Timer Me

Timer Me
Bab. 9. Waktu Bersama


__ADS_3

Rara terpaku melihat pundak Jefran.


“Ra tahan Ra, ini cuma sebentar kok gak bakal lama. Sudah tahu mental lo suka gak kuat malah beraniin diri buat ginian,” ucap Rara dalam hati menguatkan dirinya. Ia menguatkan imannya agar tidak pingsan didepan Jefran.


“Ra? Kamu Kenapa? Kok aku gak rasa obatnya diolesin,” tanya Jefran.


Dia sudah menunggu dari tadi lukanya diobati tapi tak kunjung diobati. Rara masih termenung melihat punggung Jefran yang terlihat seperti surga, Jefran pun membalikkan badannya menghadap ke Rara. Posisi mereka sekarang saling berhadapan duduk di sofa.


“Heum? Kenapa kok lama sih. Kamu belum terbiasa yah? Baru pertama kali yah kamu obatin orang?” Tanya Jefran pelan.


“Eh itu anu, iya sih baru pertama kali jadi gak tahu gimana caranya,” bohong Rara.


Ia sudah terbiasa mengobati orang contohnya Wardana yang biasa babak belur sehabis latihan Taekwondo. Ia sangat gugup sampai tangannya gemetar karena pundak Jefran.


Apalagi sekarang Jefran berbalik dan terlihat perut kotak-kotak yang tertata rapi diperutnya.


“Jadi gini yah caranya."


Jefran mengambil alcohol 70% dan menuangkan ke kapas. Ia terus memegang tangan Rara dan mempraktikkan cara membersihkan luka.


“Jadi gini yah, kamu lap aja sekelilingnya biar bersih. Terus tinggal ambil salepnya dan olesin ke luka,” jelas Jefran.


Rara yang dari tadi sibuk memperhatikan wajah serius Jefran tidak mendengarkan penjelasan Jefran. Jefran yang sadar akan gerak gerik Rara pun angkat bicara.


“Aku tahu kalau aku ganteng kok, kalau mau lihat wajah ku sebentar yah sampai puas. Sekarang tepati dulu janjinya mau bantu aku obatin luka,” seru Jefran mengagetkan Rara.


“Aduh maaf Jef, bukan gitu maksudku buat lihat mukamu tapi kamu memang ganteng jadi aku gak fokus,” jujur Rara dan di iringi senyum manis dari Jefran.


“Ya sudah cepat, dingin tahu dari tadi gak pakai baju,” ucap Jefran yang sudah kedinginan dengan suhu didalam apartemennya.


Berbeda dengan Rara yang masih keringat dingin dengan punggung Jefran. Rara pun mulai memberikan luka Jefran dengan alcohol 70%. Tangannya nya pun masih sama, masih gemetar.


“Aduh," desah Jefran merasakan sakit.

__ADS_1


“Sakit Jef? Biar aku pelan-pelan bersihinnya,” tanya Rara yang takut Jefran kenapa-kenapa.


“Gak, cuma perih aja kok. Ini juga udah biasa jadi aman aja,” jelas Jefran kepada Rara.


Ia menjelaskan kepada Rara agar tidak panik karena yang dia tahu kalau Rara baru pertama kali ngobatin orang. Tapi kenyataannya Rara cuma tremor dan gugup melihat punggung Jefran. Setelah beberapa menit kemudian luka Jefran sudah diobati dan ditutupi perban agar tidak terkena debu.


“Makasih yah udah obatin aku, kan jadi bikin repot kamu lagi,” ucap Jefran sambil tersenyum kepada Rara.


“Ga kok, kan udah aku bilang ini sebagian dari amal aku buat ke surga jadi ga ngerepotin dikit pun,” Jelas Rara.


Yah ada juga maksud lain dibalik perbuatan baiknya yaitu cuci mata, mumpung ada gratisan jadi gas sajalah.


“Oh kalau gitu aku pulang dulu yah, ini udah sore juga,” lanjut Rara sambil berjalan ke pintu keluar


Saat Rara melangkah ingin Keluar, Jefran menarik dirinya.


Jefran membalik tubuh Rara yang tadinya membelakangi Jefran menjadi saling berhadapan. Ia kemudian memeluk Rara tanpa aba-aba. Saat itu Jefran belum menggunakan baju nya setelah selesai diobatin.


Ya, Rara dipeluk Jefran yang telanjang dada. Rara belum juga membalas pelukan Jefran karena Jefran yang tiba-tiba memeluknya. Rara masih terpaku akan perlakuan Jefran. Tiba-tiba pundak Rara terasa basah.


“Ra kamu gak bakal tinggalin aku kan?” Jawab Jefran dengan suara serak akibat menangis.


“Jef kamu kenapa sih, coba cerita deh sama aku biar kamu gak bingung kayak gini please,” ucap Rara dengan nada yang terdengar sangat bingung akan situasi ini.


“Ra boleh gak kamu balas pelukan aku? Aku gak mau kehilangan kamu,” jawab Jefran yang lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan dari Rara. Rara yang sudah pasrah akhirnya membalas pelukan Jefran.


“Ra, maaf yah aku tiba-tiba meluk kamu lagi. Aku gak tahu kenapa semenjak ketemu kamu dibus aku langsung merasa aura kamu itu beda. Awalnya aku gak mau ngenal kamu lebih dalam, tapi setiap masalah yang menimpa aku pasti ada kamu disitu yang menjadi malaikat penolong. Tolong jangan tinggalin aku yah, aku takut sendirian,” ujar Jefran masih dengan suara serak akibat menangis dan posisinya masih memeluk Jefran.


Rara yang mendengar kata-kata itu pun langsung memeluk Jefran lebih erat, karena tak mau Jefran menangis lagi.


“Ra, kamu gak jantungankan. Kok detak jantung kamu kenceng banget terus cepat lagi. Aku bisa rasain loh detak jantung kamu,” ucap Jefran mengagetkan Rara.


Padahal Rara lagi menikmati memeluk Jefran dan bersandar di dada Jefran. Rara malu, mukanya merah. Ia menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya tapi dalam keadaan masih memeluk Jefran.

__ADS_1


“Jef, kamu nih yah orang lagi serius juga malah di ajak bercanda,” ujar Rara yang malu-malu.


“Bukan begitu Ra, aku kan khawatir sama kamu. Takut kamu jantungan betul,” jawab Jefran sambil tersenyum tipis.


“Jantung aku gak stabil tuh gegara kamu yah. Aku first time yah meluk cowok tanpa kaos tahu,” jawab Rara jujur.


“Eh maaf kalau gitu aku pakai kaos dulu,” jawab Jefran sambil melepaskan pelukannya.


Rara yang merasa Jefran melepas pelukannya pun tidak tinggal diam, ia malah menguatkan pelukannya agar tidak Jefran tidak ke mana-mana.


“Ra, lepasin aku mau pakai kaos. Aku takut kamu sakit jantung gegara meluk aku. Coba kamu pikir nanti siapa lagi yang nolongin aku pas ada masalah?” Jawab Jefran meyakinkan Rara.


“Jef, udah yah jantung aku tuh udah aman. Terus aku tuh gak jantungan yah. Mending kamu peluk aku deh sekalian cium juga gak apa kok aku malah senang,” canda Rara yang kelihatannya berlebihan tapi terlihat lucu.


“Oh ya sudah,” jawab Jefran.


Ia langsung kembali memeluk Rara lama dan tiba-tiba ia mencium kening Rara.


“Udah kan, kamu udah puas kan atau mau nambah lagi?” Goda Jefran.


Muka Rara seketika menjadi semerah tomat. Ia mengira kalau candaannya itu hanya angin lewat untuk Jefran, tapi ternyata Jefran serius.


“Ra kok kamu diam sih? Tadi kan minta dicium jadi aku cium. Atau kalau kurang nih aku bisa tambah deh. Mau dipipi, jidat, hidung, atau bibir,” ucap Jefran sambil menunjuk wajah Rara yang tadi dia ingin cium.


Rara yang diperlakukan seperti itu langsung menyembunyikan wajahnya lagi.


“Jef udah yah ini udah cukup kok, padahal tadi aku cuma bercanda aja,“ ucap Rara malu-malu.


“Oke. Kalau gitu kamu pulangnya jam berapa? Terus kalau mau peluk aku bisa besok kok, kan besok kita masih ketemu. Kalau kamu peluk aku terus bisa-bisa aku masuk angin deh gegera ga pakai baju,” jawab Jefran yang sudah sedari tadi melepas pelukannya.


Rara yang sadar belum melepaskan pelukan akhirnya lepas.


“Ya sudah aku pulang nih, papa kan besok ke Paris jadi aku harus nemenin Mama di rumah. Masa iya aku tinggal di apartemen terus ninggalin Mama sendiri di rumah, nanti aku dicap anak durhaka lagi. Gak mau banget deh,” ujar Rara cepat banget kayak orang lagi ngerap.

__ADS_1


“Kalau gitu hati-hati yah sayang, kalau butuh bantuan atau butuh makan telepon aja biar aku anterin,” jawab Jefran sambil mengelus pucuk rambut Rara.


Setelah Rara keluar Jefran langsung menutup pintu. Kali ini ia tak mengantarkan Rara ke Parkiran sesuai permintaan Rara. Ia tak mau Jefran kecapean, Rara pun mengendari mobilnya menuju ke rumah orangtuanya bukan ke apartemen.


__ADS_2