Timer Me

Timer Me
Bab. 10. Penyemangat Wardana


__ADS_3

“Mah, Rara pulang!” Teriak Rara yang baru memasuki rumah megahnya itu.


“Assalamualaikum dulu kenapa Ra. Masa iya udah 16 tahun hidup di bumi belum juga kamu hafal Assalamualaikum?” Jawab Mama Rara yang terlihat sabar.


Ia sudah terbiasa dengan kelakuan anaknya yang suka sekali masuk tanpa mengucapkan Assalamualaikum.


“Assalamualaikum Mama Rara yang paling cantik sedunia,” ujar Rara sambil berlarian kecil.


“Waalaikumsalam,” jawab Mama Rara masih dengan kesabaran penuh.


Saat Rara ingin naik ke tangga, Mamanya bertanya.


“Ra kok kamu pulang jam segini? Bukannya sekolah mu itu pulangnya jam 2 siang? Atau Mama udah pikun?” Tanya Mamanya karena bingung Rara pulang se sore ini.


“Mama gak salah kok, Rara memang jam pulangnya 2 siang kok. Cuma tadi ada urusan sedikit jadi Rara agak lama. Terus Rara masih ke kafe bareng teman-teman buat refreshing. Capek banget mah hari ini pelajarannya ngitung semua,” jawab Rara bohong.


Mana ada iya mau jujur ke Mamanya kalau ia seharian ini bersama Jefran.


“Ya sudah Mah, Rara capek banget mau mandi terus tidur,” ujar Rara kemudian berjalan menaiki tangga.


Kamarnya berada dilantai 2 rumah tersebut. Mamanya Rara pun pergi ke ruang keluarga berniat menonton drama kesukaannya ditelevisi.


“Duh benar yah kata orang, kalau kita sabar nungguin jodoh pasti jodoh datang,” ujar Rara yang sedang berbaring dengan handuk melekat di kepalanya.


Ia baru selesai menyelesaikan ritual mandinya yang berjam-jam dan tidak lupa keramas. Tiba-tiba Rara kepikiran kejadian yang tadi terjadi kepadanya. Saat Jefran mencium keningnya. Ia meraba kening yang tadi dicium Jefran sambil tersenyum.


“Duh sumpah nih hari gue pengin gila deh. Disekolah dia meluk gue. Terus di apartemennya gue lihat roti sobek. Setelah itu dia meluk gue dan nyium gue, mana tadi sebelum pulang dia elus pala gue dan manggil pakai sayang pula. Ah kayanya gue udah gak waras deh,” ucap Rara sambil teriak.


Ia menggulingkan badannya kesana kemari akibat mengingat kejadian hari ini. Karena terlalu capek Rara pun tertidur dengan handuk yang masih melekat dikepalanya.


Ditempat berbeda seorang lelaki sedang berbaring sambil melihat sebuah foto. Foto itu adalah fotonya Rara yang sedang tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih. lelaki tersebut adalah Jefran. Ia tidak tahu sejak kapan rasa ini muncul secara tiba-tiba tapi baru dia rasakan hari ini.

__ADS_1


Ia memegang bibirnya yang tadi mencium Rara. Tidak tahu keberanian dari mana yang datang secara tiba-tiba sehingga membuat Jefran berani mencium Rara.


Untung keadaan saat itu bersahabat dengan dirinya ketika ia mencium Rara. Rara yang tidak menolak sentuhan bibir itu membuat Jefran kembali tersenyum malu.


“Duh, gue mikirin apaan coba. Jef istighfar Jef istighfar. Itu anak cewek orang lo pikirin terus,” ucap Jefran kepada dirinya sendiri sambil mengelus dada untuk memperbanyak istighfar. Beuh, pas nyium Rara aja senengnya minta ampun malah minta tambah. Ini udah kejadian baru mau istighfar.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat tapi dua sejoli ini masih semangat bermain basket.


“War, udah dulu kamu terlalu semangat hari ini. Istirahat dulu yok,” ucap Alfius kepada Wardana.


Hari ini adalah hari dimana Alfius resmi menjadi pelatihnya Wardana. Mereka berdua sudah dari jam 4 sore yang lalu latihan basket, tapi sampai detik ini mereka berdua belum juga selesai latihan.


“War nih air buat kamu,” Alfius menyodorkan air dingin yang diambilnya dikulkas belakang.


“Makasih yah kak Alfius. Aku minum dulu yah,” ucap Wardana setelah menerima air tersebut.


Alfius merapikan anak rambut yang menutupi wajah Wardana dan mengenai bibir Wardana.


“Nah kalau gini kan baru cantik terus kamu kalau minum gak keselek rambut sendiri,” lanjut Alfius kemudian mengambil air dan meminum. Wardana yang baru mendapatkan perlakuan seperti itu pun menyunggingkan senyum tipis.


Setelah 20 menit bermain lagi akhirnya mereka pun berhenti karna waktu yang sudah menunjukkan pukul 22.00. Mereka berdua pun kemudian pergi ke loker masing-masing mengambil tas.


“Bro tumben lo mau ambil anak didik cewek. Biasanya gue kasih gak mau. Eh yang ini gak pakai cang cing cong langsung gas aja. Nih pasti lo suka kan sama dia. Ayok jujur!“ Goda teman Alfius yang dekat dengannya di basket.


“Ngawur banget lo. Mending pulang dari sini lo langsung periksa deh ke dokter siapa tahu nih yah kesehatan mental lo lagi bermasalah,” jawab Alfius emosi.


“Cieee, udah ketangkap malah ngelak pula. Gue tahu lo suka sama dia kok, semangat yah bro,” ucap temannya sambil memukul bahu Alfius.


Alfius yang terkesan dingin langsung berjalan meninggalkan temannya. Wardana sudah menunggu Alfius diparkiran tempat dimana motor Alfius terparkir. Mobilnya Wardana sebenarnya sudah jadi dan sudah keluar dari bengkel.

__ADS_1


Ia seharusnya membawa mobil ke tempat kursus, tapi karena tadi Alfius menjemput, ia pun pergi bareng dengan Alfius. Alasan Alfius biar sampai ke sana ia tak repot mencari parkiran karena itu akan membuang waktu. Katanya sih biar latihan lebih awal supaya pulang nya ga kemalaman. Tapi sepertinya alasan itu terlihat basi bagi sebagian orang, jujur saja Alfius ingin berduaan bersama Wardana. Ia merindukan pelukan Wardana.


“War, kamu pegangan yang kuat yah,” ujar Alfius sambil memegang tangan Wardana menuntunnya untuk memeluk Alfius.


“Siap kak. Ngomong-ngomong kita mau kemana kak?” Tanya Wardana bingung.


“Sudah, kamu ikut saya saja. Terus saya mau kasih tahu satu lagi. Jangan panggil saya Kakak, panggil saja Al karena kita seumuran,” jelas Alfius.


Belum Wardana menjawab, Alfius sudah tancap gas dan mereka pun melaju dengan kecepatan sedang. Dijalan Wardana terlihat sangat gembira karena dia bisa jalan-jalan. Apalagi jalan kali ini bersama seorang lelaki yang baru dia kenal. Lelaki dengan sifat hangat didalam tapi dingin diluar membuat hidup Wardana semakin berwarna.


Hampir setengah jam perjalanan yang mereka tempuh dan akhirnya mereka berdua sampai ke sebuah kafe kecil di atas bukit.


“War, ayok turun ini sudah sampai!” Ajak Alfius menyadarkan Wardana yang masih stay memeluknya erat dari belakang.


Mereka berdua masuk ke dalam kafe tersebut. Cafe tersebut memiliki nuansa yang damai dan adem serta dekorasi serba coklat membuatnya makin terlihat cantik.


“War, kita duduk disana saja yah,” ucap Alfius sambil menunjuk ke arah meja dipojokan.


“Kak, eh maksudnya Al!” Panggil Wardana.


“Heum. Kenapa War? Kamu gak suka sama tempat ini?” Jawab Alfius.


“Bukan gitu, aku malah suka banget sama tempat ini,” ujar Wardana.


“Terus kenapa kamu manggil aku?” Tanya Alfius.


“Oh itu Al, kenapa kamu ngajak aku ke sini?“ tanya Wardana bingung karena Alfius mengajaknya ke cafe ini.


“Ini sebagai hadiah pertama kamu jadi murid aku War. Kamu itu murid pertama yang aku ajarin, jadi aku mau kamu itu jadi seorang yang spesial,” jawab Alfius kemudian sibuk melihat daftar menu.


Wardana dibuat malu-malu oleh Alfius. Perlakuan Alfius sangat manis untuk Wardana. Walaupun terkesan agak kaku, tapi Wardana suka. Ini adalah yang pertama kali yang dilakukan Alfius semasa hidupnya.

__ADS_1


Dikehidupannya sebelumnya Alfius hanya hidup dengan kegiatan sekolah dan basket. Tapi disaat Wardana hadir dalam hidupnya, secara tiba-tiba kebiasaannya yang selalu dingin kepada wanita perlahan cair.


__ADS_2