TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 74 (Rizal)


__ADS_3

Di dalam gelap malam, bintang berkelip dengan indahnya. Bulan separuh juga bercahaya dengan indah. Suasana di tepi danau buatan itu masih terasa sepi, hanya ada beberapa mata yang masih menikmati suasana malam disana termasuk Rizal dan Miranda.


Miranda memeluk erat tubuh supirnya. Wanita yang tidak pernah mendapatkan belaian laki-laki itu sungguh merasa nyaman melakukan hal itu kepada pemuda yang baru beberapa hari menjadi supir pribadinya. Bahkan seakan Miranda tidak peduli jika ada yang melihatnya. Namun nyatanya di sekitar mereka memang tidak nampak orang yang lebih dekat. Jadi Miranda aman saja melakukan hal itu.


Berbeda dengan apa yang dirasakan Rizal. Pria itu justru sedikit resah dengan keadaan seperti ini. Mungkin karena baru mengalami. Apalagi ini di tempat umum. Rizal ingin berontak tapi dia juga merasa kasihan sama majikannya. Dengan keadan rumah tangga yang tak bahagia, wajar saja jika Miranda tak merasa nyaman dan tenang.


Rizal juga semakin merasa resah saat di dadanya ada sesuatu yang empuk menempel. Rizal tahu betul sesuatu yang empuk dan kenyal itu berasal darimana. Dengan dekapan yang semakin erat tentu saja dada Miranda terlalu menempel dan itu membuat sensasi tersendiri dalam diri Rizal sebagai laki-laki. Tak munafik, Rizal sedikit menikmatinya.


"Zal?" pangggil Miranda lirih.


"Iya, Non?" jawabnya sedikit menunduk menatap pucuk kepala Miranda.


"Ternyata benar ya kamu belum pernah ciuman?" pertanyaan Miranda seketika membuat wajah Rizal terlihat bersemu. Dia malu namun kenyataanya itu memang benar.


"Ya begitulah, Non." balas Rizal sambil senyum senyum mengingat ciuman pertamanya yang singkat saat di bioskop tadi.


"Tapi bibir kamu manis, Zal. Enak," ucap Miranda.


"Emangnya makanan, Non," balas Rizal sembari tertawa pelan.

__ADS_1


Namun diluar dugaan, Miranda malah mendongak dan bergeser sedikit ke atas hingga membuat Rizal terkejut. Kini wajah mereka saling berhadapan begitu dekat. Rizal ingin menghindar karena dadanya mendadak bergemuruh namun tangan Miranda malah jatuh membelai pipinya.


"Non, Apa yang ... "


Rizal tidak dapat meneruskan kata-katanya karena bibirnya terbungkam oleh bibir Miranda yang menempel dan memagutnya .Rizal terdiam tak pandai melawan.


"Bibirnya gerakin dong, Zal. Nanti kamu bisa menikmati rasanya," ucap Miranda setelah dia melepas bibirnya. Rizal hanya menyunggingkan senyumnya. Dia benar benar bingung.


Setelah memberi saran, Miranda kembali menempelkan bibirnya. Rizal yang kaget awalnya terdiam. Namun dia teringat ucapan Miranda barusan. Bibir Rizal pun perlahan bergerak dengan mata terpejam. Tentu saja nalurinya sebagai laki laki bekerja saat ini.


"Gimana?" tanya Miranda sesaat kemudian.


Miranda tersenyum dan mereka mengulanginya lagi beberapa kali.


Setelah selesai, Miranda melayangkan bibirnya di pipi Rizal kemudian dia bangkit dan duduk menghadap danau. Sedangkan Rizal, perasaannya masih tak karuan. Dia tidak menyangka malam ini dirinya merasakan sesuatu yang sudah lama dia idamkan sebagai lelaki dewasa.


Miranda menoleh, "Kita pulang, yuk."


Rizal yang pikirannya lagi fokus ke kejadian yang baru saja dia alami hanya mengangguk dengan perasaan tak karuan dan pastinyabm senang juga. Mereka lantas bangkit dan beranjak menuju tempat parkir mobilnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya terdiam. Rizal masih memikirkan kenikmatan yang baru saja dia rasakan saat ini. Masih tidak percaya dan ini seakan mimpi. Apalagi ciuaman pertamanya dia lakukan dengan wanita yang begitu cantik di sebelahnya.


Sedangkan Miranda, dia malah memikirkan cara agar bisa berduaan dengan Rizal. Misinya untuk mennyerahkan mahkotanya kepada sang supir semakin kuat. Dia terus mencari jalan yang tepat. Tentu saja agar tidak dicurigai Tomi.


Tak terasa, mobil pun kini memasuki kediaman Miranda. Sebelum turun mobil, Mereka kembali melakukan perang bibir sejenak atas permintaan Miranda. Rizal tak mungkin bisa menolak dan dia juga menyukainya.


Seperti biasa, Miranda turun dan masuk pintu utama. Sedangkan Rizal masuk lewat samping rumah.


Begitu sampai kamar Rizal langsung merebahkan tubuhnya. Matanya masih menerawang mengingat hari bersejarahnya. Senyumnya pun terkembang sempurna. Jari jarinya dia usapkan ke bibirnya sendiri.


"Ternyata ciuman memang enak." Gumamnya.


Miranda juga dengan perasaan yang bahagia melangkah menuju kamarnya. Langkah awal untuk meraih tujuannya sangat sukses. Dengan senyum terkembang dia menapaki anak tangga menuju lantai dua.


Saat kakinya menginjak lantai yang dia tuju, Dia sedikit terkejut melihat pintu kamar Tomi terbuka sedikit dan dia juga mendengar Tomi sedang menelfon.


Awalnya Miranda acuh, namun saat dia tak sengaja mendengar Tomi menyebut nama Rizal, langkah kakinya terhenti dan dia mau tak mau memasang telinga tajam. Matanya membelalak saat mendengar apa yang Tomi katakan.


"Aku butuh obat itu secepatnya, aku tersiksa jika melihat supir baruku, aku ingin menerkamnya dalam kenikmatan."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2