
"Tadi kedua kakakku ribut karena rebutan kamu, Bal."
Sontak saja Iqbal tertegun. Dia melirik Non Karin memalui kaca spion. Tapi Karin lagi menghadap ke arah luar. Iqbal kembali memandang ke arah depan.
"Rebutan aku, Non?" tanya Iqbal memastikan. Karin pun mengiyakan." Kenapa bisa jadi berebut, Non?"
Karin menghembus kasar nafanya kemudian berpaling menatap Iqbal dengan tatapan sebal. "Mungkin benar kata kamu. Kamu menarik banyak wanita, jadi kakak kakakku tertarik sama kamu."
Seketika Iqbal pun terbahak. Dia tidak menyangka kebohongan yang satu itu masih Karin ingat. Sedangkan di jok belakang, Karin hanya mendengus melihat Iqbal tertawa tanpa dosa.
"Tapi ya nggak mungkin lah, Non. Masa mereka tertarik sama supir? Mereka anak orang kaya dan cantik cantik. Nggak mungkin seleranya supir," ucap Iqbal penuh keyakinan.
"Kalau nyatanya emang mereka tertarik sama kamu ya nggak apa apa dong, Bal. Lumayan kan dapat rejeki?"
"Tahu ah, Non."
Mendengar Iqbal yang sepertinya mulai kesal, Karin pu menyunggingkan senyumnya. Dan tak lama kemudian sampai lah mobil itu di area parkir kampus.
"Aku masuk dulu, Bal?"
__ADS_1
"Siap, Non!"
Karin pun berjalan cepat memasuki tempat kuliahnya. Dalam perjalanannya, Karin sebenarnya agak panik saat tahu kedua kakaknya ribut di pagi hari hanya gara gara menginginkan Iqbal. Benak Karin pun bertanya tanya, apa maksud kedua kakaknya berebut Iqbal? Apa mereka sedang bersandiwara untuk menjerat Iqbal agar ikut membantu mereka menfitnah Karin? Atau ada hal lain yang sedang mereka rencanakan? Sungguh ini tidak bisa dibiarkan terjadi. Karin takut jika Iqbal berada di pihak Kedua kakaknya, maka dia yakin tidak ada orang yang akan percaya lagi di rumah itu. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Karin harus mempertahankan Iqbal bersamanya.
Sementara di area parkir, Iqbal juga sedang memikirkan ucapan Karin mengenai kakaknya. Pikiran Iqbal pun berkelana kemana mana. Bagaimana mungkin dia diperebutkan dua wanita cantik. Dan parahnya dua wanita itu adalah kakak beradik di tempat dirinya bekerja. Entah ini anugerah atau musibah, yang pasti Iqbal merasa bangga. Karena ini adalah hal nyata yang sering dia impikan. Menjadi rebutan wanita wanita cantik.
Waktu terus berputar dan melaju. Tak terasa waktu kuliah pun telah usai. Karin berjalan pelan bersama dua temannya.
"Rin, kapan kita jalan bareng lagi? Sudah lama banget kita nggak belanja bareng?" tanya salah satu teman Karin.
Aku sendiri nggak tahu, Nik. Keadaanku sekarang benar benar berubah." keluh Karin.
Karin sendiri juga sangat menyayangkan. Namun bagaimana lagi, orang tuanya bakalan tidak percaya sama sekali. Pasti yang ada Karin bakalan dilarang pergi. Apa lagi pergi ke pesta. Sudah dipastikan tidak akan dapat ijin.
"Supir kamu ganteng banget, Rin. Dapat dari mana?" tanya teman Karin yang bernama Monik. Mereka kini sedang menuju area parkir dan Iqbal yang berdiri bersandar di samping mobil, nampak keren dengan gaya santainya seperti sedang pengambilan gambar.
"Lumayan lah, aku juga nggak nyangka dapat supir kayak dia." balas Karin sambil menatap Iqbal yang sedang menunduk menatap sepatunya.
"Coba sih dibaawa ke salon, Rin. di make over. Pasti pesonanya makin keluar tuh." Usul teman yang satunya.
__ADS_1
Dahi Karin mengernyit. Usulan temannya memang ada benarnya. Karin pun tersenyum dan menyetujui ide temannya itu.
Sementara di kediaman Tuan Martin, kedua kakak Karin masih saja ribut. Dua orang yang biasanya terlihat akur, tapi hari ini malah ribut hanya karena sang supir. Dilihat dari tingkah mereka, sepertinya mereka mendadak terobsesi pada Iqbal hanya karena tubuh pria itu sangat bagus dan membuat hasrat mereka meronta.
"Harusnya kamu tuh ngalah sama aku! Aku tuh anak paling tua disini, maka aku yang lebih berhak memakai Iqbal!" sungut Belinda berapi api pada sang adik lantai atas.
"Nggak bisa gitu dong. Iqbal tuh yang gaji Papih. Berarti itu tandanya Iqbal milik bersama termasuk aku. Dan Iqbal lebih cocok jika bersamaku." ucap Aleta sedikit santai meski awalnya juga berapi api.
"Jangan ngarang! Cocok darimananya? Dari mimpimu?" cibir Belinda.
"Loh, justru kan semua berawal dari mimpi, Bel. Dan aku yakin mimpi aku bersama Iqbal akan menjadi nyata."
Mendengar ucapan Aleta, membuat Belinda semakin geram. "Gini aja deh kita taruhan?"
"Taruhan? Taruhan gimana?"
"Siapa yang pertama kali berhasil ngajak Iqbal main, berarti dia yang berhak bersama Iqbal, gimana?"
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@@...