Timer Me

Timer Me
Bab. 7. Kegugupan Rara


__ADS_3

"War War War, cepat sini balik belakang woi!" Teriak Reva seraya menarik rambut Wardana dari belakang.


"Apa sih lo setan? Main jambak aja rambut imut nan cantik gue. Mau lo gue tinju terus masuk UGD 7 hari 7 malam ha?" Jawab Wardana sangat marah.


Ia kemarin menghabiskan waktu berjam-jam di salon hanya untuk rambutnya. Hal ini ia lakukan lain tidak lain hanya untuk terlihat cantik didepan Alfius. Setelah memarahi Reva, pandangan Wardana tertuju kepada kotak makan Rara yang kelihatannya enak sekali. Beberapa detik kemudian ia tersadar akan kejadian ini, sejak kapan Rara mau membawa bekal?


"Ra, gue di bumi kan bukan di Mars?" Seru Wardana sambil menampar wajahnya.


"Bentar sumpah gue kayaknya mimpi deh, atau jangan-jangan ada makhluk halus yang masuk ke tubuh lo?" Lanjut Wardana.


"Eh lo kenapa sih War? Gak jelas banget deh. Mau gue tinju atau tendang aja biar lo sadar? Dan ini Rara yah, Rainaxy Flysire Azzora bukan makhluk halus," Jelas Rara disertai tekanan pada nama Panjangnya.


"Bukan gitu woi, gini yah dalam sejarah kehidupannya lo tuh sejak kapan mau bawa bekal coba. Tiap kali bawa bekal pun udah pasti bekalnya lo kasih ke gue atau Reva. Betul kan Rev?" Welas Wardana dan diiya kan oleh Reva.


"Gini yah teman-teman ku yang cantik dan baik hatinya, bekal ini tuh dibuat langsung oleh calon suami saya pakai cinta," jawab Rara.


Reva dan Wardana yang mendengar perkataan Rara ingin muntah saja, tapi ada yang aneh buat mereka. Sejak kapan sih Rara itu jadi bucin seperti ini? Setahu mereka Rara tidak pernah menyukai siapapun. Pernah ada seorang lelaki ganteng dan populer di sekolah tetangga yang menembak dirinya dan yah sudah diketahui hasilnya bahwa lelaki itu ditolak.


"Ra, gue penasaran sumpah siapa sih tuh calon suami lo? Ganteng yah? Kalau ganteng sabi lah temannya buat gue gitu. Capek banget gue jomblo melulu, pengen punya cowok," pinta Reva.


"Udah yah kalian gak perlu tahu dulu, gue janji deh pas kunjungan kita ke Desa X tuh gue bakal tunjukkan ke kalian," jawab Rara dan langsung jalan keluar kelas menuju kantin.


"Heh Ra, tunggu kita berdua kali. Masa iya lo sendiri ke sana!" Teriak Reva dan berlari mengejar Rara diiringi Wardana dari belakang.


Jam pelajaran hari ini akhirnya selesai, Jefran dan Lidya segera membersihkan buku pelajaran masing-masing dan memasukkan nya ke dalam tas. Setelah selesai mereka berdua bergegas ke perpustakaan. Saat memasuki pintu depan perpustakaan, mereka dikejutkan oleh sosok gadia cantik yang berteriak mengagetkan mereka berdua.


Lidya yang kaget cepat-cepat bersembunyi dibelakang Jefran. Dia takut kepada wanita yang tadi mengagetkan mereka berdua, dikira Lidya wanita tersebut stres dan akhirnya gila.


"Eh Lid kamu kenapa kok sembunyi dibelakang ku?" Seru Jefran sambil menertawai Lidya yang ketakutan.


"Hahaha, lucu banget temanmu Jef. Pengin deh cubit ginjalnya," canda Rara.


Ia sangat gemas dengan kelakuan Lidya yang penakut. Ya, gadis yang mengejutkan Lidya dan Jefran adalah Rara. Tadi sebelum pulang Jefran sudah mengabari Rara kalau dia masih belajar bersama Lidya diperpustakaan. Rara yang tadi sudah punya janji dengan Jefran ingin pulang bersamapun mau tak mau harus menunggu belajar, Ia tidak bisa memaksa Jefran untuk membatalkan kegiatan belajarnya dengan Lidya.


Toh Jefran sudah lama tidak masuk sekolah dan ketinggalan banyak materi serta tugas.

__ADS_1


"Jef aku pengin pulang aja deh, aku takut dimakan sama teman kamu," ucap Lidya ketakutan.


Ia masih tetap berada dibelakang Jefran.


"Ga gitu juga Lid, dia tadi cuma bercanda kok," jelas Jefran agar Lidya tidak takut.


"Hahaha Lid, aku becanda kok. Kenalkan aku Rara dari kelas 11 IPA 3." Kata Rara mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Lidya sebenarnya ragu untuk memberikan tangannya dan berkenalan dengan Rara, tapi apa boleh buat dia pun menyerahkan tangan dan berkenalan.


"Perkenalkan namaku Lidya Margareth dari kelas 11 IPA 1. Aku sebangku sama Jefran." Ucapnya sambil senyum.


Jantung Lidya seakan mau meledak saja, ia baru pertama kali bertemu dengan manusia seperti Rara. Kalau dibandingkan dengan Adit, Rara lebih mengerikan. Adit hanya mulutnya saja yang seperti emak-emak, tapi kelakuan masih bisa dikompromi.


Berbeda dengan Rara yang terlalu bar-bar serta suaranya seperti toak yang dipakai orang buat demo, ribut. Bukan itu saja, jika dia berbicara seperti ingin memakan orang. Padahal didepan Jefran dia lebih banyak kalem, walaupun cuma 10%.


"Lidya kamu jangan takut yah sama aku, aku ini baik loh cuma bawaannya aja yang kaya orang kerasukan," jelas Rara sambil tertawa diikuti Lidya dan Jefran.


"Nah udah kan perkenalkannya, kalau mau lanjut sebentar aja yah pas habis belajarnya. Kakiku udah pegal berdiri didepan pintu nungguin kalian berdua kenalan aja. Kek udah seabad aja waktu berjalan," ucap Jefran yang dari tadi berdiri melihat kedua gadis didepannya berkenalan.


Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam perpustakaan, Lidya dan Jefran sehabis menaruh tas dikursi langsung pergi mencari buku pelajaran yang akan dipelajari.


"Jadi kamu udah mengerti kan yang aku ajarin?" Tanya Lidya setelah selesai mengajarkan satu materi kepada Jefran.


"Gak banyak sih cuma aku udah ngerti kok," jawab Jefran.


"Coba kamu sebutin kapan Teori Asam Basa Arrhenius dikemukakan dan definisikan tentang basa dan asam nya," ujar Lidya untuk mengetes sampai dimana kemampuan Jefran.


"Teorinya dikemukakan pada tahun 1884 oleh Svante August Arrhenius. Terus definisi dari asamnya yaitu senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion H+ sedangkan kalau basanya itu senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion OH min," jawab Jefran lancar.


"Wah betul jawabannya, berarti kamu udah bisa dong sama materi yang ini. Kamu kok bisa yah cepat banget hafal teori kayak gini, jadi heran deh aku," ujar Lidya yang kagum akan daya ingat Jefran.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, mereka belajar kira-kira 3 jam diperpustakaan saking asiknya. Lidya senang karena dalam 3 jam tersebut Jefran sudah menguasai semua materi yang tadi diajarkannya, kalau dihitung tadi ada 8 mata pelajaran yang di ajarkan dan Jefran dengan mudah mengerti.


"Jef aku langsung ke parkiran yah, sopir ku udah jemput," seru Lidya setelah selesai beres-beres.

__ADS_1


"Eh kamu memangnya gak bawa mobil? Biasanya kamu bawa mobil," tanya JeFran.


"Hari ini gak bawa soalnya takut celaka, semalam aku tidur jam 3 pagi," jelas Rara.


"Oh iya. Ya sudah hati-hati yah di jalan, makasih buat hari ini," jawab Jefran sambil tersenyum kepada Lidya.


Lidya pun pergi ke parkiran tempat sopir nya menjemput, bagaimana dengan Rara? Rara sudah terlelap dalam tidurnya. Sepertinya ia sedang bermimpi tak tahu ke mana, Jefran yang melihat Rara tidur pulas tidak tega membangunkannya.


Akhirnya ia menunggu Rara sampai terbangun, Jefran memangku dagunya sambil menatap Rara yang sedang tertidur.


"Kalau tidur gini mukanya polos banget, mana Cantik juga wajahnya," ucap Jefran dalam hati.


Jefran yang sudah capek menunggu Rara kemudian memiliki ide. Ia mengambil spidol didalam tas dan mencoret wajah Rara, Ia menggambar diwajah Rara dan wajah Rara sekarang sudah seperti Kucing.


Jefran kemudian mengambil handphone dan memotret wajah Rara. Ia terlihat sangat imut dan lucu dengan coretan di wajahnya, karena sudah tidak ada ide akhirnya Jefran duduk diam.


Matahari masuk melalui celah jendela dan mengenai wajah Rara. Disitulah Rara terbangun karena terganggu akan cahaya matahari tersebut.


"Jef, ini udah jam berapa? Kamu udah selesai belajarnya?" Tanya Rara tanpa mempersilahkan Jefran menjawab dulu pertanyaannya.


"Sabar Ra, kalau ngomong mah jangan buru-buru. Sekarang udah jam 5 sore dan aku udah selesai belajarnya nya dari jam 4." Jelas Jefran.


"Eh kok kamu gak bangunin aku? Malah kamu nungguin aku bangun lagi," seru Rara.


"Yah kan kamu lagi tidur mana tega aku bangunin," jawab Jefran jujur.


"Ih kamu mah lain kali jangan gitu yah," jawab Rara sambil cemberut.


"Ra, coba deh kamu lihat wajahmu dihandphone deh," suruh Jefran.


Rara pun mengambil handphonenya dan membuka kamera, betapa terkejutnya ia ketika melihat kalau wajahnya ada coretan-coretan spidol.


"Jefran lo!" Teriak Rara sambil memukul bahu Jefran.


Karena terlalu semangat memukul Jefran, kursi yang diduduki Rara oleng dan Rara jatuh ke arah Jefran. Jefran pun dengan sigap menangkap Rara tapi alhasil mereka berdua jatuh. Posisi jatuhnya mereka Jefran dibawah menahan Rara diatasnya. Mereka berdua pun berteriak dan penjaga sekolah mendengar teriakkan mereka.

__ADS_1


Penjaga sekolah pun masuk mengecek siapa yang tadi membuat keributan didalam perpustakaan, karena tidak mau mendengar suara teriakan Rara lagi, Jefran pun menutup mulut Rara dengan tangannya dan memeluk Rara agar tidak kemana-mana.


"Shhtttt.."


__ADS_2