
Satu jam lamanya murid SMA A menunggu kedatangan bus, tidak lama kemudian bus tersebut datang dan langsung memarkir di depan lapangan dimana murid-murid sudah berkumpul.
“Anak-anak tolong dijaga ketertibannya. Bus yang sekolah sewa sebanyak 4 bus dan dapat menampung 24 orang di dalamnya, jadi tolong jangan membuat keributan dan berebut tempat duduk. Terima kasih,” ucap Pak Nathan memberi instruksi kepada para murid.
Semua murid pun berhamburan menuju bus yang mereka suka, Lidya masih sibuk memegang barang bawaannya yang kelihatan sangat banyak. Ketika melihat sekitar untuk meminta bantuan ternyata sudah tidak ada orang, karena semua orang sudah masuk ke dalam bus. Di dalam bus terlihat Angga yang Sedang memutar lagu dan memakai headset.
Saat menoleh keluar ia melihat Lidya yang sedang kesusahan membawa barang bawaannya, awalnya Angga terlihat acuh tak acuh tapi tiba-tiba hatinya tersentuh untuk membantu Lidya.
“Pak saya izin keluar sebentar,” izin Angga kemudian turun ke bus dan menghampiri Lidya.
“Sudah tahu badan kecil malah bawa barang banyak banget,“ ujar Angga seraya mengambil barang bawaan Lidya. Ia merampas langsung dari tangan Lidya.
“Lo jangan geer dulu, gue bantuin lo karena tadi disuruh Guru. Itu bus kita mau jalan,” lanjut Angga bohong.
“Maaf yah ngerepotin terus,” kata Lidya kepada Angga.
Angga mendengar tapi tidak menjawabnya, ia langsung berjalan membawa barang bawaan Lidya ke bus yang dia tumpangi.
“Dasar kulkas berjalan,” gumam Lidya dalam hati.
Angga langsung menaruh barang bawaan Lidya dilaci tempat penyimpanan barang dan langsung duduk sambil memakai headset. Lidya yang baru masuk ke dalam bus bingung mencari tempat duduk yang kosong.
Setelah di lihat dengan teliti ia melihat tempat duduk yang kosong. Ia menghampiri tempat duduk itu dan langsung duduk. Saat berbalik ke samping, Lidya kaget karena yang duduk disampingnya itu adalah Angga.
Angga yang merasa ada orang disampingnya pun langsung menoleh ke sebelah dan ia juga tidak kalah kaget seperti Lidya. Ia langsung melepaskan headset ditelinganya dan berbicara kepada Lidya.
“Lo kenapa suka banget sih dekat-dekat sama gue?” Bisik Angga pelan, ia tidak mau berteriak karena sudah ada banyak di dalam bus.
“Gue juga sebenarnya gak mau deket-deket sama lo, tapi tempat duduk yang kosong cuma disini doang. Ya udah mau gak mau gue duduk disini, daripada gue berdiri terus pingsan kan gak asik,” jawab Lidya.
“Oh,” jawab Angga singkat dan kembali memakai headsetnya.
Perjalanan ke desa X memakan waktu sekitar 6 jam. Desa tersebut berada jauh dari pusat kota. Informasi yang beredar bahwa disana juga susah sekali untuk mendapatkan jaringan internet. Jika ingin bertelepon, maka harus pergi ke dataran tinggi desa itu karena disitu tempat satu-satunya untuk mendapatkan jaringan internet.
__ADS_1
Perjalanan yang lama membuat Lidya tidak bisa menahan kantuk. Ia sudah berusaha sekuat mungkin agar tidak tertidur, tapi matanya berkata lain. Tiba-tiba ia tertidur dan kepalanya terjatuh dibahu Angga. Angga langsung kaget dan memutar kepalanya kesamping melihat keadaan Lidya. Dilihat dari raut wajah Lidya, kelihatannya ia sangat mengantuk.
Angga sebenarnya mau membangunkan Lidya tapi dia tidak tega. Dengan terpaksa Angga pun membiarkan Lidya tertidur dibahunya, tak sadar tangan Angga mulai terangkat dan mengelus kepala Lidya.
“Kalau lo gak pergi waktu itu, pasti sekarang lo sudah seperti gadis disebelah gue Nadya.“ Gumam Angga pelan. Kemudian ia pun tersadar dari lamunannya.
“Istighfar Angga, ini Lidya bukan Nadya. Amit amit juga gue mau sama Lidya.” Kaget Angga sambil menggelengkan kepalanya.
Di bus berbeda terlihat dua orang yang saling canggung. Mereka dari tadi ingin berbicara hanyalah karena gengsi mereka berdua pun menahannya. Tiba-tiba salah seorang dari mereka merasa haus dan ia lupa kalau persediaan airnya habis.
“Waduh gimana nih, mana gue haus banget ” icap Aditya.
Aditya adalah orang yang tadi dimaksud. Orang yang duduk disampingnya adalah Reva. Reva yang melihat wajah Aditya yang tidak bersahabat, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Maaf, kamu kenapa kok wajahnya dari tadi terlihat tidak begitu senang,” sapa Reva.
“Eh iya, aku haus dan air yang aku bawa habis,” jawab Aditya.
Reva pun membuka tasnya dan mengambil 1 botol air mineral, “Ini buat kamu,” ujar Reva sambil menyodorkan botol air.
“Ambil aja, punya ku masih ada sebotol di dalam tas. Ini minum biar kamu gak haus lagi,” kata Reva langsung memberikan kepada Aditya botol itu.
“Makasih ya,” Aditya menerima botol itu. Ia langsung meneguknya dan sebagian dari air dibotol tersebut sudah lenyap.
“Kenalin, gue Aditya Chandrawinata. Panggil aja Aditya, ketua kelas 11 IPA 1 sekaligus wakil ketua OSIS.” Salam Aditya sambil memberikan uluran tangan sebagai tanda berkenalan.
Reva awalnya masih merasa canggung, tapi akhirnya ia pun membalas uluran tangan tersebut.
“Kenalin juga aku Cantika Reva Kim dari kelas 11 IPA 3. Panggil aja Reva.” Balas Reva memperkenalkan dirinya juga.
“Makasih yah Reva untuk airnya barusan,” ujar Aditya berterima kasih untuk kedua kalinya.
“Sama-sama kak Aditya.” Jawab Reva sambil tersenyum.
__ADS_1
“Panggil aja Aditya. Kita berdua kan seangkatan jadi gak usah pakai kakak segala,” ucap Aditya.
Setelah perkenalan singkat itu mereka berdua berbincang. Dan ternyata tidak membutuhkan waktu lama mereka berdua menjadi akrab. Aditya yang cerewet membuat Reva suka berbincang dengannya. Ia merasa cocok jika berbicara dengan Aditya. Karena menurutnya ketika berbicara dengan Aditya akan terasa nyambung. Bukan seperti ia berbicara dengan Wardana dan Rara yang bawaannya akan ngelantur kemana-mana.
“Kalau boleh tahu hobi kamu apa Rev?” Tanya Aditya penasaran.
“Aku suka sama alat musik piano. Dari umur aku yang baru menginjak 3 tahun, aku udah tertarik ke Piano. Kejadiannya pas aku diajak Mama pergi ke festival musik terus tiba tiba Mama berenti buat menonton pertunjukan piano. Dari situ aku suka denger lantunannya,” jelas Reva panjang lebar.
“Wah keren juga yah kamu. Jadi sekarang kamu suka main piano dimana?” Tanya Aditya makin penasaran.
Ia kalau sudah mengetahui sesuatu, maka akan menanyakan sampai ke akar-akar. Reva pun tidak risih akan pertanyaan dari Aditya, ia malah menyukainya. Aditya merupakan orang pertama yang bersemangat mendengar cerita Reva, apalagi tentang piano.
“Untuk sekarang aku suka isi acara dipameran musik Internasional atau acara-acara yang berbau tentang piano sama musik sih kak,” jawab Reva. Aditya yang mendengar itu langsung kaget sekaligus terpukau.
“Wah berarti kamu ini pianis profesional dong? Ini mah bukan hobi lagi namanya Reva. Hebat banget yah kamu,” fuji Aditya dengan wajah berseri-seri.
Reva langsung tersenyum saat mendengar pujian dari Aditya.
“Boleh gak aku minta nomor telepon kamu Rev? Jangan pikir aneh-aneh dulu. Aku minta buat telepon kamu nanti pas acara ulang tahun ku. Masih 2 bulan lagi sih ulang tahun ku, cuma biar gak repot cari pemain piano mending aku undang kamu aja. Tapi kamu gak keberatankan?” Pinta Aditya.
Aditya sebenarnya berbohong, ia meminta nomornya Reva bukan untuk mengisi acara ulang tahunnya, melainkan untuk mengajak berbincang jika dia mempunyai waktu luang.
“Kok kamu percaya sih sama aku Dit? Padahal kita baru kenal loh, betul kamu langsung ngundang gitu aja? Gak mikir dulu gitu?“ Jawab Reva yang tidak enak akan tawaran Aditya.
Sebenarnya ia mau-mau saja hanya ia takut mengecewakan Aditya jika dia memberikan penampilan bermain piano yang buruk.
“Aku percaya kok, aman aja. Aku juga pernah lihat kamu pas mengisi acara dipembukaan kantor pusat batu bara keluarga Chandrawinata.” Ucap Aditya membuat Reva semakin kaget.
Bisa dilihat dari raut wajah Reva yang tidak secerah tadi.
“Aku anaknya Bapak Chandrawinata. Aku juga nonton kamu saat main piano. Sejak awal duduk disini aku sudah gak asing sama muka kamu, jadi aku ajak bicara hehe,“ lanjut Aditya.
“Aduh, ternyata dunia ini sempit banget yah,” jawab Reva kemudian tertawa bersama Aditya.
__ADS_1
Mereka akhirnya kembali berbicara seperti dua orang yang sudah lama kenal.