
Di jaman seperti saat ini, uang memang lebih berpengaruh banyak bagi semua orang. Dengan uang, orang bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Dan karena uang pula, orang bisa tidak mempunyai hati nurani untuk merugikan orang lain bahkan seperti tisak punya malu.
Seperti seseorang bernama Sandra. Dia wanita yang memiliki uang yang fantastis. Karena bisnis barang mewahnya yang terletak di beberapa tempat, uang Sandra seolah enggan berhenti mengalir ke dalam rekening pribadinya.
Namun sayang, karena uang itulah, dia sudah menjadi wanita yang tidak mempunyai rasa malu. Hampir tiap hari, Sandra selalu menghabiskan waktu dengan lelaki muda simpanannya. Baik di dalam kamar maupun di luar kamar.
Seperti pagi ini, Sandra lagi lagi terlihat mengantar Rio ke kampus. Entah apa alasan wanita itu, kenapa begitu kepada wanita lain bahkan wanita itu anaknya sendiri.
Ketika Sandra hendak pergi setelah melihat Rio masuk kampus, mata Sandra berbinar tatkala dia memandang seorang pria muda berdiri ditepi mobil yang sangat dia kenal pemiliknya. Seketika Sandra menyeringai. Dia pun mengurungkan niatanya untuk pergi dan melangkah menghampiri pria yang saat ini kelihatan lebih tampan.
"Bukankah kamu supirnya Selin, anak saya?" tanya Sandra begitu langkah kakinya berheni tepat disisi pemuda yang sedang menunduk menatap layar ponsel.
Pria itu mendongak, mengernyitkan dahinya sejenak kemudian matanya sedikit membulat setelah mengetahui siapa yang menyapanya.
"Ah iya, Nyonya. Kenapa?" balas Jamal agak kaget. Dia langsung mengehntikan bermain ponselnya.
Sandra pun tersenyum manis, Jamal tertegun sejenak. Wanita itu sama sekali tidak terlihat tua. Bahkan terlihat dalam pikiran Jamal kalau wanita ini bukan ibunya Selin.
"Apa kamu ada waktu? Saya ingin bicara sama kamu?" ajak Sandra dengan lembutnya.
__ADS_1
"Tapi ... "
"Cuma sebentar kok. Lagian jam pulang kampus kan masih lama. Kita duduk disana, yuk?" Ajak Sandra sambil menunjuk sebuah caffe yang berada disekitar kampus.
Jamal pun tak kuasa menolak. Biar bagaimana pun, Sandra, Istri dari majikannya, jadi mau tidak mau Sandra menurutinya. Sandra melangkah terlebih dahulu dan Jamal mengikuti di belakangnya.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah duduk di caffe tujuan dan Sandra memilih duduk dilantai dua yang masih sangat sepi.
"betah bekerja di rumah Selin?" tanya Sandra tak lama setelah mereka duduk di sudut paling luar dan seperti tersembunyi. Ruang terbuka seperti balkon disulap menjadi tempat duduk tamu untuk menikmati suasana yang beda dari tempat tersebut.
Tempat itu seperti tempat tersembunyi karena banyaknya pohon pohon hias yang yang seakan menutupi keberadaan orang yang ada disana.
Lagi lagi Sandra menyeringai sambil menyeruput kopi yang baru saja diantar oleh pelayan. Sementara Jamal merasa canggung duduk di tempat seperti ini. Tidak pernah sekalipun dia duduk di tempat bernama caffe. Makanya dia merasa aneh duduk disini. Ditambah lagi dia duduk bareng sang Nyonya. Makin tak tenang lah perasaannya.
"Berapa gaji yang Gustavo berikan?" tanya Sandra lagi.
"Lumayan, Nyonya." balas Jamal enggan menyebutkan nominalnya. Sandra pun hanya manggut manggut. Dia juga sebenarnya tahu, gaji supir di tempat Gustavo berapa.
"Kamu mau nggak kerja di tempat lain?" tawar Sandra. Sejak melihat perubahan Jamal di Mall, Sandra memang langsung terpana akan pesona yang Jamal miliki. Pria itu sangat manis dan lebih tampan dari Rio. Maka itu Sandra akan berusaha menjerat Jamal termasuk menawarinya pekerjaan.
__ADS_1
"Kerja di tempat lain?" tanya Jamal tak mengerti.
"Iya, kamu kerja di tempat lain dengan gaji yang gede tiap bulan. Belum lagi kamu juga dapar bonus harian." ucap Sandra antusias agar Jamal tertarik dengan pekerjaan yang dia tawarkan.
Tentu saja Jamal tertarik mendengar gaji yang lebih gede. Tapi dia harus memastikan apa dulu pekerjaannya. "Emang kerja apa, Nyonya?"
"Jadi supir pribadi saya. Kebetulan saya sangat butuh." balas Sandra. Tatapan matanya begitu tajam dan dalam ke arah Jamal hingga pemuda dua puluh tiga tahun itu salah tingkah.
"Jadi supir nyonya?" tanya Jamal memastikan.
"Iya, jadi supirku. Aku lagi butuh, soal gaji kamu jangan khawatir. Kamu juga akan dapat uang tambahan yang banyak. Jika melakukan pekerjaan tambahan." terang Sandra sembari tersenyum penuh arti.
"Pekerjaan tambahan? Pekerjaan apa itu, Nyonya?" tanya Jamal semakin tak mengerti.
Sandra menyeringai. Dia bangkit dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian dia melalangkah berpindah tempat duduk di tepi Jamal. Tangannya bergerak perlahan hingga jatuh diatas paha Jamal.
"Pekerjaan yang membuat kamu terbang melayang tinggi dan merasakan indahnya surga dunia, Jamal."
...@@@@@...
__ADS_1