Timer Me

Timer Me
Bab. 31. Timer Me


__ADS_3

“Sumpah gue sama yang lain Cape nyari lu Lid, sampai kolong meja pun kita cari.” Ujar Feby dengan wajah yang terlihat Cape.


“Betul kata Feby, kita Cape banget cariin lu Lid. Lah sekarang malah datang sambil senyum-senyum. Apa jangan-jangan lu kesambet betul deh” tambah Rara sedikit curiga. Dia juga ikut mencari Lidya. Walaupun baru kenal mereka langsung akrab. 


Lidya yang mendengar keluhan mereka malah tertawa. Ia merasa lucu dengan kelakuan mereka. Bukannya tidak mau di perhatikan tapi perhatian mereka kali ini agak berlebihan.


Ia juga melihat mata Beby yang sepertinya baru habis menangis. Itu sudah pasti tidak lain kalau menangis gegara Lidya. Beby memang sangat cengeng jadi ia tidak heran lagi.


“Maaf yah sebelumnya. Sebenarnya tadi gue keluar nyari angin segar dan ini udah jadi kebiasaan gue tiap pagi. Tadi juga mau bangunin kalian semua tapi kalian tidurnya nyenyak banget, Yaudah gue langsung jalan aja” jelas Lidya.


“Terus yah kan udah jam segini,  diluar juga udah kedengaran suara komando nyuruh keluar. Mending kita keluar deh takut dimarahin Bu guru” lanjut Lidya. Ia tidak memberikan kesempatan kepada yang lain untuk menjawab pernyataannya. Ia takut tidak bisa menjawab dengan benar jawaban dari teman-teman itu.


Ia tau benar dengan sifat kedua sahabatnya yang kalau sudah bertanya maka tidak akan memiliki ujungnya juga. Keenam wanita itu pun bergegas keluar dan menunju ke lapangan.


Berbeda dengan para cowok. Mereka bukannya langsung bergegas ke lapangan malah masih singgah di taman. Sesuai dengan apa yang dikatakan Angga tadi tentang si cantik, teman-teman sekamarnya pun ikut mencari si cantik itu.


Angga keringat dingin karena teman-teman Sanga bersemangat melihat bunga itu.


Ia berpikir keras agar kebohongannya itu dapat dipercaya oleh mereka. Tiba-tiba ia teringat tadi saat memeluk Lidya ia melihat ada kumpulan bunga disana. Tidak tau jenis apa bunga itu tapi ia terlihat sangat cantik.


Setelah memikirkan bunga itu otaknya malah bergeser mengingat kenangannya tadi pagi bersama Lidya. Aroma tubuh Lidya masih teringat jelas di otaknya. Ia seakan tidak ingin melupakan setiap peristiwa bersama Lidya.


Tapi tiba-tiba hatinya bertolak belakang dengan kemauan di otaknya. Dengan cepat ia melupakan kisah tersebut dan membuangnya jauh-jauh agar tidak mengingatnya lagi. Rasa benci itu kenapa datang begitu cepat.

__ADS_1


Apakah ini hukuman Tuhan kepada dia agar tidak lagi merasakan namanya cinta. Ia juga tidak tau pasti , padahal menurutnya saat bersama Nadya ia mencurahkan semua isi hatinya hanya untuk Nadya.


Karena tidak mau menjadi beban pikiran Angga langsung bergegas mengajak kawannya untuk melihat si cantik , bunga. Saat sampai di sana teman-temannya kaget bukan main. Bunga itu terlihat sangat cantik. Ternyata bunga itulah yang menjadi daya tarik Desa X. Bunga tersebut hanya hidup dan tumbuh di dataran Desa X.


Mereka semua mengambil beberapa gambar sebagai kenangan jika pulang dari tempat ini. Sehabis puas mengambil gambar mereka langsung bergegas ke lapangan karena jam sudah menunjukkan pukul 06.50. 


“Baik anak-anak selamat pagi semua. Sesuai janji Pak Kemarin jadi pagi ini kita akan melaksanakan kegiatan pertama kita. Mencari bunga Y yang hanya tumbuh di Desa X. Sebelum jalan kita akan mengadakan pengundian untuk menentukan siapa teman sekelompok kalian. Pak tidak mengizinkan kalian untuk sekelompok dengan pilihan kalian. Karena Pak tau pasti kalian hanya bercanda di jalan dan tidak mengerjakan praktek ini dengan sungguh-sungguh. Terimakasih” Ucap Pak Nathan kemudian meninggalkan mereka.


Tidak tau ia akan kemana. Semua siswa pun maju ke depan dan mengambil  gulungan kertas kecil yang berada dalam kotak.  Semua orang berdoa agar Mereka bisa sekelompok sama orang yang mereka inginkan.


Sepertinya kali ini takdir  memihak kepada mereka semua. Mereka semua senang karena mendapat teman sekelompok sesuai ekspektasi. Jefran bersama dengan Rara. Feby bersama Jorgas. Aditya pastinya dengan Reva. Terus dua bucin si Alfius dan Wardana. Beby dan Satria sekelompok.


Mereka tidak keberatan karena mereka sudah saling kenal Lewat Pak Nathan. Di satu sisi terlihat Angga dengan wajah Yang tak bersahabat. Ia mendapat kelompok bersama Lidya.


Ia langsung memegang tangan Rara dan sontak Rara terkejut merasakan ada seseorang yang memegang tangannya. Ia menoleh dan ternyata itu adalah seorang lelaki tampan yang sangat ia kenal.


Beby, Lidya, dan Feby yang tidak mengetahui  hubungan mereka berdua langsung kaget. Mereka langsung membuka suara kepada Jefran.


“Hey Jef, itu anak orang kenapa lu langsung nyosor aja ke tangannya. Jangan kegatelan” ujar Beby sedikit emosi.  Feby dan Lidya juga seperti emosi. Walaupun mereka kenal baik Jefran tapi mereka juga tidak akan meninggalkan Rara digandeng seperti itu.


“Eh Kalian kenal Jefran yah. Maaf sebelumnya dia itu pacar gue” jelas Rara karena ia tidak mau ada salah paham antara mereka semua.


“Kenal lah, dia aja duduk sebangku sama gue.” Ujar Lidya. 

__ADS_1


“Aduh kok bisa gini yah . Jadi bisa lah Rara minta restu sama kalian” ujar Rara bercanda. Mereka tertawa bersama. Kemudian mereka semua bubar mencari teman sekelompok mereka.


Angga dari tadi diam saat bersama Lidya. Tidak tau pasti kenapa sifatnya suka berubah seperti cuaca saja. Kadang panas kadang mendung kadang pun hujan deras. Sepertinya ia harus memeriksa kejiwaannya di dokter.


Lidya sendiri juga tidak tau mau berbuat apa dengan Angga. Ia juga memilih untuk diam dan tidak berbicara sepatah katapun karena ia tau kalau Angga tidak baik-baik saja.


Melihat semua orang sudah masuk kedalam hutan mencari bunga, Angga menarik tangan Lidya dan ikut masuk ke hutan. Suasana hutan Yang sunyi membuat Lidya takut. Ia menguatkan pegangan tangan dengan Angga.


Angga merasakannya tapi ia menahan untuk tidak marah. Ia tau kalau Lidya sedang ketakutan , jadi ia membiarkan saja. Kalau ia lepas pasti anak itu malah akan memeluknya. Ia tidak mau Lidya memeluknya.


Amit-amit pikir Angga. Mereka berdua berjalan menyusuri hutan dengan saling diam tapi tidak dengan otak dan hati mereka Yang terus berkelahi. 


“kenapa coba tadi lu ngasih perhatian ke gue Angga malah make peluk juga, Kalau akhirnya sekarang jadi  diemin gue. Gue butuh penjelasan sekarang Angga. Gue ga mau Cuma gue sendiri yang punya rasa cinta. Gue juga ingin lu balas perasaan gue Angga” omel Lidya dalam hati. Ia tidak berani mengatakannya Secara langsung.


Ia takut jika Angga akan marah dan meninggalkan dia sendiri di dalam hutan. Angga yang melihat wajah Lidya tidak bersahabat memutuskan untuk membuka suara. Ia tau jelas dengan apa yang dirasakan Lidya sekarang.


Sepertinya sudah ada ikatan batin antara mereka berdua. Mereka berdua sepertinya tau bagaimana keadaan satu sama lain.


Tapi karena ego dan  gangguan kejiwaan Angga yang sedikit bermasalah membuat ia menahan apa yang berkecamuk di otak dan hatinya. Tapi ya sudahlah ia tak mau dulu membukanya hatinya untuk Lidya.


“Lu kenapa sih Lid, muka udah kaya baju kusut aja” ucap Angga membuka pembicaraan. Lidya gugup akan pertanyaan Angga. Masa ia mau menjawab yang sejujurnya.


“Eh itu anu , gue baru pertama kali masuk ke hutan jadi agak takut gitu. Takut aja ada binatang buas yang datang” bohong Lidya.

__ADS_1


Angga yang tau Lidya berbohong hanya membiarkan saja dan kembali berjalan tanpa membalas jawaban Lidya. Mereka kembali diam tanpa percakapan


__ADS_2