
"Papa!"
Selin!"
Dua orang yang sudah lama tak saling sapa itu tak sengaja bertemu di dalam sebuah Mall. Setelah makan bakso, Selin dan Jamal memutuskan menghabiskan waktu berdua mengitari sebuah Mall tanpa ada niat membeli sesuatu. Beruntung, Jamal saat itu sedang menuju stand minuman dan Selin memilih menunggu Jamal di tempat duduk yang ada di situ dan tak terlalu jauh dengan tempat penjual minuman berada.
Melihat sang anak yang sedang duduk menyendiri membuat Gustavo melangkah mendekati anaknya. Meskipun Selin adalah anak dari kesalahannya di masa lalu, tapi Gustavo sangat menyayanginya.
"Kamu lagi ngapain disini, Sayang? Jamal mana?" tanya Gustavo begitu mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Selin. Kursi panjanga yang seperti berada di ruang tunggu rumah sakit itu nampaknya memang sengaja disediakan pengelola Mall sebagai tempat untuk istirahat. Ada beberapa kursi yang sama di sekitar sana.
Jamal yang awalnya terkejut melihat Tuan Gustavo berada di sisi Selin pun menyunggingkan senyumnya. Dia merasa senang melihat pemandangan bapak dan anak tersebut.
"Papa ngapain disini? Kok sendirian?" bukannya menjawab, Selin malah melempar tanya dengan ragu sembari matanya mengedar ke sekitar. Dalam pikiran Karin kali saja Gustavo sedang sama perempuan lain.
"Papa habis ketemu klien, nak. Papa memang sengaja sendiri. Sekretaris papa sudah kembali ke kantor," jelas Gustavo dengan lantang meski hatinya berdegup kencang. Selin pun hanya mengangguk dan ber'oh' saja menanggapi ucapan ayahnya. keduanya masih saling merasa canggung setelah pertengkaran beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Selin nggak kangen sama Papa?" tanya Gustavo sambil membelai lembut rambut putrinya.
"Papa jangan seperti ini sih, malu," protes Selin sambil matanya memindai ke sekitarnya karena banyak pasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Malu kenapa?" tanya Gustavo, antara heran dan kecewa mendengar penolakan anaknya.
"Tuh banyak yang lihatin, entar mereka pikir aku simpenan om om lagi," gerutu Selin. Sontak saja tawa Gustavo pecah. Rasa kecewa yang baru saja bergelayut dalam hatinya seketika menghilang menjadi rasa hangat dan bahagia tak terkira. Jamal yang sengaja memberi ruang untuk bapak dan anak itu dengan mengambil duduk di tempat lain, tersenyum senang melihatnya.
Sementara itu di sebuah apartemen, suara rintihan nikmat menggema dari mulut wanita yang telah lama mengharapkan sentuhan seorang pria. Dialah Belinda, wanita berparas cantik saat ini sedang melepas rindu dengan menyerahkan dirinya dalam sentuhan laki laki yang baru saja di kenalnya.
Laki laki beruntung itu bernama Rio. Lelaki tampan yang brengsek itu kini sedang membenamkan wajahnya di antara dua paha yang membentang milik Belinda.
Tak lupa, Rio pun memasukan jari tengah tangan kanannya dan menyodok lubang nikmat Belinda.
"Rio, tanganmu jangan nakal," racau Belinda dengan terus mengeluarkan suara kenikmatanya.
__ADS_1
"Nikmati aja, Sayang," balas Rio terdengar nakal. Tangan kiri Rio terulur ke arah dada dan memijat dua bukit yang lumayan besar dan kenyal, semakin membuat tubuh Belinda menggeliat tak beraturan bersama dengan racauan suara kenikmatan.
"Rio aku mau nyampe," racau Belinda dan racauan itu semakin membuat Rio menambah gerakan jari di dalam lubang nikmat Belinda. Lidah rio pun turut bekerja di bawah sana.
Dan benar saja, tak butuh waktu lama tubuh Belinda mengejang dan bergetar hebat. Tubuhnya terangkat bersama lengkingan suara nikmat.
"Aakh!" dan keluarlah air putih nan kental membasahi jari Rio. Jari yang basah, Rio arahkan ke mulut Belinda dan dengan senang hati lidah Belinda menjilatnya hingga tak tersisa.
"Kamu curang, Rio. Aku udah sampai puncak, tapi kamu belum lepas pakaian sama sekali," protes Belinda dengan nafas terengah engah di sela sela menjilati jari Rio.
"Hahaha ... maaf, sayang. Abis aku gemas melihat tubuh kamu," ucap Rio sembari menarik jari tangannya dan kembali membenamkan mulutnya di bawah perut Belinda. Lidah Rio menyapu bersih area lubang nikmat tersebut. Setelah merasa cukup, Rio pun bangkit dan berdiri.
"Buka celana ku dong, Bel. Gantian mulut kamu yang bermain," titah Rio setelah terlebih dulu melepaskan kaos yang menempel di tubuhnya.
Dengan antusias meski terasa lemas, Belinda langsung duduk di hadapan Rio dan tangannya dengan cekatan membuka ikat pinggang dan resleting celana panjangnya. Celana serta boxer Rio langsung Belinda turunkan selutut dan betapa takjubnya Belinda saat melihat benda menegang milik Rio.
__ADS_1
"Wah! Gede banget!"
@@@@@@