
"Siapa yang memberi tahu berita seperti ini?" Tanya Karin dengan bibir yang bergetar. Iqbal pun sama bingungnya. Dia benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Yang pasti saat ini dia harus pulang. Karin masih menatap layar ponsel Jamal dan membaca pesan itu berulang kali.
Kedua anak manusia itu terdiam dengan pikiran yang sangat berkecamuk. Mereka tidak menyangka kalau keluarga Iqbal tahu secepat ini mengenai perbuatan mereka.
"Sepertinya kakak kamu sangat marah, sampai dia ngomong sekasar ini, Bal," ucap Karin pelan. Ada rasa takut dalam benak wanita itu. Dia takut, keluarga Iqbal berpikir buruk dengan dirinya. Meski pada kenyataannya, itu memang kelakuan buruk mereka berdua. Bahkan ada rasa nyeri dalam hatinya saat mereka dikatakan kumpul kebo.
"Apa Belinda dan Aleta yang melaporkan keadaanku di sini?" terka Ibqal. Wajar jika dia berpikir mereka berdua yang melakukannya karena Iqbal merasa cukup tahu, bagaimana sikap kedua kakak Karin itu.
"Kayaknya nggak mungkin deh, Bal? Dari mana mereka tahu nomer kakak kamu?" ucap Karin merasa ragu. Meskipun bisa saja ini ulah mereka meskipun mereka telah meminta maaf. Tapi Karin merasa, Belinda dan Aleta semalam tulus meminta maaf darinya.
"Terus siapa kalau bukan mereka? Bukankah mereka akalnya banyak? Lihat terakhir apa yang mereka lakukan? Awalnya mereka juga sudah minta maaf kan? Nyatanya!" ucap Iqbal dengan nada lumayan meninggi. Nampak sekali kalau dia emosi.
"Ya kamu nggak perlu bentak bentak aku kaya gitu dong, Bal? Emangnya aku tahu bakalan kayak gini? Kok malah aku yang dipojokin!" ucap Karin terdengar kesal. Dia bahkan langsung berdiri dan memakai pakaiannya.
Iqbal yang pikirannya sedang kacau terkejut dengan ucapan Karin. "Bukan gitu maksud aku," ucap Iqbal merasa bersalah. Dia mau mencegah Karin pergi, tapi wanita itu malah menepis tangannya dan langsung beranjak keluar dari kamar Iqbal. "Arrrgggh!" Iqbal mengacak rambutnya sendiri karena terlalu frustasi.
Iqbal memilih ke kamar mandi dan membersihkan badannya. Dia harus pulang saat ini. Dia tidak mau orang tuanya semakin murka karena ulah dirinya sudah diluar batas.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, Iqbal bergegas memakai pakaian dan merapikan pakaian yang akan dia bawa pulang. Tas Iqbal lumayan gede jadi tidak perlu tambahan dus untuk mengemas pakaiannya.
"Non! Non Karin!" teriak Iqbal beberapa saat setelah barangnya semua beres dan kini saatnya dia pulang. Sambil menunggu ojek online, dia hendak berpamitan dulu dengan wanitanya.
Tapi aneh, pintu kamar Karin terkunci dan tak ada sahutan dari dalam. "Apa Karin benar benar marah?" gumam Iqbal. Dia terus berusaha mengetuk pintu. Hingga akhirnya ojol yang akan membawanya ke terminal telah datang.
Iqbal akhirnya menyerah. Dia pamit dan minta maaf lewat pesan chat, kemudian Iqbal berangkat ke terminal. Iqbal ingin segera menyelesaikan masalah yang dia buat.
Sesampainya di terminal, Iqbal terkejut saat melihat sahabatnya ada disana juga. Setelah saling sapa dan saling cerita, teman Iqbal yang bernama Rizal itu juga mau pulang. Mereka tidak menyangka kalau tujuan mereka pulang yaitu sama sama mau meluruskan masalah dengan orang tua mereka mengenai hubungan mereka dengan majikannya masing masing.
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya bis yang ditumpangi Iqbal dan Rizal berangkat juga. Mereka duduk bersama sambil terus ngobrol dan berbagi ceritanya.
"Nggak tahu juga sih, Bal. Gara gara kita sibuk masing masing, jadi gini, nggak tahu kabar teman sendiri."
"Hahaha ... Padahal mabar tiap hari, bisa bisanya saling nggak tahu kabar."
Rizal sontak ikut tertawa. Selama bekerja, mereka memang jarang cerita masalah pribadi lewat chat selain main game bareng.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, tanpa sepengetahuan Iqbal, Karin pulang ke rumah dalam keadaan sangat marah.
"Non Karin!" pekik Mbak Inah, asisten rumah tanngga di kediaman Karin. "Non Karin pulang?"
"Mbak, Belinda sama Aleta mana?" tanya Karin dengan wajah terlihat sangat emosi. Mbak Inah merasa bingung dan aneh dengan sikap Karin yang sepertinya sedang marah.
Sebelum Mbak Inah menjawab, kedua wanita yang Karin cari terlihat sedang menuruni anak tangga.
"Loh! Karin!" pekik Aleta. "Kamu pulang?" tanya Aleta lagi dengan santai.
"Apa yang kalian laporkan tentang kami ke keluarga Iqbal?" tanya Karin dingin. Aleta tercengang mendengar pertnyaan Karin, begitu juga dengan Belinda.
"Keluarga Iqbal? laporan apaan?" tanya Belinda bingung.
"Nggak usah pura pura nggak tahu deh! Kalian kan yang laporan ke orang tua Iqbal kalau aku sama Iqbal pasangan kumpul kebo!"
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@@...