TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 149


__ADS_3

Dugh!


"Aduh!" pekik seseorang sembari mengusap lengannya dan menunduk mengambil belanjaannya yang tejatuh.


"Waduh! Maaf, Mbak, nggak sengaja," ucap seorang pria yang juga mengusap lengannya kemudian membantu membereskan belanjaan orang tersebut. Mata mereka pun saling bertatapan.


"Wah, ganteng juga," gumam si Wanita dalam hati.


"Wah, cantik nih, lumayan buat gebetan," gumam si pria.


"Aduh, Mas, nggak usah repot repot, nggak apa apa kok," ucap si wanita sambil berjongkok membereskan barang belanjaan yang tak seberapa banyak sebenarnya.


"Nggak apa apa, aku yang salah kok, jalan nggak lihat lihat," ucap si pria. Mereka saling melempar senyum. Si pria memasukan barang belanjaan si wanita berupa lingerie serta pakaian seksi lainnya yang biasa digunakan wanita. Setelah semuanya beres dan masuk ke dalam godie bag, mereka bangkit dan berdiri secara bersamaan.


"Gimana lengannya? Sakit?" tanya si pria denga wajah menunjukkan kekhawatiran.


"Enggak apa apa kok, Mas. Baik baik saja," jawab si wanita sambil mengusap lengan yang tadi ditabrak si pria.


"Gara gara nggak fokus, jalan begitu lebar aja malah nabrak, dasar bodoh," rutuk si pria menghina dirinya sendiri. Tapi sikap pria itu berhasil membuat si wanita malah tersenyum bahkan terkekeh pelan.


"Bisa aja kamu, Mas," ucap si wanita sambil tersenyum lebar. si pria pun ikutan terkekeh.

__ADS_1


"Hehehe ... sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau aku belikan kopi di sana? Kalau Mbak cantik nggak keberatan sih?" gombal si pria sambil menunjuk ke sebuah caffe yang ada di dalam mall tersebut.


"Apa nggak ngrepotin? Nanti ada yang marah loh," ucap si wanita.


"Yang marah paling emak saya, karena membiarkan wanita cantik sendirian disini, apa lagi wanita itu habis aku tabrak," ucap si pria dan lagi lagi sukses membuat wajah si wanita bersemu merah.


"Bisa aja gombalnya, mentang mentang ganteng, okeh deh aku terima permintaan maaf kamu, tapi tunggu sebentar soalnya aku lagi nungguin saudaraku di toilet, gimana?" ucap Si wanita.


"Baiklah, akan aku temani."


Dan pada akhirnya mereka pun saling mengenalkan diri, si pria bernama Rio dan si wanita bernama Belinda itu malah terlihat akrab meski baru ketemu. Entah apa yang mereka bicarakan hingga seseoang yang Belinda tunggu akhirnya datang juga. Dia adalah Aleta adiknya Belinda.


"Kamu ke toilet ngapain aja sih? Lama amat?" sungut Belinda begitu Aleta berhenti tepat di sisinya.


"Oh, kenalin ini, Rio," ucap Belinda. "Kenalin Rio adik aku, Aleta."


"Gila! Kakak adik kenapa cantik cantik banget?" puji Rio sembari menjabat tangan Aleta yang terulur. "Berhubung yang ditunggu sudah datang, gimana kalau kita langsung kesana?"


"Loh? Bukannya kita mau pulang, Bel?" tanya Aleta bingung.


"Entarlah, masih siang ini," ucap Belinda. "Ayok."

__ADS_1


Akhirnya Aleta mengikuti langkah Belinda dan Rio dengan pasrah. Meski dia masih bingung kenapa ada pria bernama Rio, tapi Aleta memilih diam dan bertanya nanti saja.


Sementara itu di tempat lain, Jamal dan Selin nampak sedang menikmati bakso di pinggir jalan. Selin baru saja keluar dari kampusnya, sebelum kembali ke apartemen, mereka menyempatkan diri mampir di warung bakso saat mobil yang dikendarai mereka melewati jalan dimana ada warung bakso tersebut.


"Habis makan bakso kita langsung pulang atau kemana, Non?" tanya Jamal setelah memasukan bakso berukuran kecil ke dalam mulut dan mengunyahnya.


"Enaknya kemana yah? Kalau langsung ke apartemen, baru jam segini," balas Selin sembari memotong bakso yang berukuran besar menjadi kecil kecil.


"Aku sendiri nggak ada ide, Non. Kalau Non ada ide, ngomong aja," balas Jamal dan Selin hanya mengangguk. Mereka pun kembali fokus dengan bakso di hadapan mereka tanpa membahas apapun lagi.


Hingga tak lama kemudian acara makan bakso pun usai. Setelah itu mobil kembali melaju tak tentu arah.


"Non?" panggil Jamal pelan.


"Hum," sahut Selin.


"Kapan Non Selin damai dengan Tuan? Kasian Tuan, Non?" tanya Jamal pelan. Pertanyaan seperti ini memang sering Jamal lontarkan. Biar bagaimanapun Jamal merasa punya tugas untuk mendamaikan ayah dan anak tersebut.


"Entah, Mal," jawab Selin singkat dan lemah. Dia juga sebenarnya rindu dengan sosok ayahnya. Tapi dia masih merasa kecewa saja dengan kenyataan masa lalu Selin.


Saat kedua manusia itu larut dalam pikiran masing masing, ponsel Selin berbunyi bertanda ada pesan masuk. Selin pun langsung mengambil ponsel dalam tasnya. Dan mata Selin membelalak saat melihat isi pesan tersebut.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2