TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 187


__ADS_3

"Pagi, Non."


"Pagi juga, Sayang."


Muach.


Sapaan hangat yang diakhiri dengan penempelan bibir, mengawali pagi dua manusia yang habis melakukan percintaan semalam dengan bebasnya. Tak peduli badan yang lelah karena karena habis melakukan perjalanan dengan jarak yang lumayan jauh. Seakan lelah itu hilang saat dua insan itu sudah dilanda hasrat yang sangat menggelora. Dan rasa lelah itu kembali datang saat mereka telah menuntaskan hasrat yang telah mereka pendam beberapa hari ini.


"Badan kamu bau asem, hih," cibir Miranda. Tapi meskipun mulutanya bilang bau, wanita itu enggan melepas pelukannya dan terus menempel pada tubuh tegap pemuda yang menjadi supirnya sembari menikmati bau asam tubuh pemuda itu.


"Orang mandi kemarin pagi doang, wajarlah kalau bau. Tapi sepertinya Non Miran suka bau badanku, buktinya nempel terus nih," tuduh Rizal.


"suka apaan? Ngggak dong. Ini karena aku lagi males bangun aja, jadi nempel gini," kilah Miran. Tentu saja dia tidak mau mengaku kalau dia menikmati bau asem dari tubuh Rizal. Bau khas seorang pria maskulin, menurut Miranda.


"Iya, iya, aku percaya," jawab Rizal mengalah. Meski pun dia tahu Miranda berbohong, tapi dia senang diperlakukan seperti itu. maka itu Rizal lebih memilih mengalah daripada mengajaknya debat hanya gara gara bau badan.


Sementara jauh di tempat yang berbeda, Tomi juga merasakan kebahagiaan versi dirinya. Hari ini orang orang suruhannya akan melakukan apa yang telah direncanakan olehnya. Mata hati Tomi entah kenapa saat ini malah tertutup. Demi bisa menaklukan Rizal, dia harus bermain kotor dengan cara mengorbankan Miranda.


Di jogja sana, Tomi menyuruh tiga orang bayaran untuk membantu drama yang akan dia mainkan demi mendapatkan Rizal. Sesuai rencana dari Rio, Tiga orang suruhan Tomi akan melakukan penculikan terhadap Miranda dan Tomi akan bersandiwara guna menjebak Rizal. Rencana yang sangat sempurna dan Tomi yakin, kali ini rencananya pasti sukses besar tanpa hambatan.

__ADS_1


Dengan kebahagiaan yang membuncah, Tomi melenggang menuju mobilnya. Hati ceria mengiringi perjalanannya menuju kantor. Angan angan tentang Rizal yang akan tunduk di hadapannya dengan badan tanpa busana, membuat senyum Tomi seakan enggan surut dari bibirnya.


"Tidak apa apa aku sabar sebentar lagi, setidaknya hasil dari kesabaranku takkan sia sia," gumam Tomi, lalu dia berdendang mengikuti lagu yang sedang dia putar dari mobilnya.


Sementara itu di rumah sewa, pasangan supir dan majikannya, masih terbaring di bawah satu selimut. Rasa rindu untuk tetap tidur bersama seakan mereka lampiaskan saat kesempatan itu tiba. Dan inilah kesempatan yang mereka tunggu. Kesempatan tidur dan bangun bersama tanpa ada rasa was was takut ketahuan.


"Hari ini rencananya kemana, Non?" tanya Rizal sambil mengelus bahu Miranda yang tubuhnya menempel seperti perangko.


"Penginnya seharian kayak gini terus sama kamu, Zal. Tapi udah terlanjur bikin janji sama seseorang buat beli kain," jawab Miranda. Sesekali bibirnya menyesap titik hitam yang ada di dada Rizal.


"Ya udah dibatalkan aja, atau di undur besok," saran Rizal dengan entengnya.


"Kalau kamu gimana, Zal? Kamu nggak ada keinginan usaha apa gitu? Atau tetap ingin jadi supir?" tanya Miranda selanjutnya.


"Kalau aku, aku tuh pengin buka usaha toko baju, Non. Yang lengkap dan harganya terjangkau. Untuk kalangan menengah ke bawah. Nggak apa apa kalau untung sedikit, asal lancar juga itu menyenangkan, bukan?"


"Ide bagus itu, Sayang. Kenapa nggak diwujudkan?"


"Modalnya nggak ada, Non. Makannya aku kerja dulu, kali aja kalau tabunganku cukup, bisa mewujudkan keinginanku itu."

__ADS_1


"Aamiin ... atau mau aku bantu dana?"


"Janganlah, Non. Aku udah dikasih uang banyak. Nggak enak aku."


"Yadeh, ya udah ayuk mandi, terus pergi. Sekalian nyari sarapan."


"Ayo."


Miranda dan Rizal segera bangkit dan beranjak menuju kamar mandi yang sama. Mereka hanya mandi bersama tanpa mengulang permainan.


Tak butuh waktu lama, acara mandi bersama pun selesai. Setelah mengeringkan diri, mereka segera mengenakan baju beserta aksesorisnya.


"Dah beres, yuk berangkat," ajak Miranda. Rizal yang lebih dulu selesai berpakaian dan menunggu Miranda selesai mengoles make up, segera bangkit dari tempat duduknya.


Setelah mengunci pintu, mereka segera masuk ke mobil dan beberapa detik kemudian mobil berjalan meninggalkan rumah tersebut.


"Target sudah keluar, saatnya kita bergerak."


"Siap."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2