TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 54 (Jamal)


__ADS_3

Senyum merekah terkembang dari bibir manis Jamal yang terpaku di atas kursi supirnya. Ucapan maaf yang terlontar dari bibir Selin cukup mengejutkan Jamal di pagi ini. Bahkan dia sampai terdiam tak bisa berkata apa apa karena rasa terkejut yang masih tertancap pada dirinya. Jamal baru tersadar saat Selin sudah keluar dari mobil dan meninggalkannya masuk ke area kampus.


Jamal pikir dalam renungannya semalam, hari ini dia akan dipecat. Sungguh hal yang sangat menakutkan jika itu benar benar terjadi. Dia membutuhkan pekerjaan ini. Apalagi keadaan orang tuanya di kampung sedang tidak baik baik saja.


Dengan kata maaf yang terlontar dari bibir Selin, membuat beban di hati Jamal seakan berkurang begitu banyak hingga dia bisa bernafas dengan sangat leganya. Mungkin Jamal harus bersiap diri jika nanti Selin meminta penjelasan Jamal tentang dirinya dengan Sandra, mamah Selin.


Selin meminta maaf bukan karena tanpa alasan. Semalam Mbok Sum setelah menemui Jamal, ternyata wanita paruh baya itu mendatangi kamar Selin dan menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dan dalam hal ini, Jamal tidak salah karena dia hanya menghormati Sandra sebagai orang tuanya Selin.


Bahkan Selin juga kaget saat dia tahu kenyataan kalau Jamal mendapat bermacam macam penawaran dari Sandra. Selin tak percaya, Mamahnya akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Kecewa dan sedih sudah pasti Selin rasakan saat ini. Kenapa sang mamah berubah mengerikan seperti itu? Apa sebabnya mamah jadi seperti itu? Selin sungguh tak percaya mendengarnya. Tapi kenyataannya, apa yang Selin dengar dari Mbok Sum itulah kenyataan yang harus Selin telan dengan susah.


Hingga di dalam kampusnya Selin pun masih memikirkan kelakuan mamahnya. Dia bahkan mempunyai niat akan menemui sang ayah di kantornya.


Sebenarnya Selin ingin menceritakan masalah ini ke papahnya tadi pagi, namun dia mengurungkannya karena sang papah terlihat terburu buru berangkat kantor. Jadi Selin mengurungkan niatnya dan memilih bicara nanti saja di kantor sang papah. Selin yakin papah pasti akan terkejut dengan berita yang akan dia sampaikan.


Waktu terus bergerak maju. Tak terasa jam kuliah pun selesai. Selin terlihat berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir.

__ADS_1


"Sudah selesai, Non?" tanya Jamal canggung. Dadanya berdegup kencang.


"Sudah," jawab Selin cepat. Dia juga merasa canggung.


"Non Selin mau langsung pulang atau ... "


"Tidak, antar aku ke kantor papah. Ada yang ingin aku sampaikan." jawab Selin cepat menotong ucapan Jamal.


"Baik, Non."


Jamal langsung menyalakan mesin mobilnya. Tak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan area parkir kampus menembus jalan raya, menuju tempat berikutnya.


Tak butuh waktu yang terlalu lama, mobil pun telah sampai ke area kantor Gustavo. Selin minta di turunkan di depan pintu utama dan Jamal akan menunggunya di tempat parkir khusus karyawan.


Karena semua karyawan sudah mengenal anak bosnya, Selin pun melangkah dengan santainya. Sesekali dia pun tersenyum dan membalas sapaan para karyawan hingga dia masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke ruang kerja sang papah.

__ADS_1


Sesampainya di ruang sang papah, Selin terkejut. Telinganya mendengar pentengkaran dari dua orang yang suaranya sangat dia kenal. Selin melihat meja sekretaris namun tak ada orang disana. Selin pun sangat penasaran, apa yang terjadi di dalam kantor papahnya.


Selin perlahan membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat matanya memandang apa yang terjadi di dalam.


Gustavo tidak memakai baju berdiri di samping wanita yang nyaris tanpa busana sembari duduk berjongkok dan sang mamah sedang berkacak pinggang dengan mata penuh kilatan amarah.


"Papah!" pekik Selin dengan suara lantang. Sontak saja ketiga orang yang bersitegang tersebut menoleh dan mata mereka langsung membelalak.


"Selin!" pekik Gustavo dengan sangat terkejut.


"Ini ada apa, Pah? Apa yang terjadi?" tanya Selin dengan pikiran yang berkecamuk.


"Bagus kamu datang Selin. Sekarang kamu bisa lihat sendiri kelakuan papah kamu. Bahkan dalam kantor pun, dia berani berhubungan dengan sekretarisnya." ucap Sandra lantang. "Selama ini kamu pikir mamah yang selalu kotor, sekarang kamu lihat kan? betapa kotornya papah kamu?" ucap Sandra begitu lantang meluapkan amarahnya.


"Pah, ini nggak benar kan? papah nggak pernah selingkuh kan?" tanya Selin berharap apa yang dia pikirkan itu benar. Namun Gustavo terdiam, dia hanya memandang nanar ke arah anaknya.

__ADS_1


Diamnya Gustavo membuat Selin yakin kalau papahnya juga sangat buruk.


"Kalian berdua benar benar keterlaluan!"


__ADS_2