Timer Me

Timer Me
Bab. 18. Flasback Sosok Nadya


__ADS_3

Malam itu merupakan malam yang terasa sangat panjang bagi Lidya dan Angga, tidak seperti malam pada umumnya. Bagaimana tidak, mereka berdua duduk makan bersama. Bukannya tidak suka duduk bersama, hanya Angga lebih memilih diam. Ketika bersama Lidya bayangan Nadya akan terus muncul dipikirannya.


Dengan melihat Lidya tersenyum saja, senyum Nadya yang terlihat jelas bukan Lidya lagi. Jangankan dengan senyuman, suara Nadya dan Lidya pun sangat persis, apalagi dengan nada dan cara berbicara mereka tidak beda jauh.


Flashback on.


Beberapa tahun yang lalu Angga adalah anak laki-laki yang terlihat sangat bahagia. Dengan kehadiran Nadya membuat kehidupan Angga menjadi lebih berwarna. Dengan tingkah lucu dan random yang dimiliki oleh Nadya membuat Angga jatuh cinta kepadanya. Saat itu Angga baru saja menginjak bangku sekolah menengah pertama.


Walaupun masih SMP, tapi sifat Angga sangatlah dewasa. Bukan hanya itu, otaknya seperti otak anak SMA. Setiap materi yang diberikan akan diserap begitu cepat dan tugas-tugas terasa begitu mudah baginya. Jangan heran, Kakaknya yang seorang guru muda selalu mengajarinya pelajaran SMP saat dia SD.


Keluarganya pun juga tidak kalah pintar. Kakak Angga menjadi guru saat umurnya masih menginjak usia 19 tahun. Tidak bisa dipungkiri kepintaran kakaknya tidak lepas dari gen Ibunya yang juga sangat pintar. Kakaknya yaitu Pak Nathan menempuh SMP hanya 2 tahun dan SMA 1 tahun saja. Terlepas dari kepintaran Pak Nathan, kita kembali lagi ke kehidupan Angga dan juga Nadya.


Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi yang berarti jam istirahat. Saat Nadya ingin keluar kelas, Angga menahannya dan mengajak Nadya ke taman sekolah. Mereka duduk dibangku taman.


“Nad, maaf sebelumnya yah tapi aku mau ngomong sesuatu ke kamu,” Angga gugup.


“Mau ngomong apa Angga?” Jawab Nadya.


“Aku sebenarnya suka sama kamu sejak awal kita ketemu. Aku tahu kita baru saja kenal dan pasti kamu belum bisa kasih jawaban, aku juga gak berharap untuk kita pacaran karena aku tahu kalau kita itu masih kecil dan belum boleh pacaran. Aku cuman mau waktu kamu buat aku aja, aku janji pas SMA, kamu bakalan aku resmiin jadi pacar, gimana?” Tutur Angga panjang lebar.


Nadya yang bingungpun tidak tahu harus menjawab apa.


“Angga, untuk saat ini aku belum bisa jawab yah. Tapi aku janji bakal kasih jawaban ke kamu jika aku sudah yakin,” jawab Nadya.


“Aku kasih waktu seminggu, kalau kamu belum jawab pernyataan ku ini maka aku simpulkan kalau kamu menolaknya,” ujar Angga kemudian berjalan tak tahu ke mana meninggalkan Nadya yang masih terduduk dengan pikiran nya sendiri.


Nadya, gadis kecil yang telah mengambil hati Angga secara cepat. Menggunakan kacamata dan memiliki senyuman yang manis. Ini adalah ciri khas dari wajah seorang Nadya. Banyak yang tidak tau tentang asal usul keluarga Nadya karena dirinya yang begitu tertutup. Ia sangat pendiam dikelas dan tidak banyak tingkah seperti kebanyakan anak SMP pada umumnya.

__ADS_1


Hal ini yang membuat seorang Angga Adhitama jatuh cinta kepadanya. Sifa nya yang juga lemah lembut, membuat setiap orang akan betah jika bersama dengannya dalam waktu lama.


Setiap hari Angga selalu mencari-cari alasan agar bisa bersama dengan Nadya. Mulai dari meminta Nadya menemaninya pergi bersama ke kantin, sampai pulang bersama walau ditolak secara halus oleh Nadya berkali-kali.


Angga tidak putus asa dan terus membuat Nadya agar cepat jatuh cinta kepadanyanya. Tak terasa waktu cepat berlalu dan hari ini tepat seminggu setelah ungkapan cinta Angga kepada Nadya dinyatakan. Angga hari ini lebih banyak tidur di kelas di mbandingkan dengan biasanya yang sering keluar ke kelas dan ikut bermain dengan teman-temannya. Ia sangat gugup akan hari ini, apakah ia akan mendapatkan kata penerimaan atau pun penolakan?


Ia sedang mempersiapkan mentalnya untuk menerima kenyataan jika saja Nadya menolaknya. Ia pun memberanikan diri menghampiri Nadya dan mengajaknya berbicara.


“Nadya.” Panggil Angga.


Nadya yang dari tadi sibuk bergelut dengan buku pelajaran pun melepaskan buku itu dan menatap Angga.


“Iya, kenapa Angga?” Sahut Nadya menatap Angga.


“Sebentar sepulang sekolah aku tunggu kamu di taman yah. Aku mau dengar jawaban kamu karena ini sudah satu minggu sesuai perjanjian,” ujar Angga kemudian pergi keluar kelas tak tahu ia pergi kemana.


Keadaan kelas saat itu tidak ada guru karena semua guru sedang mengadakan rapat. Nadya masih terpaku mendengar ucapan Angga. Ia masih bimbang akan Jawabannya, tapi semoga jawaban ini akan membuatnya tidak bingung lagi.


Sesuai janji tadi, Nadya pergi menghampiri Angga yang sudah duduk manis dibangku taman Sambil memainkan ponselnya.


“Angga.” Teriak Nadya menyapa Angga.


Angga yang mendengar suara itu langsung bangun dan menyuruh Nadya duduk disampingnya.


“Jadi gimana? Kamu mau atau enggak?” Tanya Angga langsung keintinya saking tidak sabarnya.


“Setelah dipikir-pikir aku mengambil keputusan dan jawaban ku iya,” jawab Nadya sambil menunduk malu.

__ADS_1


Angga yang mendengar jawaban itu langsung berdiri dan berloncat-loncat seperti anak kecil. Tapi memang kenyataannya ia masih kecil, kan baru SMP.


Setelah kejadian itu mereka makin dekat. Teman sekelas mereka tidak tahu apa-apa tentang kedekatan mereka berdua, mereka berdua sangat mulus menyembunyikan hubungan mereka di depan banyak orang.


Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama di rumahnya Angga. Pak Nathan selaku kakaknya menerima baik kehadiran Nadya dihidup Angga.


Pak Nathan sudah menganggap Nadya sebagai bagian dari keluarga mereka. Bukan hanya Pak Nathan saja, Ibu serta Ayah Angga pun menerima Nadya. Pak Nathan tau kalau mereka masih SMP tapi pemikiran serta tingkah mereka sudah sangat dewasa dalam berhubungan.


Mereka menghabiskan waktu dengan belajar bersama. Mereka bisa membagi waktu dan mengaturnya dengan baik. Ada dimana saatnya untuk serius belajar dan ada waktu di mmana mereka bercanda bersama, bersama dengan berjalannya waktu rasa yang mereka miliki pun makin besar. Dalam hubungan mereka tidak ada pernah sekali saja marahan.


Menurut mereka hal itu akan membuat sebuah janji menjadi putus hanya karena sebuah hal bodoh. Mereka saling mempelajari sifat dan karakter dari pasangan masing-masing, ini membuat mereka makin sayang satu sama lain. Namun begitu, sifat kekanakan dan egoisme anak anak masih melekat setengahnya pada mereka.


Sore ini Pak Nathan membawa mereka lari sore di taman. Angga dan Nadya tinggal disatu perumahan yang sama. Perumahan mereka merupakan perumahan nomor 1, yaitu perumahan termewah dibandingkan dengan perumahan nomor 2 dan 3 yang tidak jauh dari wilayah mereka. Karena rumah mereka tidak jauh, maka mereka bisa bersama setiap hari.


Terkadang Angga yang pergi main ke rumah Nadya dan sebaliknya. Pak Nathan dan Angga keluar dari rumah dengan menggunakan setelan khas lari sore. Mereka sekalian menjemput Nadya dirumahnya. Nadya sudah dari tadi menunggu Angga dan Pak Nathan di depan pagar rumah.


Nadya ditemani oleh penjaga di rumah nya. Tak berselang lama Angga dan Pak Nathan sudah sampai kemudian membawa Nadya ke taman. Letak taman diperumahan itu melewati rumah Nadya jadi mereka sekalian menjemput Nadya.


Nadya pamit ke penjaga rumah dan berlari mengikuti Pak Nathan serta Angga. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama berlari mengelilingi taman tersebut. Angga dan Nadya yang sudah capek pun duduk beristirahat di bangku taman.


Pak Nathan masih setia berlari, tidak tahu sudah berapa putaran yang ia lewati, tapi bisa diperkirakan itu lebih dari 30 kali, karena cape Pak Nathan berhenti dan menghampiri Angga dan Nadya.


“Kalian mah baru beberapa putaran aja sudah capek, ke abang dong, udah 35 putaran baru berhenti,” ujar Pak Nathan sambil mengatur nafas.


“Kan kita masih SMP bang jadi ga kuat,” jawab Nadya.


“Nah betul kata Nadya.” Ucap Angga membenarkan kata Nadya.

__ADS_1


“Sudah sudah. Kalian mau es krim gak? Biar Abang belikan,” tawar Pak Nathan dan diiyakan oleh dua bocah tersebut.


Mereka bertiga pun beristirahat setelah capek berlari sambil menikmati es krim. Tiba-tiba kepala Nadya terasa pusing dan ia langsung jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2