
Waktu berjalan begitu cepat dan hari kini berganti lagi. Matahari sudah menampakan cahaya hangatnya di saat seorang pemuda bergerak pelan dan menggeliat dengan mata yang terpejam. Namun nampaknya mata terpejam itu sebentar lagi akan terbuka dengan terdengarnya suara lenguhan orang khas bangun tidur.
Pemuda yang sedang tertidur di ranjang berukusan besar dan super empuk itu perlahan mengerjap matanya. Dirabanya sisi ranjang yang lain dan dia tertegun karena tidak menemukan seseorang yang telah menemaninya tidur.
Dengan rasa kantuk yang tersisa dipelupuk mata, pria itu tersenyum manis. Pikirannya kembali teringat tentang kejadian terindah yang baru saja dia alami sejak kemarin dia tiba di Pulau Bali. Pemuda itu masih tidak menyangka mendapatkan sesuatu yang sangat spesial dari wanita yang memiliki status sebagai istri orang. Dan yang lebih istimewanya lagi, meski wanita itu sudah bersuami, tapi justru dialah pria pertama yang bisa merasakan indah tubuh majikannya. Bahkan dia juga yang menikmati mahkota wanita yang menjadi majikannya itu.
Sungguh pemuda itu tak habis pikir dengan suami sang majikan. Kenapa wanita secantik Miranda dibiarkan saja bertahun lamanya. Tapi dia bangga juga, karena dia lah yang pertama kali menikmati keindahan dan kecantikan seoang Miranda.
Pemuda bernama Rizal itu bangkit dan duduk bersandar di ujung ranjang. Tubuh polosnya hanya dia tutupi dengan selimut. Semalam setelah mandi bersama, Rizal dan Miranda memang sengaja tidur tanpa berpakaian. Rizal meregangkan otot-ototnya sejenak kemudian dia turun dari ranjang mencari sosok yang telah memberinya kenikmatan.
Matanya berkeliling, Rizal mendengar suara dari arah dapur. Dia pun melangkahkan kakinya menuju kesana. Beberapa saat kemudian langkah kaki Rizal terhenti saat matanya menangkap sosok cantik sedang sibuk dengan beberapa bahan yang ada dihadapannya. Sosok cantik itu terlihat semakin menarik dengan lingeri putih transparan yang dia pakai. Rizal mengulum senyum dan seketika sesuatu dibawah perutnya menegang dan mengeras karena melihat keindahan yang begitu menggoda.
Rizal menuju ke arah wanita itu dan tangannya langsung melingkar erat begitu dia dekat dengan wanitanya.
"Rizal!" pekik Miranda kaget. "Baru bangun?"
"Iya," jawab Rizal manja. Dia langsung menaruh dagunya dipundak Miranda. "Non Miran sengaja memakai pakaian seperti ini, biar aku tergoda ya?"
"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Miranda langsung menghentikan kegiatannya.
"Suka banget lah, Non. Tapi kan punyaku jadi terus menegang," rajuk Rizal terdengar menggemaskan di telinga Miranda.
__ADS_1
"Kamu nggak memakai celana?" tanya Miranda saat dia merasakan milik Rizal yang sudah menegang menempel pada tubuhnya.
"Nggak," balas Rizal.
"Ya ampun, Sayang. Apa nggak dingin?"
"Kalau dingin ya tinggal memeluk tubuh Non Miran kayak gini, biar hangat," Miranda mengulas senyum mendengar penuturan Rizal yang terdengar sangat manja.
"Ya udah, ini lepas dulu, aku mau lanjutin bikin sarapan?"
"Nggak mau."
"Beneran?"
"Iya, sayang."
"Ya udah."
Rizal pun melepas pelukannya dan dia duduk di kursi sekitar meja makan menyaksikan Miranda sambil mengusap lembut senjatanya yang sudah menegang.
Hingga benerapa menit kemudian, hidangan praktis dan sederhana sudah tersedia di atas meja makan. Praktis, karena dari makanan yang ada, Miranda cuma menghangatkan saja. Seperti sepiring ayam. Miranda tinggal menggoreng saja karena ayam dibeli ayam yang sudah berbumbu dan tinggal digoreng saja. Begitu beberapa hidangan yang lain.
__ADS_1
"Zal, mungkin jika kamu sekarang mudik, banyak gadis akan terpesona denganmu kali yah?" ucap Miranda di sela sela menyantap makanannya.
"Belum tentu, Non. Kan aku belum bawa uang banyak," balas Rizal.
"Nggak mungkin semuanya matre lah, Zal. Pasti ada satu atau dua yang tulus."
"Iya sih, Non. Emang nggak semuanya, tapi sebagai pria, walaupun hanya sebatas pacaran tapi kan tetap butuh duit buat pegangan walau hanya mampu beliin bakso semangkuk."
Miranda mengulum senyum, ucapan Rizal ada benarnya juga. Pasti harga dirinya akan jatuh dan mungkin malu jika kencan tapi tidak bawa uang.
Tak butuh waktu lama, Rizal dan Miranda telah selesai menikmati sarapannya. Di saat Miranda membereskan dapur dan meja makan, Rizal memilih duduk di dekat kolam renang yang terletak di belakang Villa.
Tanpa menggunakan pakaian, Rizal rebahan di kursi malas dekat kolam renang. Tak lama kemudian Miranda pun menyusul Rizal.
Sesampainya di dekat kolam, Miranda berdiri di hadapan Rizal kemudian dia melepas tali pengikat lingerinya. Rizal terpana memandangnya. Senyumnya terkembang, senjatanya menegang. Setelah lingerie terlepas dari badan, Miranda langsung melangkah dan duduk dipangkuan Rizal yang sudah menantinya.
"Kita main sekarang?"
"Iya, Sayang."
...@@@@@...
__ADS_1