TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 275


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


"Sayang! Cepetan sih? Acara akadnya sebentar lagi loh," teriak seorang pria yang sudah nampak rapi dengan kemeja batik berwarna coklat, celana panjang jeans warna hitam dan sepatu pantofel dengan warna hitam mengkilap. Pria itu sedikit tidak sabar menunggu wanita yang sudah sah menjadi istrinya sejak satu bulan yang lalu.


Dialah Iqbal. Pemuda desa yang akhirnya menikah dengan anak majikannya. Bukan tanpa alasan mereka menikah lebih cepat dari dua sahabatnya. Iqbal memutuskan menikah lebih dahulu juga atas desakan keluarga kedua belah pihak.


Hubungan Iqbal dan Karin yang sudah sangat kebablasan membuat kedua keluarga sepakat menikahkan mereka. Orang tua mereka tidak mau anak anaknya tidak bisa menahan godaan lagi jika hubungan mereka tidak segera disahkan. Apa lagi sejak kecelakaan, Karin selalu ingin dekat dengan Iqbal.


Keluarga Karin juga sekarang keadaanya sudah jauh lebih baik. Amanda dan Martin tidak jadi bercerai. Belinda dan Aleta juga mendapatkan lelaki bule dan mereka juga akan menikah. Karena kedua anaknya ingin tinggal diluar negeri, maka untuk urusan kantor mau tidak mau diturunkan ke Iqbal nantinya.


Meskipun berat, Iqbal tentu senang menerimanya. Dia jadi bisa mempelajari seluk beluk usaha yang begitu besar milik mertuanya. Sedangkan Karin masih melanjutkan kuliahnya karena Karin juga akan meneruskan usaha milik keluarga bersama suami.


Karin juga diterima baik di keluarga Iqbal. Malah dia betah jika nginep di rumah mertuanya. Suaasana hangat meski dalam kesederhanaan. Seperti saat ini, Karin sedang bersiap diri di dalam kamar yang dulu digunakan Iqbal sewaktu masih bujang.


"Sayang ..." panggil Iqbal lagi.


"Iya, iya ... astaga! Nggak sabaran banget sih?" gerutu Karin saat keluar kamar. Dia juga memakai kebaya yang di padu dengan batik yang warna dan coraknya sama persis dengan batik yang Iqbal pakai.


"Ya abis make up aja lama banget, orang udah cantik juga," ucap Iqbal membela diri sekalian menggombal.


"Kan biar lebih cantik lagi. Nggak malu maluin suami saat diajak kondangan," balas Karin tak mau kalah.


"Kamu tuh justru lebih cantik kalau lagi nggak pake baju, Sayang. Apa lagi sampai berkeringat. Ugh! Cantikmu sangat sempurna, Sayang."


"Ih apaan sih, dasar mesum."


"Udah ayok berangkat!"

__ADS_1


"Entar dulu," cegah Karin sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. "Nih!"


"Apa ini?" tanya Iqbal sambil menerima bungkusan berupa kado. "Kado buat pengantin?"


"Buat kamu lah," balas Karin gemas.


"Buat aku? Aku kan nggak lagi ultah, Sayang?"


"Buka aja apa susahnya sih."


Iqbal pun pasrah dan menurutinya. Dia segera membuka kado kecil berbentuk persegi panjang. Kening Iqbal berkerut saat melihat isinya. Namun kerutan itu segera menghilang saat dia melihat dua garis merah pada tiga benda yang berbeda.


"Sayang, ini ...?" ucap Iqbal tak sanggup meneruskan kata katanya sambil menunjukan tiga buah alat tes kehamilan.


Karin pun mengangguk sambil tersenyum dan mengusap perutnya.


"Selamat ya, Sayang. Kamu mau jadi, Ayah," ucap Karin penuh rasa haru. "Sudah ayok berangkat. Nanti telat loh."


Iqbal sontak melepas pelukannya lalu memasukan tiga hasil tes itu kedalam saku celananya.


"Itu hasil tesnya ngapain dikantongin?"


"Mau aku pamerin sama dua sahabatku."


"Astaga!"


Akhirnya sepasang suami istri pun berangkat. Keluarga Iqbal yang lain sudah berangkat terlebih dahulu karena harus membantu keluarga yang punya acara. Jarak gedung berlangsungnya acara memang dekat. Makanya tidak sampai sepuluh menit, Iqbal dan Karin sudah sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


"Kalian baru sampe?" tanya seorang wanita saat mereka hendak memasuki gedung.


"Iya nih, Mbak," balas Iqbal. "Akadnya belum di mulai kan?"


"Belum. Kamu ditungguin Jamal tuh disana. Biar Karin ikut aku aja."


Ya udah, tolong jagain ibu hamil ya, Mbak."


"Ibu hamil?" tanya Rini terkejut. Iqbal dan Karin hanya tersenyum. Kamu hamil, Rin?" Karin mengangguk. "Alhamdulillah. Ya udah yok masuk. Ibu harus tahu."


Kedua wanita itu lantas masuk ke dalam gedung sedangkan Iqbal melangkah ke arah bangunan di samping gedung untuk menemui Jamal.


"Wuih! Udah pada ngumpul aja nih," seru Iqbal begitu masuk dan melihat dua sahabatnya sedang ngobrol.


"kamu baru datang, Bal? Siang banget?" protes Jamal.


"Sorry masbos, tadi ada kejadian tak terdug di rumah jadi sedikit telat," jawab Iqbal beralasan sambil cengengesan.


"Kejadian apaan, kok kamu malah kayak senang gitu?" tanya Rizal heran.


Masih dengan cecengesan, Iqbal merogoh sakunya dan menunjukan benda yang dia bawa. Rizal dan Jamal sedikit tercengang melihat benda yang kini ada di tangan mereka. Mereka memperhatikan dengan sesama. Tak lama kemudian mata mereka melebar.


"Istri kamu hamil?"


"Ya dongs."


"Wuih! Keren!"

__ADS_1


__ADS_2