Timer Me

Timer Me
Bab. 25. Timer Me


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang Pak Nathan langsung menggendong Nadya dan mencari taksi.


Angga yang melihat kejadian tersebut dari tadi tidak bisa diam. Ia terus memegang jemarinya dan berjalan ke sana kemarin sambil menunggu taksi yang lewat agar tidak terlalu panik tapi ketika ia kembali melihat wajah Nadya ia makin panik.


Wajah cantik itu terlihat sangat pucat, bahkan lebih pucat di saat ia baru saja pingsan. Tak lama taksi dan Angga langsung melambaikan tangan membuat taksi tersebut berhenti. Mereka masuk ke dalam mobil.


Angga duduk di  bersamaan Supir sedangkan  Pak Nathan di belakang sambil memegang kuat badan wanita yang sangat di cintai adiknya itu. 


“Pak tolong antarkan kami ke Rumah sakit A. Tolong di percepat jalannya” ujar Pak Nathan dan di iyakan sopir taksi tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di depan rumah sakit.


Tanpa berpikir panjang Pak Nathan langsung turun dan berlari membawa Nadya masuk ke dalam rumah sakit, mereka tidak lupa untuk membayar ongkos taksi.


“ Sus, suster tolong ini ada yang pingsan” teriak Pak Nathan saat masuk ke dalam rumah sakit. Suster pun langsung membawa brankar kemudian membawa Nadya ke ruang rawat.  


“ Tolong tunggu di luar” ucap Seorang suster kepada Angga yang ingin juga masuk ke dalam.


Angga berbalik dan mendapati kakaknya tengah duduk sambil memegang kepalanya.


Kakaknya juga khawatir akan keadaan Nadya. Pak Nathan mengangkat kepala dan memanggil Angga duduk bersamanya. 


“ Angga, kamu tenang dulu. Kamu berdoa aja buat hasilnya nanti. Kakak yakin Nadya baik-baik saja” ujar Pak Nathan sambil mengelus pundak adeknya yang terlihat sangat khawatir.


Wajah Angga sudah bisa di baca kalau dia sedang mengkhawatirkan Nadya. Hari ini adalah hari di mana kedekatan mereka menginjak tahun ke tiga. Ia selalu bersama Nadya di mana pun Nadya berada.

__ADS_1


Melihat orang yang di cintai tiba-tiba pingsan membuat Angga merasa badannya seperti tidak bernyawa. Ia tidak pernah melihat Nadya pingsan ataupun merasa sakit.


Ketika bersama dirinya keadaan Nadya baik-baik saja. Ia pun duduk merenung dengan beberapa teka-teki yang berkeliaran di otaknya. Pikiran buruk tentang keadaan Nadya mulai muncul di kepalanya.


Dia sangat khawatir jika tiba-tiba Nadya meninggalkan. Saat sedang berperang dengan pikirannya Dokter pun keluar dari ruang rawat Nadya. Pak Nathan dan Angga langsung bangkit dan menghampiri Dokter tersebut.


“ Pak bagaimana keadaan adeknya saya” tanya Pak Nathan.


“ Keadaan nya sekarang masih belum sadarkan diri. Penyakit hipotensi yang sudah lama di derita Nadya membuat dia pingsan. Sebelum itu  saya ingin memberitahu Nadya adalah pasien saya jadi saya tau betul jika dia tidak bisa kecapean. Kalau begitu saya pamit dulu. Kalian berdua bisa langsung melihat keadaan Nadya di dalam” jelas Dokter tersebut dan berjalan meninggalkan Pak Nathan serta Angga.


Mereka langsung buru-buru masuk ke dalam melihat keadaan Nadya. Saat masuk ke dalam, terlihat Nadya yang terbaring lemas dengan wajah pucat. Angga tidak sanggup melihat Nadya seperti itu. Ia langsung menghampiri Nadya dan memegang tangan wanita itu.


Tiba-tiba Ibu serta ayah Nadya datang dan langsung menuju ke arah Nadya yang terbaring lemah. Air mata mereka tak terasa jatuh begitu saja melihat keadaan anak mereka satu-satunya.


“ Tante, kenapa tante ga kasih tau aku kalo Nadya mengidap hipotensi? Bukannya aku berhak tau Tante” ujar Angga membuat Ibunya Nadya berbalik menghadap dirinya.


“ Yaudah, terus kenapa coba Nadya bisa kena hipotensi. Tante ga ngurusin Nadya yah” ujar Angga sedikit emosi. Pak Nathan yang melihat Angga langsung menghampiri adeknya dan menutup mulut anak itu.


“ Maaf tante , adek saya ga bisa menghormati orang yang lebih tua” ujar maaf Pak Nathan sambil sedikit membungkukkan badan. 


“ Gapapa Nathan, Tante memang layak dimarahin seperti itu. Walaupun dia anak kecil tapi ucapannya itu benar. Tante minta maaf yah Angga. Karena Tante Nadya jadi seperti ini. Di keturunan nya Tante anak pertama wanita atau anak bungsu wanita akan terkena hipotensi. Tante juga tidak tau penyebabnya tapi penyakit ini menurun dari Omanya Nadya. Tante dulu pernah terkena hipotensi dan Alhamdulillah tante bisa sembuh dari penyakit tersebut.” Jelas Ibunya Nadya panjang lebar.


Mendengar kenyataan itu membuat Pak Nathan dan Angga terdiam sejenak. Mereka tidak menyangka bahwa Nadya bisa mendapatkan penyakit seperti itu.

__ADS_1


Senyuman Yang manis serta tawa yang selalu menghiasi kehidupannya seakan menutupi penyakit berbahaya tersebut. Mereka masih tidak percaya akan kenyataan yang berada di depan mata mereka.


Angga, Pak Nathan, serta kedua orang tua Nadya duduk termenung menunggu Nadya sadar dari pingsannya. Angga masih memikirkan bagaimana jika Nadya tidak bisa sembuh dari penyakit itu. Ia berjalan mendekati Ibunya Nadya dan mengajak berbicara.


“ Tante , boleh ga Angga tanya sesuatu” tanya Angga 


“ Tanyakan saja sayang” jawab Ibunya Nadya sambil mengelus kepala Angga agar Angga tenang.


“ Penyakit Nadya bisa sembuh kan Tante. Angga sudah janji sama Nadya kalau pas SMA Angga bakal jadiin Nadya pacar. Angga juga janji buat Nadya bahagia kalaupun nantinya Nadya ga bisa sembuh dari sakit. Setidaknya sebelum Nadya pergi ia sudah mendapatkan kasih yang banyak dari Angga.” Ujar  Angga tulus dari dalam hatinya. Mendengar ucapan anak kecil di sampingnya itu membuat dada Ibunya Nadya sesak.


Dia diam sejenak mencerna kata-kata seorang anak kecil yang tulus itu. Jantungnya tiba-tiba seperti tertusuk duri kenyataan yang pahit. Memang penyakit ini tidak terlalu berbahaya, tapi ia juga mengkhawatirkan jika anaknya tidak bisa sembuh seperti saudara wanitanya yang meninggal akibat penyakit tersebut.


“ Tante yakin Nadya bakal sembuh. Kamu rajin berdoa yah biar Nadya bisa sembuh dari penyakitnya” jawab Ibunya Nadya dengan suara menahan tangis. Tiba-tiba beberapa  suster masuk dan memberikan resep obat buat Nadya.


Mereka kemudian meminta izin kepada Keluarga Nadya agar mereka bisa segera memindahkan Nadya ke ruang rawat yang lebih nyaman sesuai permintaan ayahnya Nadya. Mereka semua menunggu di luar dan menunggu para suster membawa tubuh Nadya pergi ke ruang rawat barunya. 


“ Angga , Nathan. Kalian mending pulang dulu yah. Tante lihat Kalian berdua sangat kecapean. “ ujar Ibunya Nadya. Angga dan Pak Nathan Sangat cape. Dari mereka lari sore tadi dan di tambah berlari dan di buat panik oleh Nadya. Mereka juga masih menggunakan pakaian lari sore mereka.


“  Tapi nanti Nadya nya gimana tante” tanya Angga.


“ Kamu tenang saja yah Angga, nanti Tante sama om yang jagain. Ini om juga mau tebus administrasi sama resep dokter. Kalian tenang saja yah.  Kalau Nadya sudah siuman Tante bakal kabarin kalian” jawab Ibunya Nadya. Pak Nathan dan Angga pun pulang. Jujur mereka sudah sangat Cape.


Pak Nathan mengambil ponselnya dari saku celana dan menelpon sopir untuk menjemput mereka karena mereka tidak membawa mobil. 

__ADS_1


Pak Nathan melihat guratan kekhawatiran yang mendalam di wajah adiknya. Ia juga kaget setelah mendapat kabar kalau Nadya terkena hipotensi.


Ia hanya berharap kepada Tuhan agar Nadya  cepat sembuh dari penyakit tersebut. 10 menit lamanya menunggu akhirnya jemputan mereka datang. Mereka langsung naik ke dalam mobil dan mobil melaju menuju ke rumah mereka.


__ADS_2