TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 250 (Rizal)


__ADS_3

"Kira kira tanggapan orang tua Rizal gimana ya, mbak?" tanya Miranda dengan wajah terlihat risau. Kini dirinya sedang duduk bersama Mbak Sari di taman belakang.


"Berdoa saja, Rizal bisa menjelaskannya dengan baik, dan mampu mengambil hati orang tuanya," jawab Sari ikut merasakan juga apa yang Miranda rasakan.


"Aku jadi takut, mereka akan berpikir buruk tentang aku. Walaupun semua memang aku yang mengawali, tapi aku takut mereka berpikir macam macam."


"Ya Non Miran berpikir yang baik baik saja, yang penting semuanya sudah jelas, nggak ada yang ditutup tutupin lagi. Ambil sisi baiknya aja, Non."


Miranda menghela nafasnya dalam dalam. Pikirannya masih tertuju pada satu nama pria yang sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Nama pria yang telah membuat dunianya berubah. Miranda tidak menyesal dengan keadaannya sekarang. Justru karena kejadian tadi pagi, Miranda jadi tahu segalanya. Yang Miranda sesalkan adalah, dia merusak kepercayaan orang tua Rizal kepada anaknya.


Sementara di dalam bis, Rizal duduk terdiam menatap ke arah luar dari kaca samping tempat duduknya. Sementara sahabatnya tertidur sejak beberapa jam lalu saat mereka tidak ada lagi topik pembahasan. Rizal hanya geleng geleng kepala melihat sahabatnya yang satu itu. Bisa bisanya dia pulang membawa tanda merah di leher yang lumayan banyak. Sudah tahu orang tuanya sedang murka, tapi sahabat Rizal yang bernama Iqbal itu, malah pulang dengan berbekal tanda merah di leher.


Tanpa terasa bis yang membawa Rizal dan Iqbal telah sampai di sebuah kecamatan, dimana letak kampung mereka berada. Mereka sampai di tempat tujuan pada malam hari.


"Makan dulu yuk, Zal. Aku lapar," ajak Iqbal. Rizal menyetujuinya karena dia juga merasa sangat lapar. Mereka memilih nasi goreng dan makan di tempat.


"Bal, kamu siap menerima amukan keluargamu?" tanya Rizal saat mereka sedang menunggu pesanan nasi goreng. Mereka duduk beralasan tikar di depan sebuah toko.


"Ya harus siap, Zal. Orang aku yang salah, mau gimana lagi. Aku harus tanggung jawab dong."


"Pasti ibu dan Mbak Rini bakalan murka banget tuh, Bal. Apa lagi kamu pulang membawa barang bukti."


"Barang bukti?" tanya Iqbal dengan kening berkerut.


"Tuh, leher kamu, tanda merahnya banyak banget. Gila! cewek kamu mainnya ganas banget apa?"

__ADS_1


"Astaga!" pekik Iqbal terperanjat sambil mengusap lehernya. "Bisa digorok Mbak Rini pasti ini."


"Hahaha ... ya lagian, mau pulang pake main dulu," cibir Rizal.


"Sial!" umpat Iqbal. Wajahnya nampak kebingungan sambil terus mengusap lehernya. Tak berapa lama pesanan mereka datang. Mereka mengakhiri obrolan mereka sejenak dan langsung menyantap nasi goreng di hadapannya. Saat mereka sedang enak enaknya menyantap nasi goreng, Rizal dan Iqbal dikejutkan oleh suara seseorang.


"Kalian ngapain disini?"


Iqbal dan Rizal sontak menoleh ke arah sumber suara. "Jamal!"


Pemuda bernama Jamal lantas duduk menghampiri mereka. Sebelum bertanya pada dua sahabatnya, Jamal memesan nasi goreng juga.


"Kalian mudik? Kok bisa barengan?" tanya Jamal setelah selesia memesan makanan.


"Iya, sejak kamarin," jawab Jamal.


"Terus kamu ngapain malam malam jalan kaki ke sini?" Iqbal bertanya.


"Emak masuk rumah sakit," jawab Jamal sedikit lesu. Rumah sakit tempat Emak dirawat memang dekat dengan tempat ketiga pemuda itu berada sekarang. Wajar jika Jamal jalan kaki. Lagian dia belum punya motor.


"Astaga!" Rizal dan Iqbal nampak terkejut.


"Jadi kamu pulang karena Emak sakit, Mal?" tanya Rizal.


"Nggak juga, Emak masuk rumah sakitnya tadi pagi," balas Jamal. "Terus kalian, kenapa mudik juga? Libur?"

__ADS_1


"Mending kalau libur, kami pulang karena dapat masalah," jawab Iqbal.


"Masalah? Masalah apa?" tanya Jamal sambil menerima pesanan nasi gorengnya.


"Kita ketahuan tidur bareng majikan majikan kita," jawab Iqbal santai.


"Astaga!" pekik Jamal. "Kok bisa?"


"Ya bisa lah, orang ada yang lapor," balas Iqbal lagi.


"Ya mungkin emang udah waktunya ketahuan. Tapi masih mending sih, cewek cewek kita belum ada yang hamil. Miranda malah lagi datang bulan mulai hari ini. Kalau aku hamilin istri orang, entah deh nasib aku di keluargaku bagaimana," sambung Rizal terdengar lesu. Jamal nampak manggut manggut, apa yang dikatakan sahabatnya memang benar.


"Terus kamu sendiri, pulang kampung dalam rangka apa, Mal? Sengaja libur?" tanya Iqbal.


"Yah, masalahku hampir sama kayak kalian. Cuma kalau aku berdua memilih jujur, jadi aku dipecat," jawab Jamal.


"Wuihh! Keren! Jantan juga kamu, Mal," puji Iqbal.


"Ya jantan lah, emangnya kalian, ketahuan dulu, baru ngaku, cemen! Hahaha ..." cibir Jamal sambil terbahak.


"Ah sialan kamu!" umpat Rizal dan Iqbal.


Mereka melanjutkan mengobrolnya hingga hampir lupa waktu karena terlalu asyik mengobrol. Hingga pada akhirnya mereka berpisah untuk menghadapi masalah masing masing.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2