
"Maafkan kami, besan. Gara gara anak kami, Miranda tidak bahagia," ucap Papi mertua dengan kepala menunduk. Sontak saja ucapan tersebut membuat Mami sama Papi Miranda tertegun. Mereka langsung menatap besannya.
"Sebenernya ada apa? Apa yang kalian sembunyikan dari kami?" tanya Papi.
"Apa kamu tidak menangkap maskud lain dari ucapan anakmu? Kenapa dia tidak mau menyentuh istrinya selama menikah?" tanya Papi mertua. Dua pria yang usianya menjelang tua itu saling metatap.
"Apa Tomi punya penyakit?" tanya Papi yang semakin dibuat penasaran.
Papi mertua menghela nafasnya dengan berat. Dia kembali menunduk. Hatinya sungguh dilema. Dia sebenarnya kasihan melihat nasib anaknya yang satu ini. Bagaimana bisa lebih memilih melawan kodrat daripada sadar diri dan berusaha untuk sembuh.
"Tomi tidak menyukai perempuan, besan," akhirnya dengan berat hati, ucapan itu keluar dari papinya Tomi. Baik Tomi maupu orang tuanya semakin menunduk karena malu. Ibunya Tomi bahkan sudah sesenggukan sedari tadi. Miranda pun memberi kekuatan pada ibu mertuanya agar wanita tua itu bisa sedikit merasa lebih ringan beban hidupnya.
"Apa!" pekik orang tua Miranda hampir bersamaan. Mereka masih mencerna ucapan sang besan yang sangat mengejutkan. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Kami pikir, dengan menikahkan Tomi, dia bisa sembuh. Seperti pria lain yang bernasib sama kayak Tomi,bisa bahagia dan bisa memiliki kehidupan normal. Tapi nyatanya, entah apa yang dipikirkan anak saya, sampai mau memperlakukan Miranda seperti itu," ucap Papi mertua penuh sesal. Suaranya bergetar, sangat jelas dia sedang menahan airmatanya.
"Jadi selama ini anak kami ..." Mami Miranda tak meneruskan ucapannya. Matanya nyalang menatap sang putri yang telah dia tampar.
__ADS_1
"Maafin Miranda Mi, Pi," ucap Miranda pada mertuanya. "Sejak malam pertama menjadi pengantin, Tomi sudah jujur tentang keadaannya."
"Jadi selama ini kamu sudah tahu keadaannya, Mir?" tanya Mami mertua sambil menatap menantunya, dan Miranda mengangguk.
"Aku juga sudah berusaha menggoda dia, memberi obat perangsang, melakukan hal gila agar Tomi mau menyentuhku. Tapi aku gagal, Mi."
"Astaga! Nak, maaafin Mami," ucap Mami mertua semakin terisak. Sedangkan orang tua Miranda semakin tidak terperangah dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Selama ini aku ngikutin permainan Tomi, pura pura bahagia di depan kalian. Pura pura hubungan kami baik baik saja. Tapi nyatanya, dia yang mengatur semuanya dengan ancaman kalau kalian akan menarik semua bantuan kalian kepada perusahaan Papi."
"Apa!" pekik keempat orang yang ada disana.
"Aku mau ngikutin kemauan Tomi, bukan karena aku takut ancamannya, Mi. Tapi karena Mami sama Papi sangat baik padaku, kasih sayang kalian lebih besar daripads kasih sayang orang tua kandungku sendri."
Deg!
"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu? Hah!" hardik Mami Miranda.
__ADS_1
"Nyatanya benar kan? Kapan kalian perhatian sama aku? Bahkan kalian tega memaksa aku menikah dengan Tomi agar perusahaan kalian tidak bangkrut. Bukankah itu sama saja kalian menjual anak kalian sendiri?"
"Apa maksud kamu, Miranda?" tanya Papi tergagap.
"Benar kan, apa yang aku bilang? Apa pernah? Kalian sengaja datang kesini menjenguk anak kalian? Kalian hanya mau datang jika Papi dan Mami mertua juga datang? Papi dan Mami mertua juga orang sibuk, bahkan perusahannya lebih besar, tapi mereka masih sempat memperhatikan anak anaknya. Sedangkan kalian? Hanya mempunyai satu anak saja, kalian enggan berkunjung. komunikasi sekedarnya saja. Kalian anggap aku apa?"
Orang tua Miranda makin terkesiap. Mereka tidak menyangka dengan apa yang mereka dengar. Ingin mereka menyangkal tapi apa yang dikatakan sang anak memang benar adanya. Miranda menangis di dalam pelukan Mami mertuanya.
"Bahkan kalian dengan mudahnya langsung menampar saya. Kalian langsung percaya dengan apa yang Tomi katakan. Harusnya kalian berpikir. Aku yang memohon pada kalian untuk datang. Tapi kalian malah seenaknya menampar aku, dimana sebenarnya hati kalian sebagai orang tua?"
"Udah, Mir, udah. Nggak baik bicara seperti itu pada orang tua," ucap Mami mertua menasehati.
"Tapi mereka keterlaluan, Mi. Kalau sama Tomi saja mereka bisa bersikap manis. Tapi sama aku, aku seperti bukan anak mereka saja."
Sang Papi hanya menunduk, sedangkan Mami, hanya mampu menatap anaknya yang justru larut dalam pelukan Mami mertuanya. Rasa bersalahnya semakin membuncah. Dia bahkan lupa, kapan terakhir memeluk anaknya yang sedang rapuh dan memberi kekuatan.
"Dan asal kalian tahu, bukan si supir yang menggodaku, tapi aku lah yang menggoda dan menjebak supir karena aku sudah nggak tahan dengan sikap Tomi."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...