
Rahang Gustavo mengeras, amarahnya menyala dalam matanya. Mendengar ucapan sang anak mengenai wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya, adalah dalang dibalik musibah yang menimpa putrinya, membuat dada Gustavo bergemuruh.
Gustavo tidak menyangka Sandra akan berbuat sejauh ini. Gustavo sadar, dia ikut andil dalam perubahan sikap wanita itu, tapi dia tidak menyangka Sandra akan berbuat sejauh ini. Membahayakan nyawa seseorang demi ambisinya yang tak masuk akal.
"Tolong jebloskan mereka dalam penjara, Pak, untuk dalangnya biar saya yang urus," titah Gustavo pada dua sekuriti.
"Baik, Pak. Nanti akan saya laporkan juga," balas salah satu sekuriti.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Kelihatannya putri saya masih syok," pamit Gustavo.
"Oh silakan, Pak, terima kasih atas kerja samanya."
Selin masih memeluk sang ayah saat mereka keluar dari ruang sekuriti. Jamal mengekor di belakangnya. Jamal tidak bersuara. Pikirannya seketika kacau saat dia mengetahui dalang dari drama yang terjadi malam ini. Dirogohnya saku yang ada ponselnya, dan Jamal segera mengirim pesan.
Bahkan saat mereka duduk di pusat kuliner, Jamal masih terdiam. Matanya menatap layar ponsel. Sedari tadi dia nampak gusar dengan terus mengawasi layar ponselnya. Hal itu tentu saja mengundang perhatian Selin dan Gustavo.
"Kamu kenapa, Mal? Kok nggak tenang gitu?" Jamal agak tersentak saat Gustavo melempar pertanyaan untuknya.
"Nggak kenapa kenapa, Tuan. Saya hanya sedang menunggu balasan dari adik saya," jawab Jamal berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Wajar jika Jamal panik, pasalnya, Sandra tadi pagi juga berbicara mengenai keluarganya. Jamal takut, Sandra juga akan menganggu keluarga Jamal di kampung.
Sungguh Jamal dalam keadan dilema saat ini. Kalau dia jujur, bagaimana perasaan Selin dan Tuan Gustavo. Tadi saja Jamal kaget, saat Selin tidak mengakui Sandra sebagai ibu kandung. Jamal berpikir pasti Selin terguncang dan syok mendengar kenyataan pahit tentang orang yany menyuruh melakuakan penyekapan. Jamal tidak mau Selin semakin syok jika mendengar tentang apa yang Jamal pikirkan.
"Jujur aja, Jamal. Apa yang sedang kamu pikirkan?" desak Selin. "Pasti sedang ada yang mengganggu pikiran kamu, iya kan?"
__ADS_1
Jamal terkesiap mendengar desakan Selin. Tatapan tajam Selin dan Gustavo, membuat Jamal salah tingkah.
"Ini tentang Nyonya Sandra, Non."
Deg!
Selin dan Gustavo sontak terkejut bersamaan.
"Ada apa dengan Sandra?" tanya Gustavo penasaran. Begitu juga selin.
"Nyonya Sandra, katanya akan menemui keluarga saya, Tuan."
"Apa!" pekik Selin dan Gustavo bersamaan.
Pemuda itu menghela nafasnya dalam dalam kemudian perlahan menghembuskannya. Jamal lantas menceritakan apa yang terjadi saat di kampus. Selin dan Gustavo sampai melongo saat Jamal memaki Sandra dengan sangat kasar.
"Kamu sampai berani ngomong kayak gitu, Mal?" tanya Gustavo merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Saya, emosi, Tuan. Dia mengancam akan menggangu keluarga saya, otomatis saya terpancing. Tapi apa yang saya ucapkan, benar kan, Tuan? Nyonya Sandra sampe melakukan hal seperti itu hanya karena ingin merasakan isi celana saya?"
"Kamu serius ngomong kayak gitu?" tanya Selin dengan ekspresi tak menyangka Jamal berani menghina Sandra begitu telak.
"Serius, Non. Lagian kalau bukan isi celana saya, apa yang Nyonya harapkan dari saya?"
"Hahaha ... Sandra, sandra. Segitunya dia menginginkan kamu sampai mau menggunakan Selin sebagai tumbal," kelakar Gustavo mendengar apa yang Jamal katakan. "Tapi aku yakin, Mal. Sandra nggak bakalan sampai ke rumah keluarga kamu. Urusannya dengan polisi, akan semakin panjang."
__ADS_1
"Jangan khawatir sih, Mal. Mungkin keluargamu baik baik saja, dan mungkin lagi ada acara di kampung," sambung Selin.
"Tapi ini, Akmal lama nggak balas pesan aku, Non. Wajar, kan, jika aku panik. Apa lagi Nyonya Sandra masih bebas berkeliaran."
"Dia bukan Nyonya kamu, Jamal. Jangan panggil dia Nyonya lah, enek aku dengarnya,"protes Selin.
"Jangan gitu, Non. Biar bagaimanapun, dia adalah ibu kamu, jadi wajar, kan, aku menghormainya," ucap Jamal membela diri.
"Ngapain kamu menghormati wanita seperti dia? Selain dapat masalah, kamu dapat apa lagi dari si Sandra itu?" sungut Selin. Nampak jelas sekali kalau Selin tidak suka.
"Tapi kan dia ..."
"Dia apa? Ibu aku?" Jamal mengangguk. "Bukan! Orang dibilangin, ngeyel."
"Jangan gitu, Non, biar bagaimana pun, dia tetap Ibu Non Selin."
"Tahu ah. Dibilangin ngeyel," ucap Selin merasa kesal.
Gustavo hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat perdebatan anaknya dengan sang supir. Dia merasa senang, anaknya bisa seakrab itu dengan Jamal.
"Benar, Jamal, apa yang dikatakan Selin, dia bukan Ibu yang melahirkan Selin."
"Apa!"
...@@@@@@...
__ADS_1