
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan, terlihat keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut yang basah dan setengah badannya tertutup handuk. Tubuhnya masih terlihat tegap dan bugar. Dadanya menonjol kencang berpadu dengan perut rata dan tercetak sempurna roti sobeknya. Wajahnya juga masih terlihat tampan meski usainya sudah tidak muda lagi.
Dialah Gustavo Aldamofe, pria berdarah Italia yang sebentar lagi akan menyandang status menjadi duda. Entah sudah berapa puluh wanita yang jatuh ke dalam pelukan pria itu. Yang pasti sampai detik ini, masih banyak wanita yang terpesona akan ketampanan dan karisma seorang Gustavo, meski usianya tidak lagi muda.
Handuk yang melilit di tubuhnya, dia lepas dan hempaskan. Diraihnya kaus berkerah dan berlengan pendek serta celana pendek selutut warna abu juga sepatu sport guna menunjang penampilanya. Sepertinya pria itu akan menghabiskan waktu liburnya dengan berolahraga.
Setelah siap dan terlihat rapi, Gustavo segera keluar kamar dan turun ke bawah. Ketika kaki Gustavo berada di lantai bawah, telinga Gustavo mendengar suara ribut dari arah dapur. Gustavo tertegun dan matanya menyipit. Karena penasaran, Gustavo melangkahkan kakinya ke arah suara itu.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Gustavo saat matanya menangkap dua wanita berbeda usia sedang kompak menghadap kompor yang sama.
"Eh, Papa. Papa sudah bangun? Kok sudah rapi? Papa mau kemana?" Bukannya menjawab pertanyaan Gustavo, Selin malah melempar bermacam pertanyaan hingga sang ayah mendengus kasar.
"Papa mau mean tenis sekalian main golf," jawab Gustavo. "Kamu lagi ngapain, Sayang?"
"Ini Tuan, Non Selin lagi minta diajarin masak," bukan Selin yang menjawab tapi Mbok Sum.
"Selin belajar masak?" tanya Gustavo antara percaya dan tidak percaya, sedangkan Selin hanya cengengesan. "Tumben kamu mau belajar masak, Nak?"
"Ya nggak apa apa, kan, Pa, kalau Selin bisa masak. Kata Mbok Sum, kebanyakan, pria itu lebih suka dimasakin istrinya. Maka itu, Selin harus bisa masak, biar disayang sama suami nanti," jawab Selin dengan mata berbinar.
"Suami? Emang kamu sudah siap nikah, Sayang?" tanya Gustavo. Rasa herannya masih jelas terlihat dari wajah pria itu.
"Siap dong, Pa," jawab Selin antusias.
"Emang udah ada calonnya?"
"Udah, dong."
"Emang cowok mana yang mau sama anak Papa?"
__ADS_1
"Cowok kampung, Pa, si Jamal."
"Kok Jamal?"
Selin malah cengengesan sambil bergelayut di lengan Gustavo. "Kata Jamal, sebentar lagi dia dan keluarganya akan datang untuk melamar Selin."
"Hah!"
Sementara itu di kampungnya, Jamal sedang bersama adiknya berada di sebuah dealer. Setelah mendapat ijin dari Emak dan Bapak, kini kakak beradik itu sedang memilih motor matic.
"Mau motor yang mana sih, Mal? Astaga! Dari tadi belum milih juga," ucap Jamal yang sedang duduk dengan pelayan dealer motor dengan merk HENDI. Sedangkan si pelayan hanya tersenyum lebar melihat Akmal dengan wajah bingungnya.
"Bingung, Mas. Semuanya bagus," jawab Akmal tanpa menoleh ke arah kakaknya.
Jamal nampak geleng geleng kepala. "Ya udah, aku aja yang milih," ucap Jamal kemudian dia mengambil selebaran yang ada di meja dan melihatnya. Akmal mendekat dan duduk di kursi sebelah kakaknya.
"Ini aja yah? Bodynya simple dan irit bahan bakar," ucap Jamal sambil menunjuk gambar kepada Akmal.
Jamal terkekeh kemudian dia menghadap sang pelayan. "Aku ambil yang ini, Mas."
"Baik, mau cash atau kredit, Mas?" tanya sang pelayan sambil siap siap mencatat transaksi jual beli.
"Cash aja, Mas. Bisa bayar lewat transfer kan?"
"Bisa, Mas. Ya udah saya catat dulu data masnya dan yang lainya ya?"
Jamal mengiyakan. Transaksi jual beli berlangsung dengan cepat. Setelah urusan motor selesai, Jamal dan Akmal pergi ke tempat selanjutnya yaitu toko emas untuk beli cincin.
Toko emas yang Jamal tuju terlihat sangat ramai jadi Jamal memilih menunggu sejenak sambil duduk di dekat gerobag pedang es dan menikmati es tersebut.
__ADS_1
Pasar terlihat sangat ramai dan udara sangat terasa sangat panas. Dengan santai, Jamal dan adiknya menikmati es sambil memperhatikan tempat sekitar.
"Jamal!" suara seorang wanita terlihat mengejutkan Jamal.
"Eh Mbak Andini," balas Jamal setelah tahu siapa yang memamggilnya.
"Kamu mudik juga?" tanya Andini, kakaknya Rizal.
"Iyaz nih, Mbak," jawab Jamal sambil mengulas senyum.
"Apa kamu pulang bareng Rizal?"
"Enggak, Mbak. Aku duluan malah yang pulang."
"Oh, kirain?" jawab Andini. "Kamu pulang sedang nggak lagi dalam masalah juga, kan, Mal?"
"Hah! Maskudnya, Mbak?" tanya Jamal dengan wajah terkejut.
"Iya, kamu pulang bukan karena ada masalah kan? Nggak kayak Rizal."
"Rizal, emang Rizal kenapa, Mbak?"
"Rizal merusak rumah tangganya majikannya."
"Oh."
Kening Andin berkerut. "Kok kamu nggak kaget, Mal? Apa kamu tahu masalah ini?"
"Sebenarnya Rizal nggak sepenuhnya salah, Mbak. Itu semua gara gara suami dari majikan Rizal, menyukai Rizal, Mbak."
__ADS_1
"Hah!"
...@@@@@...