TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 69 (Iqbal)


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Karin tergugu di atas ranjang. Sungguh dia tak habis pikir dengan sikap Mamihnya. Segitu tidak percayanya, Amanda sampai mendatangi kampus anaknya. Benar benar pengaruh Belinda dan Aleta sangat kuat hingga orang tuanya berubah sikapnya sebesar itu.


Seandainya dia mampu, Karin ingin lari ke kamar Iqbal dan menumpahkan tangisnya di sana. Setidaknya saat ini, satu satunya orang yang bisa membuatnya tenang adalah Iqbal. Satu satunya orang yang percaya dengan dirinya saat ini.


Sementara di kamar lain, kedua kakak Karin malah sedang asyik menertawakan pertengkaran Mamih dan adiknya.


"Mampus, emang enak nggak dipercaya!" umpat Belinda dan keduanya terbahak.


"Sepertinya kita terlalu kejam deh, Bel sama Karin," ucap Aleta di sela sela tertawanya.


"Bodo amat. Salah sendiri orang tua kita nggak percaya sama kita, biar adil dong. Masa Karin doang yang di percaya, enak di dia nggak enak di kita," balas Belinda dengan tenangnya. Mereka pun kembali terbahak bersama.


Setelah puas menertawakan keadaan sang adik, keduanya saling terdiam dengan ponsel masing masing. Meski mata mereka menatap layar ponsel, namun pikirannya justru tertuju pada Iqbal. Entah kenapa keduanya menjadi terobsesi dengan supir barunya. Apalagi penampilan Iqbal saat ini begitu memukau. Semakin gelisahnya mereka dibuatnya.


Aleta memilih beranjak ke kamarnya. Dalam mulutnya dia ingin istirahat di kamarnya namun dalam hatinya, Aleta ingin fokus mencari cara menjerat supir yang sekarang menjadi idamannya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Aleta pun langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terlalu seksi dan tentu saja dia sengaja tidak menggunakan segita bermuda. Dia ingin memamerkan keindahan tersembunyi yang selalu dia banggakan.


Di kamar sebelah, tepatnya di kamar Belinda, wanita itu juga sedang merencanakan hal yang sama dengan Aleta. Memakai pakaian mini tanpa kain pelapis di dalamnya.


Kini keduanya menunggu waktu sambil mencari alasan yang tepat agar bisa berduaan dengan Iqbal. Mereka harus benar benar mencari waktu yang aman terutama dari kedua orang tuanya.


Di dalam kamar yang lain, Amanda juga sedang dibuat resah setelah pertengkarannya dengan sang anak. Pikirannya berputar putar ke semua masalah yang menyebabkan hubungan dengan anaknya merenggang. Tapi entah kenapa untuk percaya lagi terasa begitu sulit.


"Mamih kenapa?" tanya Martin, begitu dia masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri duduk melamun di tepi ranjang.


Amanda menoleh dan menatap sang suami yang baru saja pulang kerja. Dihela nafasnya yang terasa berat.


Martin menatap istrinya sebentar kemudian mulai melepaskan dasi dan jas kerjanya.


"Gimana ceritanya?" tanya Martin sembari melepas kancing bajunya satu persatu. Sedangkan Amanda mulai menceritakan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu sebelum Martin pulang.

__ADS_1


Sang suami mendengar dengan seksama curahan hati istrinya. Mungkin benar mereka keterlaluan sikapnya kepada anak bungsunya.Tapi mereka beralasaan agar anaknya yang satu ini tidak salah jalan tanpa mereka tahu sebenarnya apa yang terjadi adalah ulah kedua anaknya yang lain.


"Ya sabar aja lah, Mih. Suatu saat nanti pasti Karin mengerti. Kita bersikap seperti ini untuk kebaikannya. Apa Mamih sudah tanyakan sama supir?" tanya Martin sembari duduk disamping istrinya.


"Belum, tapi mamih tahu kalau tanya sama Iqbal, itu anak selalu terlihat jujur, Pih. Makanya mamih nggak tanya."


"Semoga aja Iqbal benar benar jujur, Mih. Biar kita bisa kembali percaya sama anak kita," Amanda hanya mengangguk dengan perasaan yang berkecamuk.


Waktu pun terus berputar hingga tiba saatnya keluarga Martin makan malam. Di sekeliling meja makan hanya Karin yang tak terlihat. Mbak Inah melaporkan kalau Karin tidak ingin makan katanya masih kenyang. Ketika Iqbal di panggil, katanya Karin sempat mampir ke taman dan makan jajan disana. Jawaban jujur Iqbal membuat perasaan Amanda sedikit lega. Bahkan Iqbal diberi tugas tambahan agar selalu mengajak Karin makan di luar.


Setelah jam makan usai, kini semunya kembali ke kamarnya masing masing hingga tak terasa waktu beranjak menuju malam.


Di kamar masing masing, Aleta dan Belinda sedang bersiap siap untuk menarik perhatian sang supir. Dengan pakaian minim yang mereka kenakan ditambah bau parfum yang menghanyutkan, cukup menjadi modal buat menggoda dan meluluhkan pertahanan Iqbal. Mereka yakin Iqbal akan jatuh ke dalam pelukannya malam ini.


"Saatnya beraksi, Iqbal, aku akan membuat kamu melayang di atas awan." gumam Belinda.

__ADS_1


"Iqbal, malam ini aku pasrahkan diriku kepadamu, kamu tak menolakkan?" gumam Aleta.


...@@@@@...


__ADS_2