke sisi mobil yang lain dan matanya melihat Selin sedang di bekap mulutnya.
...@@@@@@...