
Hening. Hanya itu yang menyelimuti suasana ruang kerja Gustavo. Hanya suara isak tangis dari tiga kepala yang menunduk. Isak tangis yang mewakili amarah, sakit hati dan penyesalan yang melebur jadi satu karena sebuah keadaan yang sungguh sangat menyakitkan.
Saat semuanya hanyut dalam pikiran masing masing, tiba tiba Selin bersuara, "Apa demi membalas papah, mamah memilih main gila dengan pria lain termasuk mamah main gila dengan Rio?"
Sandra mendongak dan menoleh ke arah Selin. Begitu juga Gustavo. Ditatapnya sang anak yang menuduk di hadapannya. Gustavo hanya bisa menatap tanpa bisa berkata apa apa.
Setelah menatap sang anak, mata Sandra beralih menatap jendela yang ada di sisi sofa yang dia duduki. "Apa Mamah salah mencari kesenangan di luar sana, Nak? Apa hanya Papah yang boleh mencari kesenangan lain? Sementara mamah di rumah mengurusmu, merawatmu. Sejak mamah diminta merawat anak kedua papahmu dengan wanita lain lagi, sejak itulah mamah sudah tidak percaya lagi sama papah kamu."
Selin semakin terdiam. Sekarang Selin mengerti alasan sikap dinginnya Mamah kepada Papah selama ini. Mungkin inilah sebabnya mamah memilih bekerja kembali begitu Selin remaja.
"Kenapa Mamah tidak minta cerai dari Papah? Kenapa mamah memilih sakit hati?" Pertanyaan Selin membuat Gustavo kembali menatap anaknya lekat lekat. Matanya nanar menatap sang anak yang sedang merasakan sakit dan kecewanya sang anak.
Sandra menghela nafasnya dalam dalam untuk meredam gemuruh yang bergejolak di dadanya. Kemudian dihembuskannya nafas itu perlahan. Jarinya mengusap airmata yang masih setia mengalir.
__ADS_1
"Semuanya mamah melakukannya demi kamu, Nak. Sungguh, meski kamu tidak lahir dari perut mamah, tapi mamah menyayangi kamu, Nak. Mamah terlanjur menyayangi anak yang tidak berdosa."
"Kalau Mamah menyayangi aku, kenapa mamah bermain gila dengan Rio? kenapa, Mah?" tanya Selin semakin terisak.
"Itulah satu kesalahan mamah kepadamu, Nak. Kesalahan besar yang membuat kamu membenci mamah. Tapi percayalah, Rio bukan laki laki yang baik, Nak. Pria yang suka selingkuh bukan pria yang baik." ucap Sandra dengan suara yang sedikit lebih tenang. Setelah meluapkan semua apa yang dia pendam selama ini. Bahkan Sandra merasa gemuruh hatinya sudah berkurang.
Selin yang sedari tadi menunduk, tiba tiba perlahan berdiri. Dengan gontai dia hendak melangkah. Namun tangan Gustavo menahannya.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Gustavo dengan raut wajah terlihat begitu sangat khawatir.
Sepeninggal Selin, Gustavo kembali bersitegang dengan Sandra. Entah apa yang mereka pikirkan.
Sesak. Itulah yang Selin rasakan saat ini. Dia benar benar frustasi dan tak tahu harus melakukan apa saat ini. Saking kacaunya bahkan Selin lupa kalau dia datang bersama Jamal. Selin keluar kantor menuju jalan raya kemudian dia memberhentikan taksi dan pergi tanpa tujuan.
__ADS_1
Sementara Jamal yang berada di tempat parkir sudah merasa bosan karena orang yang dia tunggu tidak juga turun dan datang serta mengajaknya pulang. Jamal hanya pasrah karena dia sadar ini adalah bagian dari tugasnya.
Namun setelah beberapa jam berlalu, Jamal semakin gusar karena Selin tak juga menampakan batang hidungnya.
Sementara di dalam kantornya, Gustavo nampak begitu kacau. Pikirannya melayang kepada semua kejadian yang dia alami. Dia sadar kalau selama ini dia yang bersalah, tapi nafsu menutupi mata hatinya. Gustavo pikir Sandra bertahan karena wanita itu sangat mencintai dia. Gustavo berpikir Sandra tidak akan pernah bisa hidup tanpa dia. Tapi kenyataan yang dia dengar, sungguh memukul telak relung hatinya.
Gustavo begitu marah saat mengetahui Sandra berhubungan dengan Rio. Bahkan dia memaki Sandra seenak mulutnya tanpa menyadari kalau dialah penyebab semua itu terjadi. Yang membuat Gustavo semakin terpukul, Sandra bertahan sama dia hanya karena Selin, bukan karena masih cinta kepadanya. Sungguh Gustavo benar benar di ambang dilema.
Gustavo mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Dia ingin tahu keadaan anaknya. Tapi Gustavo tidak mungkin menghubungi Selin langsung. Pasti Selin akan menolak panggilannya. Gustavo pun akhirnya mencari kontak supir barunya.
Kluntang kluntang kluntang.
Dering telfon yang lumayan keras, sontak mengagetkan Jamal yang sedang melamun. Segera dia meraih ponsel di sakunya. Tertera nama Tuan Gustavo di layar benda pipih tersebut. Jamal pun segera menggeser tombol hijau. Dan beberapa detik kemudian matanya membelalak.
__ADS_1
"Apa! Non Selin pergi dari tadi?"
...@@@@@...