TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 194


__ADS_3

Dari dalam mobil, Iqbal menunggu dengan gelisah. Pasalnya sudah cukup lama di dalam restoran, Karin tidak kunjung keluar. Meski mobil yang dikendarai Karin masih bertengger manis di tempat parkir, nyatanya, tidak mampu membuat Iqbal merasa tenang. Pemuda itu semakin gelisah saat pesan yang dia kirim belum dibalas oleh wanita yang menunggunya.


Sedangkan di salah satu meja restoran, Karin beserta dua kakaknya sekaligus dua pria yang baru dia temui baru saja menghabiskan makanannya. Karin sendiri merasa tak nyaman dengan adanya dua pria yang mendadak ikut bergabung bersama mereka untuk rekreasi ke puncak. Apalagi pandangan Candra dan Rio yang terkesan nakal, membuat Karin semakin tak nyaman berada diantara mereka.


Seandainya bisa, Karin lebih baik memilih pulang. Tapi dia tidak mampu melakukannya. Dia tidak enak dengan Belinda dan Aleta yang katanya sangat kesusahan meminta ijin pada Mami dan Papi, agar mereka bisa pergi bertiga. Menurut Karin, harusnya mereka pergi bertiga, tapi kenapa di tengah jalan, Belinda malah ngajak dua pria untuk bergabung? Sungguh ini sangat aneh dimata Karin.


Karin ingin protes, tapi pasti kedua kakaknya bilang yang tidak tidak. Bilang orang tua pun Karin mana berani. Sungguh, Karin merasa hambar dengan keakraban empat orang di sekitarnya.


Sikap Belinda dan Aleta dengan dua cowok itu juga terkesan genit dimata Karin. Apalagi lihat gerak gerik Rio dan Belinda. Seperti orang yang sangat akrab. Dengan entengnya Rio menaruh telapak tangannya di paha Belinda dan mengusapnya beberapa kali.


Karin akui, Rio dan Candra pemuda yang tampan. Bahkan, Candra yang memakai kaos tanpa lengan, nampak keren dengan memamerkan tato yang tersebar di beberapa bagian tubuhnya. Mungkin itu yang menyebabkan Aleta berusaha nempel terus pada pemuda itu.


"Bel, aku ke toilet dulu, yah?" pamit Karin.


"Oh iya, jangan lama lama, bentar lagi kita berangkat," balas Belinda. Karin hanya mengangguk kemudian dia beranjak menuju toilet.


"Apa dia, yang akan kita kerjain, Bel?" tanya Rio begitu tubuh Karin hilang di ruang toilet.

__ADS_1


"Iya, kalian bisa, kan?" ucap Belinda.


"Ya elah tugas mudah, Bel. Aku sama Candra, sanggup lah," balas Rio yakin.


"Bagus lah ... tenang saja, aku sudah siapin obat tidur kok."


"sip!"


Sementara Iqbal dan Karin merasa lega. Diam diam di dalam toilet, Karin sengaja manguhubungi Iqbal lewat telefon. Mereka senang karena mereka masih dekat satu sama lain. Iqbal juga terkejut saat mendengar ada laki laki yang ikut mereka. Walapun katanya mendadak, tapi tetap saja bagi Iqbal itu sangat mencurigakan. Setelah puas berkirim kabar, Karin segera keluar dari Toilet.


"Sudah?" tanya Belinda. Karin mengangguk. "Ya udah yuk, kita berangkat. Takut macet nanti."


Mereka melanjutkan perjalanannya dan Iqbal juga masih setia mengikuti mereka. Mungkin karena ini bukan akhir pekan, jadi jalanan menuju puncak tidak sampai macet, meski sangat ramai.


Tak lama kemudian, saat hari mulai petang, mereka pun telah sampai di tempat tujuan. Mobil yang ditunggangi Karin pun memasuki sebuah bangunan. Mungkin itu adalah Villa milik keluarga. Begitu juga mobil yang dikendarai Rio, masuk ke dalam bangunan yang sama. Sedangkan Iqbal dia harus memutar otak mencari cara agar bisa masuk ke dalam Villa tersebut.


Di samping Villa ada tanah kosong mirip kebun, dan sepertinya bisa untuk memarkirkan mobil. Iqbal menaruh mobil disana. Setelah mengamankan mobil, Iqbal bergerak mengendap menuju gerbang. Beruntung, gerbang tidak terkunci. Iqbal menyelinap masuk dan bergerak dengan waspada. Tempat yang remang remang dan banyaknya tumbuhan di halaman, membuat pergerakan Iqbal terlihat aman.

__ADS_1


Iqbal menuju samping rumah dan untuk sementara dia bersembunyi disana. Terdengar dari suaranya. Kalau mereka ada di dalam.


"Rio, Candra, tolong dong, bawa peralatan ini ke halaman belakang. Biar nanti makanannya, kita yang bawa nanti, aku mau mau mandi dulu ya," pinta Belinda.


"Siap."


Dua pria itu pun menjalankan perintah Belinda, sedangkan ketiga wanita pergi ke kamarnya masing masing guna membersihkan diri. Iqbal yang mendengar ada suara dari belakang pun sontak mengendap ke arah sana.


"Ri, obat perangsangnya di bawa kan?"


"Bawa dong, nih disaku."


"Sip! Pokoknya malam ini kita harus bisa garap tiga cewek itu sampai pagi."


"Beres! Hahaha ..."


Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengar rencana mereka dengan wajah terkejut.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2