
Bersyukur. Itulah yang Jamal rasakan saat ini. Bekerja pada majikan yang sangat baik, dan membantu dirinya untuk berkembang agar memiliki masa depan yang lebih baik, tentu patut disyukuri oleh pemuda kampung bernama Jamal. Dia tidak pernah menyangka keputusannya mau menerima bekerja menjadi supir, dan menjaga anak majikannya saat dia terpuruk, mengantarkannya pada kesempatan emas yang diberikan oleh Tuannya.
Tapi, dibalik rasa syukur yang tercipta, Jamal juga merasa bersalah pada Tuan Gustavo. Secara tidak langsung, dia juga telah merusak kepercayaan Sang Tuan karena telah berkali kali meniduri anak majikannya. Meskipun pada awalnya, Jamal melakukannya karena desakan Selin dan ancaman, tapi tetap saja, harusnya dia tidak menikmatinya dan semakin jauh melangkah.
Entah sampai kapan Jamal akan mampu merahasiakan kesalahan yang satu ini. Yang pasti jika masalah ini terbongkar, Jamal akan kehilangan segalanya.
Sepanjang jalan, Jamal terus memikirkan masalah ini. Meski dia juga fokus menatap jalanan, tapi pikiran tentang kesalahannya terus bergelayut di dalam pikirannya.
"Mal ... kamu melamun?" suara lembut Selin menyadarkan Jamal yang pikirannya sedang bercabang ke beberapa arah.
"Hmm, kenapa, Non?" ucap Jamal agak tergagap. Dia bahkan bukannya menjawab, tapi malah melempar pertanyaan untuk Selin.
"Orang aku yang tanya, malah balik tanya," sungut Selin, dan Jamal hanya tertawa ringan.
"Maaf, ada yang sedang aku pikirkan aja, Non," jawab Jamal diantara suara tawanya yang hampir memudar.
"Mikiran tentang apa? Apa tentang tawaran Papa?" terka Selin penasaran.
"Ceritanya nanti aja ya, saat pulang kampus? Sekarang udah hampir sampai, nanggung."
"Baiklah."
__ADS_1
Mobil pun memasuki area parkir kampus. Seperti biasa, Selin selalu mengecup pipi Jamal, terus keluar dari mobil dan berjalan riang menuju kampusnya.
Mata Jamal terus memandangi langkah Selin, sampai tubuh wanita itu menghilang. Pikirannya kembali berkelana ke arah yang sedari tadi bertahta pada benakknya.
Jika Jamal jujur pada Gustavo terus dia dipecat, apa yang akan terjadi pada Selin? Apa di tidak akan terpuruk? Atau dia akan baik baik saja? Sungguh, Jamal dalam dilema saat ini. Tidur terpisah saja, Selin sampai merajuk, terus kalau mereka sampai berpisah dan saling jauh, apa yang terjadi pada Selin? Bagi Jamal, Selinlah yang paling utama untuk saat ini. Karena dia tahu, kondisi Selin saat ini sedang tidak baik baik saja. Jamal tidak ingin Selin terpuruk kembali.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan kaca mengagetkan Jamal dan membuyarkan lamunannya. Dia menoleh dan lagi lagi, dia harus berususan dengan wanita yang memiliki sikap aneh. Dengan terpaksa, Jamal keluar dari mobilnya.
"Ada apa lagi, Nyonya Sandra?" tanya Jamal berusaha menekan kekesalan pada wanita itu.
"Tidak," jawab Jamal singkat jelas dan padat. Harusnya Sandra malu, Jamal jelas jelas bersikap dingin dan tidak mau menatap ke arahnya. Tapi entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu? Jamal sungguh tidak mengerti.
"Oh, kirain tahu," ucap Sandra sambil cengengesan. "Oh iya, Mal. Aku boleh ngga? Mengenal keluarga kamu?"
Deg!
Jamal terperangah. Matanya langsung menatap tajam ke arah wanita yang sedang menebar senyum tanpa rasa malu.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu tertarik sama aku? Kalau tertarik bilang," ucap Sandra semakin meledek. Tapi Jamal tetap diam meski dadanya menjadi bergemuruh.
__ADS_1
"Bagaimana, Jamal? Saya boleh, kan, mengenal keluarga kamu? Jarang ada loh, majikan pengin kenal sama keluarga pembantunya? Biar keluarga kita semakin dekat, bagaimana?"
Jamal tetap diam, tapi dalam kepalanya dia sedang berpikir bagaimana membungkam mulut wanita itu. Sepertinya percuma menaruh rasa hormat kepada wanita yang tidak pantas di hormati.
"Boleh kan, Jamal? Aku cuma pengin dekat loh sama keluarga kamu? Kamu nggak perlu sungkan, saya tidak akan berbuat sesuatu kok sama mereka?" Sandra terus berceloteh dengan riangnya.
"Apa harus sampai berbuat sejauh itu, hanya karena anda tidak berhasil mengajak saya tidur bareng, Nyonya?"
Deg!
Gantian, Sandra yang terkejut mendengar pertanyaan Jamal. Matanya melotot saking tidak percaya kalau Jamal mampu membaca pikirannya.
"Hanya gara gara anda ingin menikmati isi celana saya, anda melakukan segala cara, termasuk mengganggu keluarga saya?"
"Jaga ucapan kamu, Jamal! Saya tidak serendah yang kamu tuduhkan!" hardik Sandra.
"Memang kenyataan, bukan? Kalau bukan demi isi celana saya, lalu demi apa? Hanya demi isi celana saya, anda melakukan segala cara, agar saya bertekuk lutut di hadapan anda, termasuk mendekati keluarga saya, Astaga!"
Sandra makin terkesiap, dia tidak menyangka jalan pikirannya akan mudah di tebak supir incarannya.
...@@@@@...
__ADS_1