
Frustasi. Itulah yang Tomi rasakan saat ini. Dia benar benar frustasi karena Miranda tidak kunjung merespon panggilan dan pesan chatnya. Apalagi kedua orang tuanya dan orang tua Miranda memberi kabar kalau mereka akan datang. Sontak saja rasa frustasi Tomi semakin membesar. Dia masih tidak percaya kalau rencananya gagal total.
Tomi berpikir keras agar apa yang dia takutkan tidak terjadi. Dia harus bisa mempertahankan Miranda. Tomi tidak mau aibnya mencuat karena kesalahannya sendiri. Obsesinya untuk menaklukan Rizal dan jatuh ke dalam pelukannya, membuat Tomi enggan berpikir panjang akan akibat yang dia lakukan.
Sekeras apapun yang Tomi lakukan, tapi mungkin kini saatnya Yang Maha Esa memberi pelajaran berharga agar keangkuhan yang Tomi miliki harus runtuh.
Ya, selama ini Tomi angkuh dengan apa yang ada pada dirinya. Dia angkuh kalau semua bisa ditaklukan dengan uang. Dia angkuh karena merasa pernikahannya aman. Dia angkuh dengan semua keberhasilan yang dia dapatkan. Termasuk menaklukan pria pria incarannya.
Sekarang keangkuhan seorang Tomi akan Tuhan runtuhkan. Lewat istri dan supirnya, keangkuhan seorang Tomi akan dipertaruhkan. Dan Tomi semakin tak menerimanya.
kluntang kluntang kluntang.
ponsel Tomi berdering. Tomi meraihnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan. Melihat nama si pemanggil, Tomi hanya bisa mendengus kesal. Meski tak suka, Tomi tetap menggeser layar hijau dan menempelkan ponsel di pipinya.
"Hallo, ada apa?" tanya Tomi tanpa basa basi.
"Hallo, Tuan. Bagaimana sisa pembayarannya? Kok belum di kirim?" tanya si penelpon dengan entengnya, membuat Tomi semakin meradang.
__ADS_1
"Bayaran apa? Hah! Kerja nggak becus, minta bayaran. Enak aja," tolak Tomi.
"Ya nggak bisa gitu dong, Tuan. Kita sudah korban waktu, atau Tuan mau, kami berbalik menyerang anda?" ancam si penelpon.
"Terserah apa yang kamu lakukan."
Klik.
"Arrgghhh!" teriak Tomi frustasi.
Rizal masih tidak percaya kalau wanita itu mengajaknya menikah. Rizal seakan akan sedang dilamar oleh Miranda. Dia diam bukannya tidak mau, tapi dia diam karena dia bingung mau ngomong apa.
"Kenapa diam, Zal? Apa kamu malu menikah dengan wanita yang lebih tua dari kamu?" tanya Miranda agak mendesak.
"Bukan begitu, Non. Lagian kita kan cuma selisih dua tahun, ngapain harus malu?" balas Rizal lantang.
"Terus? Kenapa kamu nggak nawab?" tanya Miranda. Kini tangannya memainkan batang Rizal dengan lembut.
__ADS_1
"Non Miran tahu kan, keadaan aku gimana? Nggak lucu kan, kalau kita nikah tapi aku menggantungkan hidup pada Non Miran. Aku juga belum punya kerjaan tetap. Terus, apa yang diharapkan dari saya? Aku sih nggak masalah soal usia. Aku dan Non Miran kan hanya selisih dua tahun. Yang jadi masalah aku ya itu, Non, bagaimana aku menafkahi Non Miran?" terang Rizal dengan hati hati. Dia tidak ingin jawabannya menyinggung perasaan wanita itu.
"Aku pernah nawarin kamu modal usaha loh, Zal. Kenapa kamu nggak gunakan peluang itu? Kamu gengsi dan malu? Coba kalau aku hamil, apa kamu juga akan tetap berpikir soal nafkah?" Miranda bertanya sambil menggeser badannya, hingga sekarang Miranda berada diantara dua kaki Rizal yang membentang. mulut dan lidah Miranda langsung memainkan batang yang sudah menegang kembali.
"Ya bukan begitu, Non. Aku pasti akan tetap tanggung jawab, itu anak aku. Tapi apa Non Miran mau? Kalau kita nikah terus aku baru merintis usaha dari Nol dan belum ngasih nafkah?"
"Ya ampun, Sayang. Itu kan bisa dipikirkan nanti sambil jalan," ucap Miranda menghentikan sejenak permainan mulut dan batangnya. "Yang penting kan kamu sudah ada jalan untuk mencari nafkah. Lagian berpikirnya jangan terlalu ribet sih? Jangan mempersulit keadaan sendiri kalau ada kemudahan di depan mata kita. Kamu takut ini, kamu takut itu, yang ada kamu nggak bakalan maju. Jalan mulu ditempat."
Rizal hanya bisa tersenyum lebar mendengar ucapan Miranda. Rizal mencerna kata kata itu sambil memperhatikan Miranda yang melahap dan menjilat sesuatu dibawah perutnya dengan rakus.
"Baiklah, aku akan pikirkan tawaran Non Miran," ucap Rizal. Pada akhirnya saran Miranda memang layak untuk dicoba.
"Nah gitu, kan lebih baik." ucap Miranda. Kemudian bangkit dab berdiri dengan kaki membentangi pinggang Rizal, kemudian turun perlahan sambil memasukan benda menegang milik Rizal ke dalam lembah nikmatnya.
"Aaahh ..."
...@@@@@@...
__ADS_1