
Panas sungguh terasa sangat menyengat. Bahkan panas kali nyaris tanpa angin sepoi sepoi, jadi panasnya sangat terasa. Mungkin banyaknya gedung dan berkurangnya lahan hijau, menjadi faktor utama yang menyebabkan kota ini begitu panas.
Berbanding terbalik dengan kehidupan di kampung. Terutama kampung yang lumayan terpencil. Meski panas begitu terik, tapi masih ada kesejukan dari pohon pohon yang masih terpelihara di kebun atau hutan.
Tapi panasnya diluar, tidak mempengaruhi para pekerja kantoran yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan bagian masing masing. Bahkan panas diluar juga tidak mempengaruhi dua sosok pria yang nampak sedang bercengkrama di dalam sebuh kantor. Wajah keduanya nampak serius. Mungkin memang ada pembicaraan penting yang sedang mereka diskusikan.
"Jadi, apa yang akan kamu rencanakan? Apa kamu akan bertindak dengan kekerasan?" tanya pria berdasi yang sedang memangku laptopnya.
"Nggak lah, Mas. Nggak perlu pake kekerasan. Kalau cara halus ada. Aku cuma pengin ngasih peringatan sama Tante sandra," ucap pria muda yang saat ini memakai kaos ketat berwarna hujau tosca dan celana panjang hitam. Jaketnya sengaja dia lepas dan ditaruh disebelahnya.
"Apa kamu nyesel? Telah mengkhianati pacar kamu demi selingkuh dengan ibunya? Dan tuduhan kamu itu terbukti benar atau tidak, Rio," ucap si pria berdasi sembari menatap pria tampan dihadapannya.
"Benerlah, orang tadi aku lihat dengan mata kepala sendiri kalau Tante Sandra masih berusaha mendekati supir sialan itu. Heran, apa hebatnya Jamal sih? Sampai semua pada suka sama dia? Orang kampung juga," sungut Rio kesal.
__ADS_1
"Jamal dan teman temannya memang punya daya tarik sih kalau menurutku. Buktinya semuanya hampir pada suka sama mereka. Meski mereka anak kampung tapi sepertinya mereka bukan orang sembarangan," ucap Tomi sembari menaruh laptopnya di atas meja kemudian meraih kopinya di meja yang sama.
"Daya tarik apaan? Cakep doang, aku juga nggak kalah cakep. Kalau punya daya tarik lebih, nggak mungkin mereka mua jadi supir," sungut Rio merasa tak terima dengan ucapan Tomi yang seakan membela Jamal dan dua temannya.
"Buktinya Tante Sandra sampai tertarik, berarti memang mereka memiliki pesona yang membuat semuanya tertarik. Sama seperti Sandra, aku juga tertarik dengan supirnya istriku. Apa lagi dia sangat sulit untuk ditaklukan, benar benar tertantang aku," ucap Tomi berapi api.
"Terus gimana? Apa Candra sudah menemukan bukti kalau mereka berselingkuh?" tanya Rio sembari merebahkan badannya di atas sofa yang dia duduki.
"Kenapa nggak di jebak pakai obat tidur aja, bukankah itu lebih mudah ya, Mas? Secara Rizal kan tinggal bareng sama kalian," ucap Rio. Meski dia tahu celananya sedang dibuka oleh Tomi, tapi dia pasrah aja. Karena Rio tahu, setelah Tomi puas bermain dengan batang miliknya, Tomi akan mentransfer sejumlah uang yang lumayan banyak.
"Sayangnya tidak semudah itu, Rio. Istriku kayak terkesan sangat melindungi banget supirnya. Mungkin istriku juga suka sama dia," jawab Tomi sembari tangannya memainian batang Rio yang sudah berhasil dia keluarkan dari sarangnya.
"Coba Mas Tomi pura pura menculik Miranda."
__ADS_1
"Menculik Miranda? Maksudnya?"
"Gini, Mas Tomi bayar orang lah buat menculik Miranda. Minta tebusan sejumlah uang. Nanti uang itu suruh dianter oleh si supir. Otomatis si supir akan nolongin majikannya dong, nah dengan cara seperti itu, Mas Tomi manfaatkan keadaan. Mas Tomi harus bisa sandiwara, mengabulkan permintaan si penculik. Suruh Si supir mengantar apa yang diminta penculik. nyari tempat yang sepi buat ketemuan. Dari situ orang suruhan Mas Tomi harus bisa membuatnya pingsan. Nah setelah pingsan baru deh Mas Tomi rekayasa kalau si supir dan Miranda tidur bareng. Dari situ, Mas Tomi bisa menggunakan hal itu buat menduduh supir dan Miranda selingkuh terus Mas Tomi ancam agar Rizal mau nurutin permintaan Mas Tomi. Kalau tidak bukti perselingkuhan akan menyebar."
Sesaat tangan Tomi berhenti memainkan batang milik Rio. Dia terdiam sembari mencerna ucapan Rio. Dari senyum yang terlihat, sepertinya dia setuju dengan ide Rio.
"Ide bagus itu, Ri. Baiklah, kalau aku tidak bisa menemukan bukti perselingkuhan, ya bikin aja bukti itu. Ide bagus."
"Pasti, dong."
Tomi pun tersenyum senang. Dia mengarahkan mulutnya untuk melahap batang Rio yang mulai menegang. Hap!
...@@@@@...
__ADS_1