
Mendengar anak majikannya telah pergi dari kantor Tuan Gustavo, Jamal langsung syok. Bagaimana bisa Selin pergi begitu saja? Apa yang terjadi? Kenapa Non Selin pergi begitu saja tanpa memberi tahunya? Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benak Jamal.
Setelah mendapat kabar dari Gustavo, Jamal langsung berusaha menghubungi ponsel Non Selin. Terhubung, namun tidak mendapat respon. Raut panik pun langsung menyergap di wajah dan hati Jamal.
Sementara dari dalam taksi, Selin termenung menatap tepi jalanan dengan air mata yang terus mengalir. Ponsel di dalam tasnya yang terus berdering, dia biarkan saja tanpa ada niat untuk merespon. Hingga supir taksi berkali kali memperhatikan penumpangnya dari kaca spion.
"Kita kemana, Non?" tanya sang supir setelah perjalanan lumayan cukup jauh.
Selin menoleh ke arah supir sambil berpikir sejenak mau pergi kemana dia saat ini? Hingga beberapa saat kemudian dia teringat club dimana dia akhir akhir ini sering mengunjungi club tersebut sejak pengkhiatan Mamah dan kekasihnya.
"Ke jalan Bank barat, pak," balas Selin.
"Baik," jawab pak supir. Dan taksi pun segera melaju ke arah yang dituju.
Sementara Jamal sudah melajukan mobilnya menyusuri jalan sembari terus menghubungi nomer telfon Non Selin. Tapi usahany tidak membuahkan hasil. Dia pun semakin panik. Pikirannya terus berkelana dan menduga duga apa sebenarnya yang terjadi.
Tak butuh waktu lama, Selin telah sampai di tempat tujuan. Sebuah club yang lumayan terkenal dikalangan anak muda. Terutama anak anak sultan. Disinilah mereka sering berkumpul menghabiskan uang orang tuanya.
Penjaga club yang sudah familiar dengan Selin dengan senang hati mempersilakannya masuk dan Selin segera saja masuk ke dalam, berpesta, guna menghilangkan rasa sesak dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.
Waktu terus berlalu hingga malam menjelang, Jamal terus berusaha menghubungi Selin. Hingga panggilan ke sekian kali, tiba tiba telfon Selin ada yang mengangkatnya.
"Hallo! Non! Non Selin!"
"Loh ini, siapa?"
__ADS_1
"Oh, yayaya, baik, tolong kirim lokasinya yah?"
"Oke makasih."
Klik.
Setelah telfon di tutup, Jamal langsung melajukan ke arah dimana Selin berada. Rupanya yang menerima panggilan adalah karyawan club. Sesuai lokasi yang ditunjukan, Jamal memacu kecepatan yang lumayan tinggi agar lekas sampai karena Selin sedang tidak baik baik saja. Jamal juga tidak lupa memberi kabar kepada Tuan Gustavo tentang Selin yang sudah ketemu.
Tak lama kemudian sampailah Jamal di tempat yang dia tuju. Tak pernah terpikirkan dalam hidup Jamal, dia akan memasuki sebuah club. Tapi dia harus masuk menjemput Non Selin yang ada di dalam.
Setelah turun dari mobil, Jamal mendekat ke pintu masuk. Setelah memberi tahu tujuannya kepada penjaga, Jamal pun dipersilakan ke dalam.
Sesampainya di dalam, Jamal dibuat takjub dengan apa yang dilihatnya. Ada yang joget joget tidak jelas, ada yang bermesraan, bahkan ada yang perang bibir dan saling tindih. Ruangannya menyesakkan. Bau rokok dan Alkohol menyeruak. Jamal pun langsung mencari sosok yang dia khawatirkan.
Setelah menelusuri beberapa sudut, akhirnya mata Jamal menemukan sosok wanita yang dia cari duduk sendirian di sebuah kursi mirip sofa. Jamal langsung melangkah ke tempat Selin berada.
"Saya yang menelfon mencari nona ini," jawab Jamal. "Apa anda yang mengangkat telfon saya?"
"Oh iya, dia sepertinya mabuk berat," ucap si pelayan.
"Oh baik, terima kasih telah menjaganya,"
Jamal pun langsung mendekat begitu karyawan club pergi. Dia duduk disebelah Selin.
"Non? Non Selin? Kita pulang yuk?" ucap Jamal lirih.
__ADS_1
Selin yang sedang mabuk mendongak. Matanya memerah. Entah berapa gelas yang sudah dia minum. Tapi sepertinya dia masih memiliki kesadaran.
"Eh, ada supir tampanku," racau Selin khas orang mabuk.
"Kita pulang ya, Non? Yuk," bujuk Jamal.
"Nggak mau, aku nggak mau pulang, aku mau tetap disini," racau Selin manja.
"Jangan! Nanti tuan marah," tolak Jamal. Tapi Selin tak peduli.
Selin beringsut mendekati tubuh Jamal dan tiba tiba kedua tangan Selin melingkar ditubuh supirnya. Jamal pun terkejut. Baru kali ini ada wanita yang memeluknya.
"Non?" pekik Jamal sambil berusaha melepas pelukan Selin. Tapi pelukan itu malah semakin kencang.
Mata sayu Selin mengedar ke sekeliling. Dia melihat sesuatu di seberang meja yang lain. Selin pun tersenyum. Dia melepas pelukannya membuat Jamal merasa lega.
Tapi Jamal kembali dibuat panik saat tiba tiba Selin meringsek dan duduk dipangkuan menghadapnya.
"Non Selin mau ngapaian?" tanya Jamal panik.
Selin menangkup wajah Jamal, dia tersenyum. "Kamu tampan sekali, Jamal."
Dan kepala Selin langsung maju.
Cup!
__ADS_1
Mata Jamal membelalak. Selin menempelkan bibir di atas bibir supirnya dan memagutnya
...@@@@...