TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 159


__ADS_3

Padahal cuaca terlihat sangat terik. Panas begitu cetar membahana. Tapi di dalam sebuah Mall, terlihat ramai oleh para pengunjung dari berbagai kalangan dan usia. Ramainya pengunjung menjadi bukti kalau udara yang panas tidak mempengaruhi orang untuk melakukan keinginannya.


Dari banyaknya pengunjung, terlihat dua orang beda usia sedang duduk berdampingan guna melepas rindu dan menyelesaikan masalah yang membuat hubungan ayah dan putrinya itu merenggang dan sampai pisah rumah.


Kedua orang itu adalah Gustavo dan Selin. Pertemuan yang tidak direncana, nyatanya mampu mendekatkan mereka kembali meski masih ada kecangnggungan.


Terutama sang anak. Ingin sekali dia marah, tapi dia juga tidak tega melihat keadaan papanya yang seperti pria tak terurus diusianya yang sudah empat puluh lebih. Biar bagaimana pun, Gustavolah yang membuat Selin berada di dunia ini. Meski caranya salah, tapi Selin sungguh merasakan ketulusan dari pria yang sedang menggenggam tangannya.


Sementara di kursi yang lain, Jamal hanya terdiam menyaksikan interaksi bapak dan anak yang sepertinya sudah berdamai. Sambil menyesap es coklat yang seharusnya untuk Selin, Jamal terus memantau kejadian yang terlihat sangat menyenangkan tersebut.


"Papa ih, ini tangannya lepasin," protes Selin untuk yang kedua kalinya.


"Astaga, sayang. Papa tuh kangen loh sama kamu. Masa pegang tangan doang juga diprotes?" ucap Gustavo dengan raut wajah yang nampak penuh kebahagiaan.


"Malu, pa. Orang udah gede juga, masih digandeng sama orang tua," gerutu Selin dengan bibir yang mengerucut. Gustavo pun tergelak. Merasa gemas melihat putrinya kembali merajuk karenanya.


"Kamu kapan pulang, Sayang? Rumah sepi loh nggak ada kamu, Mbok Sum juga kehilangan kamu tuh karena sudah kangen masakin makanan kesukaan kamu. Apa kamu masih marah sama papa? Jangan lama lama marahnya dong, Sayang?" bujuk Gustavo seperti sedang merengek.

__ADS_1


"Kalau Selin pulang, Papah mau ngabulin permintaan Selin nggak?" ucap Selin dengan tatapan yang sangat serius.


"Permintaan? Permintaan apa, Sayang?" tanya Gustavo dengan hati yang berdebar. Dia takut permintaan Selin adalah hal yang tidak bisa dia kabulkan.


"Paling nggak bisa mengabulkan?" tuduh Selin.


"Astaga! Belum juga ngomong. Katakan saja jangan sungkan, kalau Papa sanggup, pasti Papa lakukan," ucap Gustavo meyakinkan.


"Bener?" Gustavo mengangguk. "Selin pengin lihat makam wanita yang melahirkan Selin dan adik Selin juga."


Sementara itu dari dalam sebuah apartemen. Masih dengan posisi yang sama yaitu si pria duduk bersandar dan si wanita tiduran di paha si pria. Dan keduanya masih belum menggenakan pakaian satu pun. Dilihat dari gelagatnya, kemungkinan akan ada ronde kedua yang tidak lama akan terjadi. Karena nampak disana, si wanita masih dengan sangat rakusnya menikmati batang yang sudah menegang kembali akibat permainan mulut si wanita.


"Bener kan, Bel? Kamu terobsesi dengan supir itu karena isi celananya?" tanya Rio dengan tangan yang terus memijat dada Belinda.


"Iya lah, aku tuh penasaran. Dia kan orang kampung. Permainannya seperti apa gitu? Apakah punya Iqbal juga sebesar punya kamu?" jawab Belinda menghentikan sejenak mulutnya menyesap batang milik Rio.


"Kenapa nggak dijebak aja?" usul Rio.

__ADS_1


"Jebak bagaimana?"


"Nih, dia kan orang kampung, pasti bodoh, kamu pura pura baik aja sama adik kamu, terus ajak main kemana gitu. Siapin obat tidur buat adikmu. Nah pas saat adik kamu tertidur, kamu pancing Iqbal supaya nyusul. Begitu Iqbal datang, suruh dia duduk dulu, dan ajak kasih dia minum yang sudah dikasih obat tidur juga. Terus jika berhasil, kamu buka tuh semua baju Iqbal dan kamu juga. Bikin Video dan foto kalau seolah olah kamu dan dia sedang berhubungan. Nah kamu gunakan foto atau video itu buat ngancam Iqbal. Di jamin, anak kampung kayak gitu nggak bakalan berani ngadu ke siapa siapa. Apa lagi orang tua kamu, orang kaya dan dia hanya supir. Dengan sedikit ancaman, pasti dia akan bertekuk lutut sama kamu."


Belinda terdiam dan mencerna semua ucapan Rio yang sangat panjang tersebut. Dan tak lama kemudian Belinda tersenyum dan bangkit lalu duduk dipangkuan Rio.


"Benar juga apa yang kamu katakan. Wah! Kok aku nggak pernah kepikiran sampai situ yah," ucap Belinda merasa senang. Dia langsung melayangkan bibirnya ke arah bibir Rio, dan sejenak perang bibir terjadi.


"Bagus kan idenya?" ucap Rio bangga.


"Bagus banget, ah jadi nggak sabar buat melakukannya."


"Ya udah, ambil pengaman lagi sana, kita main lagi."


"Ih apaan sih," ucap Belinda genit, tapi dia tetap bangkit dan beranjak ke kamar mengambil pengaman untuk permainan ronde kedua.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2