Timer Me

Timer Me
Bab. 40. Timer Me


__ADS_3

Terkadang suara hari tidak seirama dengan perkataan. Ingin memiliki dia tapi dilain tempat ada seseorang yang juga ingin dimiliki. Seakan tidak dapat memilih mana yang akan diambil.


Mencintai dua orang sekaligus memang sangat sulit. Rasa untuk memiliki lebih dari teman selalu terbayang-bayang. Egois rasanya ketika hati dan pikiran menginginkan kedua orang tersebut. Dipikir-pikir lagi seharusnya berhenti saja dari keadaan ini.


Nadial memang sudah lama menaruh hati kepada Reva. Bagaimana dengan Catrin?. Tak tau pasti dengan perasaannya kali ini, tapi yang pasti ada sedikit rasa cemburu saat melihat Catrin bercanda bersama orang lain.


“Nad, Lo kenapa hey. Wajah lo kaya ga ada semangat gitu. Lagi galau yah?.” Tanya Reva. Ia bingung kenapa tiba-tiba wajah Nadial seperti tidak bersahabat. Wajah yang awalnya terus tersenyum tiba-tiba berubah menjadi datar.


“Ga kok Rev. Gigi gue lagi sakit jadi gitulah. Maaf yah.” Jawab Nadial Bohong dan Reva percaya begitu saja. Mereka berdua akhirnya saling diam dengan pikiran sendiri. Mau mengajak berbincang pun si Nadial sakit gigi. Nanti yang ada si Reva ngomong sendiri. 


Di tempat lain Rara masih berjalan tidak tau arah tujuannya kemana. Dari belakang terlihat Jefran yang terus mengekor Rara. 


“Ra, Lo kenapa sih. Kok malah menghindar dari gue terus?.” Ujar Jefran sambil memegang tangan Rara agar ia tak jalan lagi.


“Gue ga kenapa-kenapa. Tolong lepasin gue sekarang.” Jawab Rara marah. Ia berusaha melepaskan tangan Jefran tapi tetap saja tidak bisa terlepas.


“Gue ga marah kok sama lo. Kita kan cuma teman dan Lo jangan berpikir kalau gue cemburu. Lo dekat sama cowok mana pun gue ga bakal ganggu. Makasih yah.” Jefran melepas tangan Rara dan pergi. 


Rara terpaku mendengar ucapan Jefran. Bisa-bisanya Jefran tepat membaca isi pikiran Rara. Lebih sakit nya lagi dengan kenyataan yang baru saja di dengar. Ia mengira selama ini hubungan mereka itu terbilang spesial.


Setiap saat mereka selalu habiskan bersama berdua layaknya sepasang kekasih. Namun tak disangka Jefran hanya menganggap Rara sebagai teman baiknya. 


Dada Rara tiba-tiba terasa begitu sesak. Ingin bernafas saja susah sekali. Kenapa Jefran begitu tega kepada dirinya. Ia terus termenung Sambil memikirkan perkataan Jefran tadi. Sakit sekali rasanya namun ia tetap bertahan.

__ADS_1


Waktu penelitian hari ini telah selesai. Makan siang pun sudah mereka habiskan dari tadi. Semua orang yang berada di sana sudah berkumpul menjadi satu kelompok.


Waktunya mereka untuk kembali ke Desa X. Kali ini agak berbeda dengan sebelumnya. Mereka semua akan pulang bersama-sama tanpa pembagian kelompok seperti tadi pagi. Pak Nathan yang tadi membawa sepeda ditinggal begitu saja di taman bunga Y.


Ia lebih memilih berjalan kaki dengan Beby. Sebenarnya sebelum pulang, Beby sudah memaksa Pak Nathan agar pulang jalan kaki bersamanya. Mau tidak mau Pak Nathan merelakan sepeda tersebut sendiri di sana.  


Semua orang mulai berjalan sesuai petunjuk jalan yang diberikan pada setiap pohon. Pohon-pohon di hutan telah diberikan sebuah papan petunjuk agar para wisatawan tidak tersesat. 


Kelompok perempuan yang berada di belakang sibuk berbincang-bincang di perjalanan.


“Sumpah gue Ketawa banget sama kelakuan si Wardana. Di depan kita aja makan nya kaya orang kelaparan. Eh pas depan cowoknya  malah sok Cantik. Mau gue gebuk kepala Lo juga  gue takut. Pastinya sebelum gue gebuk Lo udah dahulu keluarin jurus.” Ujar Feby tertawa. Wardana bukannya malu-malu dikatain seperti itu malah menjawab.


“Yah harus totalitas dong. Masa depan pacar harus malu-maluin. Ga yah, Wardana ga kenal namanya gituan.” Jawab Wardana dengan tingkat kepedean 200%. Tumbenan Wardana seperti ini. Tidak tau dari mana dia belajar kata-kata seperti ini.


“Orang kalau pacaran tuh kaya si Rara dong. Dia selalu nunjukin sifat aslinya ke Jefran. Terus dilihat tadi si Jefran ga marah begitu sama Rara pas si Rara megang tangan Alfius. Enak banget yah punya cowok kaya Jefran.” Ujar Feby menilai cara pacaran Rara. Rara yang dari tadi diam langsung angkat bicara.


Telinganya akan panas ketika mendengar nama Jefran. Perkataan tadi siang masih membekas di pikiran Rara.


Rara berpindah ke barisan paling belakang. Mungkin dengan ini ia akan sedikit tenang. Ternyata di baris belakang ada Catrin. Sudah ditebak langsung kalau Catrin suka sekali berada di barisan paling belakang. Toh dia memang tidak suka keramaian jadi jangan heran lagi.


“Hai. Kenapa mukanya muram begitu? Lagi berantem sama siapa?.” Tanya Catrin saat melihat Rara berada disampingnya. Rara berbalik menghadap ke arah Catrin.


“Ga suka keramaian jadi gue pindah ke belakang.” Jawab Rara singkat.

__ADS_1


“Kalau gitu kita sama. Keramaian tuh mengganggu yah. Ga asik kalau ribut semua.” Ujar Catrin tersenyum Kecil. Setelah itu mereka kembali diam. Kesunyian itu mampu membuat Catrin dan Rara menetralkan pikirannya.


Catrin masih kepikiran dengan sikap manis Satria kepadanya. Walaupun singkat tapi begitu membekas di hati Catrin. Sedangkan Rara masih dengan pikiran akan Jefran. Memang sulit untuk menghapus pikiran itu, namun ia tetap berusaha.


1 jam lamanya mereka berjalan dan akhirnya kembali ke Desa X. Perjalanan yang sungguh melelahkan buat sebagian orang tapi tidak dengan Catrin dan Rara. Kesunyian yang terjadi seakan membuat perjalanan mereka jadi lebih singkat.


“Tolong Semua untuk berbaris dan membentuk berkumpul bersama teman sekelompok yang tadi pagi sudah dibagikan.” Komando Pak Nathan. Semua murid langsung berhamburan mencari teman sekelompoknya.


Rara tiba-tiba merasa emosi. Ia baru menyadari kalau akan bertemu kembali dengan Jefran. Jujur dari dalam hati Rara sangat ingin bertemu dengan Jefran. 


Ketika semua sedang sibuk mencari teman kelompok, Catrin dan Rara malah berdiam diri menunggu teman sekelompok mereka datang sendiri. Tidak lama Satria Nadial muncul dari kerumunan dan mendapati Catrin yang sedang berdiam diri.


Mau sekali rasanya ia marah namun diurungkan. Malu rasanya jika memarahi perempuan di depan umum. Mana wanita tersebut adalah teman baiknya.  


Catrin Yang melihat Nadial mendekat langsung tersenyum. Ternyata laki-laki tersebut sibuk mencari dirinya. Ada rasa senang tersendiri yang dirasakan Catrin.


“Gue udah kaya induk ayam yang Sibuk nyari anak hilang. Cape banget sumpah nyari Lo Cat. Mana badan lu kecil kaya gini jadi susah.” Omel Nadial yang baru saja datang. Terlihat dari wajahnya memang betul ia lelah. Ia mengambil nafas  cepat karena efek Cape.


“Gitu aja udah Cape. Kaya bukan Nadial yang gue kenal deh.” Jawab Catrin sambil menyentil kening Nadial dengan jarinya.


Hal tersebut mampu membuat Nadial gugup. Kejadian tadi siang yang membuat dia cemburu ternyata benar. Ia benar-benar menyukai Catrin.


Tapi kenapa perasaan seperti ini muncul di waktu yang tidak tepat. Di saat Ia menemukan kembali sang cinta pertama, di situ juga ia menaruh hati kepada teman Ayahnya. Sulit dimengerti oleh manusia biasa.

__ADS_1


Rara yang dari tadi melihat interaksi kedua manusia tersebut merasa iri. Melihat kedekatan Catrin dengan cowok yang baru datang itu mengingat Rara dengan Jefran.


Tunggu dulu, mengapa Jefran tidak datang mencari dirinya? Biasanya Jefran akan langsung menghampiri Rara jika keadaan seperti ini. Mungkinkah Jefran marah. Tapi di pikir-pikir sepertinya tidak deh, kan tadi siang Jefran sudah bilang kalau dia tidak marah.. Dengan berat hati Rara pergi meninggalkan Catrin dan Nadial untuk mencari Jefran.


__ADS_2