
Cinta pertama dimata setiap orang memiliki makna yang berbeda. Mereka akan menaruh tempat tersendiri di hati untuk orang spesial tersebut. Terkadang beberapa Orang memilih untuk mencinta dalam diam.
Mencintai dalam diam tanpa memberi yang sejujurnya adalah jalan terbaik. Selalu memperhatikan dirinya dari jauh tanpa berinteraksi sudah menjadi kebiasaan rutin.
Mau pergi menyapanya juga sadar diri kalau kita tidak begitu dekat. Meskipun sudah kenal lama sekali tapi gerak gerik tidak menunjukkan rasa yang seperti kita rasakan. Interaksi kecil yang pernah terjadi akan selalu teringat dipikiran.
Mungkin saja dia sudah melupakan interaksi itu tapi bagiku itu sangat berarti. Saat mendengar berita ia pindah ke Indonesia rasanya seperti mimpi saja. Bukannya selama ini dia bersama ayahnya di Jerman.
Oh baru aku ingat kalau Ibu kecelakaan dan seperti ia akan menetap di sini. Boleh Tuhan aku meminta juga agar dia menetap dihatiku? Berjumpa dan sering bertemu dengannya hampir 11 tahun membuatku tidak bisa menahan rasa di hati ini.
Karena Ayahnya dan Ayahku ada teman dekat dari zaman sekolah membuat mereka sering bertemu walaupun sedang berjauhan.
Ayah sering membawaku ke Jerman jika ada sesuatu hal penting yang harus di kerjakan di sana. Perusahaan Ayahku bekerja sama dengan Ayahnya jadi sering bertemu.
Kedekatan Ayahku dan Ayahnya terbilang sangat dekat dengan tambahan 2 sahabat mereka. Katanya teman Ayahku anaknya bersekolah di sekolahku.
Tidak mau mencari tau aku membiarkan saja ucapan Ayah. Yang aku heran salah seorang temannya tidak pernah muncul lagi saat mereka bertemu.
Kata Ayahku, temannya mengalami musibah dibunuh bersama istrinya saat malam hari. Anak mereka yang masih seumuran denganku ditinggal begitu saja tidak tau kemana. Kisah yang sangat tragis bukan. Semoga saja anak ayah temanku baik-baik saja walaupun aku tidak mengenalnya.
Kembali lagi ke cerita tentang cinta pertamaku. Sebelum itu kenalkan namaku Catrin Ezranas. Aku anak dari pengusaha periklanan terbesar kedua di kota A sesudah Ayahnya Nadial. Aku dan Nadial berteman baik dari kecil karena hubungan dekat Ayah kami.
Nadial orangnya baik banget. Suka banget bantuin aku kalau lagi susah. Dia juga pembawa bahagia buat aku. Ia terlihat bahagia tapi tidak setiap saat.
Ia sering datang kepadaku dengan wajah sehabis menangis dan badan Yang penuh dengan luka. Ia tak menceritakan apa penyebab terjadi luka seperti itu. Ia hanya datang kepada ku dan selalu diam sambil bersandar atau tidur dipangkuanku.
Tidak tau pasti dia kenapa tapi sepertinya dia dalam keadaan baik-baik saja. Kejadian seperti ini pasti akan sering berlangsung jika aku dan ayah pergi ke Jerman menemui Ayahnya Nadial.
Walaupun sebulan sekali aku ke sana tapi tidak tau kenapa tiap kali bersamanya detak jantungku selalu berdetak kencang tak menentu.
Itu bukan sekali saja terjadi tapi berulang kali terjadi. Aku yang berstatus sebagai temannya selalu siap menjadi sandaran hati jika ia sedang dalam hal terpuruk.
__ADS_1
Aku tidak mengerti kenapa saat ia pindah ke sekolah ia bukan melihatku dahulu melainkan wanita yang bernama Reva. Reva juga teman Ayahku saat mereka masih bersekolah.
Ternyata ini toh anak yang ayah maksud. Cantik sekali dirinya, senyuman yang begitu manis, dan sifat yang baik kepada setiap orang memberi kesan tersendiri bagi cewek tersebut. Pantas saja Nadial menyukai dirinya.
Nadial pernah bercerita kepadaku kalau ia menyukai seseorang yang bernama Reva kim. Aku tak menyangka Reva yang dia maksud adalah teman sekelasku.
Aku yang hanya sebatas teman tanpa kata sahabat hanya bisa memperhatikan interaksi mereka tanpa menahannya karena ia tak ada hak. Sakit? Sangat sakit melihat pemandangan itu tapi ya sudahlah. Toh dia jika bersama Reva selalu tersenyum.
Hari ini di tempat berbeda Tuhan mengizinkan aku kembali lagi berinteraksi dengannya. Walaupun hanya berjalan bersama tanpa sebuah perbincangan Yang berarti kita tetap berjalan.
Raut wajah yang begitu aku rindukan akhirnya bisa aku lihat kembali setelah beberapa bulan lalu aku menemuinya di Jerman. Aku senang karena Tuhan membalas doaku dan bisa sekelompok bersamanya. Setengah perjalanan aku lewati bersama.
Tak tau kenapa tiba-tiba kepala terasa sangat sakit. Sakit sekali dan penglihatan menjadi tak jelas. Setalah itu aku tak tau kemana diriku.
“ Cat, Catrin bangun. Kamu kenapa ayok sadar” ujar Nadial panik sambil menepuk pelan pipi Catrin.
Wanita itu pingsan tanpa tau apa penyebabnya.
Ia membuka tas milik Catrin dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Terlihat sebotol kecil minyak kayu putih dan botol obat Maag. Bisa disimpulkan bahwa ia mengidap sakit maag.
Tanpa berpikir panjang Nadial mengambil minyak kayu putih dan menaruhnya ditelunjuk. Ia mendekat telunjuknya ke arah hidung Catrin yang sedang pingsan di pangkuan Nadial. Tak lama kemudian Catrin tersadar dari pingsannya.
Penglihatan masih belum jelas tapi hidupnya mencium jelas bau parfum yang sangat ia kenal. Penglihatan mulai membaik dan betul seperti perkiraannya, orang itu adalah Nadial.
“Syukurlah kamu udah siuman. Ga sarapan pagi kan kamu.” Ucap Nadial saat Catrin bangun.
“Maaf yah aku ngerepotin kamu. Aku tadi telat bangun jadi lupa sarapan.” Ujar Catrin jujur.
Nadial membuka tas bawaannya dan mengambil sebuah kotak bekal.
“Kita makan sama-sama yah. Aku tadi sempat siapin bekal karna ga sarapan juga. Mau kan jangan nolak yah” ajak Nadial. Ia membuka kotak makan itu dan mulai mengambil sesendok makan.
__ADS_1
“Kamu ga apa kan kalau kita satu sendok make berdua? Aku ga tau kalau bakal begini.” Tanya Nadial
“Ga apa kok. Kita juga saat kecil makan Semua sama-sama.” Jawab Catrin menyetujui Nadial.
“Sini dekat biar aku suapin. Kamu pasti belum kuat buat makan sendiri kan. Jangan nolak yah, kalau nolak pun aku bakal paksain kok” ujar Nadial sembari menyuapi Catrin.
Catrin dengan senang hati menerima perhatian Nadial. Hatinya mulai senang karena Nadial kini memperhatikan dirinya.
Walaupun perhatiannya karena ia yang Sedang sakit namun dapat membuat dirinya senang.
“Yey, habis juga. Mau langsung jalan atau istirahat dikit?” tanya Nadial sambil memasukkan kotak bekal dan botol minum.
“Istirahat dikit dulu. Aku masih belum kuat buat jalan. Kamu ga apa kan?” ujar Catrin memastikan Nadial.
“Yah mau gimana lagi. Sebentar baru kita jalan yah , yang lebih penting sekarang tuh kesehatan kamu bukan tugas ini. Waktu pun masih banyak jadi santai aja. “ jawab Nadial santai.
Ia kemudian memperbaiki Posisi duduknya agar lebih dekat Catrin. Ia memegang kepala Catrin dan menaruhnya dipundak. Ia ingin membalas setiap perhatian yang Catrin berikan kepadanya saat di Jerman.
Ia tak akan melupakan kejadian saat ia sering dipukul oleh ayahnya dan Catrin lah yang selalu berada disampingnya.
Catrin menggunakan kesempatan ini untuk menikmati Sandaran tersebut. Ternyata Sandaran seperti begitu nyaman. Pantas saja Nadial suka sekali menyandarkan kepalanya ke pundak Catrin.
Agar Catrin kembali tenang Nadial sengaja mengelus pucuk kepala Catrin. Mereka berdua tertawa suasa alam yang begitu damai dengan hati dan perasaan yang berbeda.
Catrin dengan perasaan ingin lebih dari teman dan Nadial yang ingin menjadi teman terbaik buat Catrin.
Mungkin belum saatnya untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Untuk saat ini cukup menjadi teman Yang selalu melindungi saja. Bagi perasaan 11 tahun yang terkubur dalam biarlah terkubur dulu.
Belum pasti juga Nadial akan membalas perasaan Catrin begitu mencintainya. Masih ada wanita bernama Reva yang menghiasi hati Nadial sekarang.
Hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan ini. 1 atau 2 tahun ke depan? Kalau takdir belum memihak pasti bisa Sampai 5 tahun mungkin? Biarlah semua terjadi sesuai alur kehidupan yang bekerja. Semoga saja Takdir memihak kepada diriku, Catrin.
__ADS_1