
Matahari belum terlalu tinggi, hari pun belum terlalu panas dan orang orang juga masih dalam persiapan untuk melakukan aktifitasnya. Namun di salah satu halaman sebuah Villa malah ada pemandangan yang berbeda.
Dua anak manusia terkapar di atas karpet lembut nan mahal, menghadap matahari tanpa ada kain yang menempel satupun di tubuh mereka, setelah selesai melakukan nikmatnya berbagi keringat dalam penyatuan alat kenikmatan yang mereka miliki. Dialah Rizal dan Miranda, seorang supir dan majikannya yang baru merasakan nikmatnya gejolak duniawi.
"Non," panggil Rizal tanpa menoleh. Tatapannya lurus ke arah langit yang biru.
"Hum," balas Miranda dengan tatapan yang sama.
"Maaf, ya? Aku kebablasan," sesalnya. "Aku telah merenggut sesuatu yang berharga milik Non Miranda."
Miranda menoleh ke arah Rizal dan mengulas senyum kemudian dia bergeser mendekat terus melayangkan bibirnya di pipi Rizal dengan penuh perasaan. Setelah itu mereka pun saling tatap.
"Jangan minta maaf, aku suka kok, Zal, aku suka kamu menikmati mahkotaku," Rizal terhenyak kemudian dia pun tersenyum. Miranda kembali menempelkan bibirnya. Namun kali ini bibir Rizal yang ditempelin.
"Non beneran nggak marah? Aku telah merusak mahkota Non Miranda?" tanya Rizal sekali lagi. Sebelum menjawab, Miranda meletakkan kepalanya di dada Rizal dengan tubuh melintang menghadap wajah supirnya.
"Kalau marah, aku sudah pecat kamu, Zal. Gimana? Enak nggak punyaku?" tanya Miranda sambil meraih salah satu telapak tangan Rizal dan meletakkan tangan itu di dada Miranda.
"Enak banget, Non. Sempit banget punya Non Miranda, mungkin itu yang dinamakan nikmatnya surga," jawab Rizal sambil memijit bukit kembar milik majikannya. "Eh kalau punya Non Miranda mahkotanya masih utuh, berarti Non Miranda dengan Tuan Tomi belum pernah melakukannya apa?"
"Dia nggak doyan perempuan, Zal,"
__ADS_1
"Sayang sekali ya, Non. Padahal Non Miranda cantik banget," balas Rizal.
"Kamu udah tahu kalau Tomi menyimpang, Zal?" tanya Miranda sembari menikmati pijatan lembut tangan Rizal di dua benda kembar miliknya dan Rizal pun mengaku kalau dia pernah melihat Tuan Tomi dan tamunya bermain di ruang tengah.
"Waktu pertama ketemu Tuan Tomi juga aku merasa aneh, Non," sambung Rizal.
"Makanya, kamu hati hati. Jangan mau menerima tawaran apapun yang Tomi berikan. Jangan kasih dia celah. Nanti kamu kejebak sendiri dan dia menuntut kamu untuk melakukan apapun kemauan dia. Kamu mau main sama laki laki?" ucap Miranda terang terangan.
"Enggak lah, Non. Ami amit," sanggah Rizal. "Enakan main sama Non Miranda."
"Tapi kamu waspada ya, Zal," Rizal pun mengiyakan. Kemudian mereka sejenak saling diam. Miranda terdiam sambil menikmati sentuhan lembut tangan Rizal di dadanya dan Rizal juga terdiam sambil menikmati bukit kembar milik Miranda.
"Tidur bareng? Nanti kalau khilaf lagi gimana, Non?"
"Ya nggak apa apa, emang kamu nggak mau mengulang kembali permainan kayak tadi?" tanya Miranda yang merasa heran dengan pertanyaan supirnya.
"Ya mau lah, Non," jawab Rizal antusias.
"Ya udah nanti kita sering sering aja main kayak gini," Rizal pun semakin terkejut mendengarnya.
"Beneran, Non? Kita akan sering main bareng?" Tanya Rizal dengan wajah berbinar dan dia semakin riang saat Miranda mengiyakannya.
__ADS_1
"Kamu gemesin banget sih, Zal," ucap Miranda dan dia langsung mendaratkan bibirnya berkali kali di pipi Rizal.
"Non, berarti aku kayak jadi perebut bini orang ya," ungkap Rizal dengan polosnya.
"Emang kenapa?" tanya Miranda gemas.
"Aku main sama Non Miranda di belakang Tuan Tomi, bukankah itu sama saja aku merebut istrinya orang?" terang Rizal. Miranda pun sontak terbahak. Saking gemasnya dia kembali mencium Rizal bertubi rubi.
"Udah, jangan terlalu dipikirin. Kita jalani aja apa adanya, Zal. Jangan membebani pikiranmu dengan bermacam macam hal buruk yang membuatmu nggak tenang, yah?" Rizal seketika mengangguk dan bibir mereka kembali bersatu.
"Non, kita main lagi, yuk?" ajak Rizal. " Tapi kita sarapan dulu, Non. Aku lapar."
Miranda pun tersenyum gemas. "ya udah, aku mau masuk ambil ponsel, kita pesan makanan. Kamu beresin ini, yah?"
"Siap, Yang Mulia!" Mereka pun saling melempar senyum kemudian bibir mereka bersatu dan setelahnya Miranda langsung beranjak mengambil ponselnya di kamar.
Betapa bahagianya Rizal saat ini. Dia tidak hanya mendapat kebaikan dari nona Miranda, tapi juga mendapatkan seluruh tubuhnya. Dengan semangat, dia membereskan tempat yang takkan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Karena di tempat itulah dia mulai merasakan nikmatnya wanita.
...@@@@@...
Gara gara kemarin edisi Jamal bermasalah, jadi satu bab edisi Jamal di limpahkan hari ini. nggak apa apa yah? Jadi mungkin hari ini akan up empat bab karena hari ini jatahnya Rizal. Selamat berdenyut ria ya.
__ADS_1