TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 242 (Iqbal)


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar, seorang pria sedang berbaring miring dengan mata terpejam. Dia bukan tidur, tapi dia sedang meredam amarahnya kepada wanita yang sekarang duduk di belakangnya.


Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu, yang pasti si Pria merasa si wanita sudah keterlaluan karena mempermainkannya. Sungguh si pria itu tidak menyangka, akan diperlakulan seperti itu oleh wanita yang selalu dia lindungi.


Pria itu bernama Iqbal dan wanita yang duduk di belakangnya bernama Karin. Mereka saling diam sejak beberapa menit yang lalu. Karin menyesal karena sudah menyinggung perasaan Iqbal.


Niat Karin memang ingin mengerjai Iqbal, tapi dia tidak menyangka Iqbal akan marah. Karin pikir Iqbal akan terhibur melihat pemandangan cantik milik Aleta dan Belinda. Namuan nyatanya, Iqbal malah tersinggung.


Sebagai lelaki normal, siapa yang tidak tergiur jika dihadapkan pada dua wanita cantik berkulit putih dan tanpa busana. Meski Belinda dan Aleta memakai handuk tapi handuk itu tidak bisa menutupi semuanya. Bahkan keduanya terkesan sengaja memamerkan benda yang ada diantara paha mereka. Biar bekas orang sekalipun, yang namanya lubang wanita pasti tetap nikmat dan menggoda. Apalagi wanita secantik Aleta dan Belinda.


Jika Karin memang menginginkan Iqbal berhubungan badan dengan kedua kakaknya, harusnya Karin bilang saja. Tidak perlu melakukan hal semacam itu. Seaakan ingin merendahkan harga diri laki laki itu. Itu yang ada di pikiran Iqbal saat ini.


Sedangkan dalam pikiran Karin, dia tidak ada maksud apa apa. Dia murni hanya ingin mengerjai Iqbal dan memperlihatkan kalau di dan dua kakaknya sudah baikan tanpa ada sandiwara.


Karin mengulum senyum. Meski dia tahu kalau dia salah, tapi Karin yakin marahnya Iqbal tidak akan pernah lama. Dia tahu, pria yang sedang merajuk itu sangat menyangi dirinya.

__ADS_1


Karin beranjak sejenak untuk mengunci pintu kamar. Terus dia melepas semua pakaiannya dan berbaring di belakang pria itu.


Iqbal pikir Karin pergi karena mendengar pintu berbunyi. Tapi ternyata Iqbal merasa ada tangan melingkar dipinggangnya. Tangan itu masuk ke dalam kaos yang Iqbal pakai dan mengusap dadanya. Iqbal mendengus. Dia akan sekuat hati menahan godaan Karin. Iqbal yakin dia bakalan kuat menahannya.


Tangan Karin terus mengusap dada bidang Iqbal dan memainkan dua titik agak hitam di dada kanan dan kiri pria itu. Setelah cukup puas meraba dada Iqbal, kini telapak tangan Karin merayap melewati perut hingga ke bawah dan masuk ke dalam boxer Iqbal.


Dalam hati Iqbal merutuki isi celananya sendiri. Bagaimana isi celananya bisa tegang disaat dia sedang ingin menahan godaan dari Karin. Apalagi kini isi celana Iqbal berada dalam genggaman tangan Karin, dan tangan itu bergerak pelan seperti sedang mengocok sesuatu.


Iqbal terus terdiam dengan perlakuan Karin. Dia akan menahan gengsinya dan akan terus bersikap acuh. Padahal di dalam hatinya, Iqbal sangat menikmati permainan tangan Karin di dalam boxernya.


"Sial!" umpat Iqbal dalam hati. "Aku nggak akan nyerah. Enak aja mau menggodaku? Nggak akan mempan!"


Tapi sayang, isi hati Iqbal tak sejalan dengan sikap tubuhnya. Bahkan mulutnya sudah tak tahan ingin mengeluarkan rintihan keenakan.


Puas dengan permainan mulutnya, Karin mendorong tubuh Iqbal untuk telentang. Dari sini terlihat sangat jelas hati Iqbal tak sejalan dengan gerakan tubuhnya. Dengan sekali dorong, tubuh Iqbal langsung telentang meski wajahnya masih di tutupi dengan bantal.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Karin mengulum senyum.Kini dia berdiri dengan lutut diantara tubuh Iqbal dan perlahan memasukkan isi boxer iqbal ke dalam lembah nikmatnya.


"Ahhh ..." rintihan nikmat keluar dari mulut Karin saat perlahan isi boxer memasuki lembah nikmat hingga mentok. Perlahan pinggang Karin mulai bergoyang, membuat Iqbal semakin kelojotan.


"Sial! Ini kenapa malah jadi enak gini sih?" rutuk Iqbal dalam hatinya. Apa lagi racauan kenikmatan Karin terdengar sangat seksi.


Karin menarik paksa bantal yang menutupi wajah Iqbal. Ditatapnya mata Iqbal yang enggan menatapnya balik. Karin mengulum senyum. Pinggangnya terus bergoyang.


Karin mendekatkan wajahnya hingga hidung Karin dan hidung Iqbal hampir bersentuhan. Mata Iqbal semakin gelalapan. Karin mengulas senyum dan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Iqbal.


Awalnya Iqbal diam, tidak merespon gerakan bibir Karin. Tapi lama kelamaan pertahanan Iqbal jebol juga. Dia langsung bibir Karin dengan ganas. Bahkan Iqbal mulai menggerakan pinggangnya menyodok lubang nikmat dengan gerakan cepat.


Dalam hati Karin bersorak, "Hore! Menang!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2