
"Dan asal kalian tahu, bukan si supir yang menggodaku, tapi aku lah yang menggoda dan menjebak supir karena aku sudah nggak tahan dengan sikap Tomi."
"Apa!" pekik Mami Miranda.
Semua mata kini menatap tajam ke arah wanita yang usianya hampir menginjak angak dua puluh enam tahun. Wanita itu mencoba untuk tidak takut dengan semua tatapan itu.
Kali ini Miranda memang harus jujur. Tak peduli bagaiamana nanti hasilnya, bagi Miranda inilah saat yang tepat. Dia sudah tidak sanggup lagi mentoleril sikap Tomi yang hampir membahayakan nyawanya.
"Jadi benar kamu selingkuh dengan supir itu?" tanya Mami Miranda menegaskan. Miranda dengan tegas mengangguk. Lagi lagi sang bergerak dan menampar anaknya.
Plak!
"Memalukan! Kamu harusnya menjaga harga diri suami kamu? Jangan kayak wanita murah sampai kamu berbuat hal gila, .Miranda!" hardik Mami Miranda terdengar sangat menyakitkann. Miranda tetawa hambar.
"Oh yah? Jadi mami lebih suka aku tidak pernah disentuh suami aku sendiri? Jadi Mami lebih suka aku jadi istri yang masih perawan? Jadi Mami lebih suka aku yang menderita daripada menantu Mami itu?" cerca Miranda pada ibunya. Terlihat sekali dia sangat kecewa dengan sikap orang tuanya. Di saat mereka tahu kenyataan saja, mereka masih buta akan kesengsaraan anaknya sendiri.
"Tapi tidak seharusnya kamu berselingkuh," jawab Mami tajam.
__ADS_1
"Terus aku harus bagaimana? Hah! Apa Mami segitu tidak senangnya melihat anak satu satunya bahagia begitu? Mami lebih bahagia aku susah, begitu? JELASKAN!" bentak Miranda yang sudah tidak tahan dengan sikap orang tuanya.
Semua yang ada disana terkesiap, terutama sang Mami. Dia terbungkam dengan bentakan sang anak.
"Jelaskan! Aku harus bagaimana? Hah! Aku ingin bahagia aja kalian tidak suka!" hardik Miranda dengan air mata yang kembali luruh. Sedangkan sang Mami hanya menatap dan terdiam tanpa berbuat apa apa.
Justru Mami mertualah yang memeluk Miranda. Membiarkan sang menantu menangis dipelukannya. Menumpahkan segala kekecewaan yang Miranda dapat dari Tomi dan orang tuanya.
"Saya nggak paham dengan jalan pikiran anda besan. Apa anda memang tidak suka melihat anak kalian tidak bahagia? Disini anak saya yang salah. Seandainya Miranda anak kandung saya, sudah aku suruh cerai dia dengan Tomi, bukan malah menghinanya," kini ibu mertua buka suara. Dia sangat mengerti keadaan menantunya.
"Sebenarnya Miranda anak kandung anda bukan? Sampai anda bisa setega itu?" lagi lagi orang tua Miranda terkesiap mendengar pertanyaan yang sangat mengejutkan dari besannya.
"Tapi cara anda memperlakukan dia, tidak menunjukkan kasih sayang sama sekali, bahkan dengan teganya anda menyebut anak anda wanita murah. Dimana hati anda sebagai ibu?" cerca ibu mertua. "Aku saja yang bukan ibu kandungnya sangat memahami perasaan Miranda. Coba anda tidak disentuh oleh suami anda, bagaimana perasaan anda?"
Lagi lagi hanya kebisuan yang ditunjukan Mami Miranda. Dia tidak bisa berkata apapun untuk menyangkal besannya.
"Mi, kenapa Mami malah bela Miranda? Di sini tuh aku yang jadi korban, aku yang diselingkuhin, Mi. Tapi kenapa Mami malah lebih membela Miranda daripada anak Mami sendiri!" protes Tomi seenak hati.
__ADS_1
Plak!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Tomi. Hingga membuat mata semua yang ada disana terkesiap.
"Papi!" pekik Tomi pelan. "Kenapa papi ..."
"Kenapa? Nggak terima? Hah!" bentak Papinya Tomi. "Korban apa maksud kamu, Hah! Udah jelas jelas disini yang salah kamu, tapi kamu masih membela diri? Benar benar Papi nggak nyangka kamu sepengecut itu!"
"Wajar aku membela diri dong Pi, aku yang diselingkuhin?" bantah Tomi.
"Terus kalau Miranda nggak selingkuh, apa kamu mau menyentuhnya? Harusnya kamu mikir apa yang kurang dari kamu sehingga Miranda selingkuh dengah supirnya. Kamu cerdas dalam berbisnis, tapi kamu bodoh dalam urusan rumah tangga. Bagaimana tidak bodoh, kamu sendiri tidak menyukai wanita, bagaimana bisa kamu mengerti keadan istrimu." maki Papinya Tomi. Ucapannya sangat lancar tanpa hambatan. Tentu saja ucapannya penuh rasa kecewa. Dia adalah anak tertua. Tapi sikapnya tidak sedewasa adik laki lakinya.
"Dan saya sangat menyayangkan sikap kalian berdua, besan," kini ucapan Papinya Tomi dan arah pandangnya tertuju pada besannya. "Kalian harusnya peka terhadap anak kalian sendiri. Dia memang salah telah berselingkuh. Tapi kalian harusnya juga melihat dengan jelas, apa yang menjadi penyebab Miranda berselingkuh. Kalian bersikap seakan akan Miranda bukan anak kalian. Kalian lebih suka melihat anak kalian menderita apa gimana?"
Lagi lagi hanya keheningan yang Melanda. Hingga beberapa saat kemudian sebuah suara mengejutkan mereka.
"Miranda memang bukan anak kandung kami, besan."
__ADS_1
Deg!!
...@@@@@@...