
Setelah terjadi perdebatan, Karin tertidur. Iqbal yang berada di sisinya tersenyum memandang wajah lelap wanita, yang sedari tadi merajuk karena keputusannya. Iqbal pun beberapa kali mengecup kening wanita itu.
Iqbal pun bangkit dan duduk di tepi kasur. Mengatasi Karin yang sedang marah, membuat Iqbal melupakan rasa laparnya. Tangan Iqbal terulur, mengambil kantung plastik berisi dua kotak makanan untuk dirinya.
Iqbal mengulas senyum, bahkan Karin tahu kalau Iqbal makan nasi di rumah makan, nasinya selalu minta dua porsi dengan alasan, kalau makan di restoran, nasi satu porsi terlalu sedikit, dan Iqbal tidak merasa kenyang.
Iqbal langsung menikmati nasi kotak itu dengan lahap. Rasa lapar yang mendera sejak siang, tak bisa lagi dia tahan. Tak butuh waktu lama, semua makanan dalam dua kotak itu pun habis.
Setelah minum, Iqbal membereskan kotak makanan dan menaruhnya di dalam sampah yang ada diluar dekat pintu kamar kost. Setelah itu dia duduk dan mengambil pinselnya untuk bermain game sambil menunggu Karin bangun tidur.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, tanda tanda bangun tidur nampak pada wanita yang habis marah itu.Badannya bergerak perlahan disertai suara languhan khas orang bangun tidur. Matanya mengerjap dan perlahan terbuka.
Yang pertama dilihat mata Karin saat terbuka adalah senyum manis yang terkembang di pemilik wajah tampan yang hampir dua bulan ini menemaninya dalam hal apapun dan bagaimanapun. Tapi sayang, untuk saat ini senyum pria itu terlihat sangat menyebalkan. Karin langsung berpaling. Dia masih merasa kesal dengan pria yang menjadi supir pribadinya itu.
Menyadari Karin yang masih marah, membuat Iqbal menghembuskan nafasnya secara kasar. Tapi dia tidak akan membalas kemarahan wanita itu.
"Sudah petang, mau keluar cari makan atau mau aku beliin sesuatu? Non Karin mau makan apa?" tawar Iqbal pelan dan lembut sambil mengusap rambut Karin.
__ADS_1
"Nggak usah, nanti cari makan sendiri," jawab Karin ketus tanpa mau menoleh.
"Jangan gitu, ini sudah ..."
"Nggak usah mikirin aku, bukankah kamu yang minta mulai malam ini tidur terpisah. Ya udah sekalian saja apa apa sendiri," balas Karin sebelum Iqbal menyelesaikan ucapannya.
"Non ..." panggil Iqbal pelan. Dia sungguh terkejut mendengar ucapan Karin barusan. Bahkan Iqbal seperti kehabisan kata kata hanya untuk sekedar membantah apa yang Karin ucapkan.
"Kamu tenang saja, kamu nggak akan kehilangan pekerjaan. Nanti aku telpon Papi biar kamu menjaga Belinda dan Aleta saja. Aku sudah biasa sendirian, kamu jangan khawatir," Iqbal semakin dibuat tercengang mendengar perkataan Karin. Sungguh Iqbal tidak menyangka, keinginanya untuk tidur terpisah demi menjaga kepercayaan Tuan Martin, malah mengecewakan wanita yang telah nyaman hidup bersamanya hampir dua bulan ini.
"Kenapa Non Karin malah ngomong kayak gitu? Aku tidak mungkin membiarkan Non Karin sendirian?"
Sedangkan Iqbal sudah kehabisan kata kata untuk membela diri. Entah karena rasa trauma akibat perlakuan keluarganya, atau karena ada hal lain, sehingga emosi Karin meluap dalam ketenangannya.
Tak ada pilihan bagi Iqbal selain ikut berbaring dan memeluk wanita yang memunggunginya. Pikiran Iqbal terus berkelana, mencari kata agar wanitanya bisa tenang dan tak emosi lagi.
"Tadi Non Belinda dan Aleta mau ngapain, Non?" tanya Iqbal tiba tiba. Entah kenapa justru dua wanita itu yang terlintas dalam pikiran Iqbal. Jika Karin tidak marah, mungkin pertanyaan tersebut sudah Iqbal lontarkan dari tadi.
__ADS_1
"Mereka ngajakin aku piknik ke puncak bareng," jawab Karin setelah tadi sempat terdiam beberapa saat.
"Ya udah, besok aku temenin."
"Nggak usah. Mereka bilang kita hanya bertiga. Katanya mereka kangen piknik bareng sama aku," Iqbal mengulum senyum. Upayanya untuk mengalih perhatian berhasil. Terbukti sikap Karin langsung berubah menjadi hangat seperti biasanya.
"Ngajak piknik? Tumben?" tanya Iqbal yang merasa aneh.
"Aku juga nggak tahu, bahkan mereka tadi minta maaf."
"Hah! Ini sih tambah aneh, terus Non Karin mau gitu di ajak pergi bareng tanpa aku?"
"Tadinya aku nggak mau, tapi mereka maksa gitu sampe memohon segala, Ya udah aku luluh."
"Tapi, Non, kalau mereka nggak tulus gimana? Jangan jangan mereka merencanakan sesuatu untuk Non Karin?"
"Lah, terus aku harus bagaimana, Iqbal? Kalau batalin, takut masalah malah bertambah?"
__ADS_1
Iqbal pun terdiam sembari berpikir mencari jalan keluar.
...@@@@@!...