
Sudah diduga pasti ada saja penghambat dalam setiap kehidupan manusia. Mau itu masalah keluarga, kesehatan, pertemanan, hingga yang paling sering terjadi ialah cinta. Kata banyak orang cinta itu tidak bisa dipaksakan.
Jika dijalani dengan sebuah kata terpaksa maka tinggal menunggu kata berpisah. Memilih untuk tidak memaksa seseorang mencintai kita adalah jalan tengah. Mungkin bagi beberapa hal itu tidak bagus karena menyakiti hati sendiri.
Tapi bagi Catrin itu sudah biasa. Ia terus memendam rasa itu karena tidak mungkin ia mengungkapkan sekarang. Perjalanan mereka kali ini sudah diisi dengan berbagai topik ringan agar tidak bosan. Mereka berdua mulai terbawa suara dan terkadang terdengar suara tawa dari mulut kedua insan itu.
Sungguh Catrin wanita Yang Sangat kuat. 11 tahun bukan waktu Yang singkat untuk menyukai seseorang dalam diam.
Ia sudah belajar terlebih dahulu untuk berdamai dengan diri sendiri jika suatu saat kenyataan mengatakan orang yang ia cintai mencinta orang lain. Walaupun sakit tapi Catrin harus menerimanya.
Ia akan terus berharap dan mencintai Nadial dalam diam sampai Lelaki tersebut memiliki pujaan hati. Ia akan mundur menjauh, kalau bisa ia menghilang saja agar tidak bertemu lagi dengan Nadial. Pikiran ini berputar tanpa henti.
Sudah 2 jam mereka berjalan tapi belum juga sampai di dataran tinggi yang dimaksud. Mau menelepon Pak Nathan juga tidak bisa karena masalah jaringan internet.
Semua kelompok masih berada didalam hutan dengan keadaan dan suasana yang berbeda. Ada yang dipenuhi tawa dan ada juga yang dipenuhi rasa canggung.
Masih dengan keadaan yang sebelumnya, saling diam. Membuka pembicaraan? Gengsi selalu berlaku untuk mereka berdua. Ingin mengajak berbincang pun tidak tau topik apa yang akan dibicarakan. Diam adalah jalan satu-satunya.
Cape sudah dirasakan Angga dan Lidya tapi mereka terus berjalan tanpa berhenti. Ingin sekali berhenti tapi melihat teman sekelompok yang masih kuat berjalan mengurungkan niatnya untuk berhenti. Tidak bisa dimengerti dengan jelas akan kedua sikap manusia ini.
Pagi hari mereka lewati seperti dua orang yang sedang dimabuk cinta. Sekarang malah saling diam bagaikan orang asing.
Ini semua akibat ulahnya Angga yang suka berubah tidak jelas. Ada rasa benci yang tidak begitu terlihat dihati Lidya. Mengapa ia memberikan perhatian tadi pagi sedangkan ia malah mendiamkan Lidya?
Lidya berpikir apakah ia hanyalah barang mainan buat Angga? Mengapa dirinya juga dengan mudah menerima setiap sikap Angga yang begitu aneh. Disisi lain ia menyukai setiap sentuhan dari Angga kepadanya.
Mau menolak tapi tubuhnya sangat membutuhkan kasih sayang. Setiap perhatian yang Angga berikan mampu menghipnotis Lidya.
Keadaan rumah dan keluarga yang tidak sejalan dengan kemauan Lidya membuat dirinya depresi. Didepan masyarakat keluarga mereka terlihat begitu harmonis, banyak sekali orang ingin menukar posisi mereka untuk menjadi Lidya.
Lidya tidak pernah dipublikasikan oleh kedua orangtuanya karena masalah privasi.
__ADS_1
Kehidupan mereka dibalik pantauan masyarakat berbeda 180 derajat. Ia sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ayah. Ayah yang selalu sibuk akan urusan negara membuatnya tidak selalu bersama mereka.
Saat pulang rumah pun tidak ada kedamaian yang tercipta.
Selalu kekerasan yang berbicara jika ayah sudah lelah. Ia selalu menyiksa Ibu jika pulang rumah. Kenyataan yang mengatakan kalau Ibu Lidya tidak hamil lagi membuat sang Suami makin membenci Lidya.
Lidya sama sekali tidak menginginkan kepulangan ayahnya ke rumah. Rumah akan seperti neraka jika lelaki itu datang.
Saat Angga masuk di kehidupan Lidya, hari-hari ku terasa begitu berwarna. Menurut Lidya Angga sangat berbeda dengan ketiga sahabatnya Aditya, Alfius, dan Jefran.
Walaupun perhatian yang diberikan sama persis namun rasanya berbeda jika yang memberikannya adalah Angga. Kasih sayang sosok lelaki yang selalu Lidya impikan kini semua berada di Angga.
Angga yang suka sekali berubah sifatnya tidak menjadi masalah buat Lidya. Lelaki ini sekarang menjadi spesial dimatanya Lidya.
Tak terasa perjalanan yang melelahkan terbayar lunas dengan pemandangan hamparan luas bunga cantik yang mekar indah.
Wangi bunga tersebut begitu harus meskipun belum mendekatinya. Hamparan dataran tinggi yang luas sekali ditambah bunga Y yang tumbuh berhamburan Sangat memanjakan mata. Baru beberapa kelompok yang Sampai disana.
Baru hari pertama kegiatan saja sudah menguras banyak tenaga, masih ada 5 hari tersisa. Inginnya belajar sambil refreshing malah ini belajar Sambil mendaki gunung. Ada-ada saja kegiatan sekolah ini.
Tidak tau sulap atau teleportasi yang Pak Nathan gunakan. Saat murid-murid sampai mereka melihat Pak Nathan sudah ada disana.
Padahal perjalanan yang ditempuh itu tidak bisa dibilang cepat. Saat semua kelompok sudah berjalan Pak Nathan masih stay di lapangan.
Pak Nathan sepertinya memiliki kekuatan deh , dia saja sudah dari tadi sampai di taman bunga itu.
“Kak Nathan, cepet bener Sampai sini.” Gumam Satria yang baru saja sampai di sana. Ia tidak percaya Pak Nathan bisa sampai secepat itu.
“Ayang pasti terbang kan. Jujur deh sama Beby” ujar Beby ikut heran.
“Itu” ujar singkat Pak Nathan sambil menunjuk ke bawah pohon.
__ADS_1
Ternyata dia membawa sepeda. Pantas saja bisa secepat itu, toh pakai sepeda.
“Ih kak Nathan mah curang masa iya kita disuruh jalan. Ga adil banget sumpah deh, ga asik” oke Satria kelihatan kecewa.
“Yaudah, ngomel-ngomel aja terus kamu Sat. Sebentar nilai praktek Bahasa Indonesia kamu saya kurangi yah. Sepeda hanya untuk guru yang mengajar saja. Siswa disuruh jalan kaki biar sehat karena setiap hari sekolah ga ada olahraganya” jelas Pak Nathan memberi ancaman.
“Eh ga gitu juga Kak, tadi Cuma becanda doang kok. Aku sama Beby senang banget jalan kaki, bikin sehat. Iya kan Beby” jawab Satria menyenggol bahu Beby.
Beby mengangguk kepala arti ia juga mengiyakan. Satria sangat takut akan ancaman Pak Nathan.
Pernah sekali Pak Nathan memberi ancaman memotong nilai Satria dan ia mengira itu hanya bercanda. Tau-taunya pas terima raport, nilai Satria paling rendah dari semua, nilainya hanya 80.
Alhasil saat pulang sekolah, ia mendapat hukuman dari kedua orangtuanya untuk tidak keluar rumah selama libur dan tidak menggunakan Handphone serta alat elektronik lainnya. Ia disuruh belajar dengan giat sampai dibawakan guru les ke rumah agar nilainya tidak menurunkan seperti itu.
Satria sudah tobat dan ia tidak mau lagi membuat Pak Nathan mengeluarkan senjatanya yaitu ancaman.
Ia tak mau tersiksa lagi dengan terus belajar. Bisa gila dia jika terus terusan belajar. Bukannya tambah pintar yang ada di malah gila.
“Kalau begitu kalian istirahat sejenak terus ambil kertas hasil penelitian. Saya tunggu di bawah pohon sana” Pamit pak Nathan kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ia sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktu bersama Beby di tempat itu sambil berfoto-foto. Tapi ia tau kalau ini jam sekolah dan ia sebagai guru pembimbing harus menjaga sikap dan profesional dalam bekerja.
Ia tak mau ada gosip-gosip beredar tentang dirinya dan Beby. Bisa kena pecat dia jika ketahuan kepala sekolah.
Peraturan sekolah mengatakan jika Guru dilarang memiliki hubungan lebih dengan murid. Jika ketahuan maka kedua belah pihak akan dikeluarkan dari sekolah.
Hal tersebut yang membuat Pak Nathan takut. Gaji dari sekolah tersebut sangat berarti baginya karena ia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa bantuan kedua orangtuanya.
Ia tak pernah meminta sepeser uang kepada kedua orangtuanya saat duduk dibangku kuliah. Ia kuliah dengan jalur beasiswa karena prestasinya yang begitu menonjol. Uang jajan pun selalu ia gunakan dari uang beasiswa itu.
Walaupun orang kaya ia tak segan-segan mencari beasiswa agar tidak membebani kedua orangtua. Seharusnya ia bertugas meneruskan perusahaan ayah tapi ia lebih memilih menjadi guru.
__ADS_1
Akhirnya tugas tersebut jauh kepada Angga. Angga akan meneruskan perusahaan Ayah mereka.