Timer Me

Timer Me
Bab. 59. Timer Me


__ADS_3

“Teman-teman karena hari ini kita semua ada di sini dan makan bersama. Biar semua makanan sama minumannya aku yang bayar. Hari ini ulang tahunnya aku.” Ujar Catrin saat semua orang lagi sibuk berbincang dengan pasangan mereka. Semua orang yang ada di situ kaget kecuali Satria dan Nadial sebagai orang terdekatnya. 


Kini semua orang sibuk memberi selamat kepada Catrin. Setelah memberi selamat bertepatan dengan pesanan mereka datang dan kedatangan Pak Nathan. Semua orang pun kini sibuk menyantap nasi uduk mereka. 


“Ternyata betul yang di bilang Reva. Nasi uduk di sini enak banget.” Puji Rara. 


“Wardana gitu dong. Orang yang jualan nih nasi uduk langganan Wardana di kompleks.” Jawab Wardana menyombongkan diri. 


“What? Kok bisa sampai sini sih War. Rumahnya lo kan jauh dari sekolah. Masa mbaknya jalan jauh-jauh sampai ke sekolah.” Tanya Reva heran. 


“Hehehe. Sebenarnya gue yang request mbak nya buat jualan di sini. Terus anaknya deh yang jualan dekat kompleks gue.” Jawab Wardana tanpa dosa. Semua orang hanya menggelengkan kepala mendengar penjelasan Wardana. 


“Eh bentar gays. Kata Catrin kan sebentar kita harus ke rumahnya. Nah gue sama yang lain nggak tau alamatnya. Gimana kalau langsung aja bagi lokasinya di grup wa kita. Biar sebentar kita nggak kesasar” Ujar Angga. 


“Oh oke bentar gue bagiin dulu. Ingat yah pesta ulang tahunnya di mulai jadi 8 malam. Jangan ada yang terlambat yah. Gue juga udah sekalian kirim undangannya. Jadi kalau bingung lihat alamatnya di undangan, gue udah kirimin lokasinya handphone. ” Jawab Catrin memberi peringatan. 


“Cat, Pak di undang ga. Pak ini masih muda loh. Buktinya aja ada anak remaja yang mau jadi pacar Pak.” Tanya Pak Nathan sembari menggoda Beby. Beby yang tersindir hanya malu sambil menutup wajahnya yang sudah memerah.  Semua yang melihat kejadiannya itu pun tertawa. 


“Iya dong Pak. Masa Pak tidak saya undang. Kalau Pak Nathan itu tamu undangan paling spesial karena hanya Pak Nathan guru satu-satunya yang saya undang.” Jelas Catrin sambil  tersenyum ke arah Pak Nathan. Kini Pak Nathan menunjukkan kepercayaan dirinya yang meningkatkan akibat di anggap tamu undangan spesial. 


30 menit berlalu dan akhirnya mereka pun bubar setelah selesai makanan dan berbincang-bincang. 


“Ra, boleh nggak sebentar malam gue jemput lo ke acaranya Catrin.” Tanya Jefran saat mereka berdua berjalan melewati koridor sekolah. 


“Mending gue aja deh yang ke apart lo. Lo udah denger kan yang gue ceritain ke lo hari itu. Gue takut aja Mama gue bakal marah kalau lo jemput gue ke rumah.” Jawab Rara dan di setujui oleh Jefran. Jefran tidak mau lagi sang pujaan hati terkena masalah. 


“Jadi sekarang lo pulang pakai apa? Si Kiel jemput yah?” Tanya Jefran memastikan Rara. 


“Ini dari tadi gue telepon juga nggak di anggap. Boleh kan lo temenin gue sebentar di sini Jef. Gue takut sendirian.” Pinta Rara. 


“Oke siap tuan putriku.” Jawab Jefran dengan suara manisnya. Rara di buat salah tingkah saat dengan panggilan tersebut. 


“Ih kenapa senyum-senyum sendiri. Jangan sampai lo kerasukan yah.” Canda Jefran. 


“Tanya deh sama diri sendiri. Udah buat anak orang salah tingkah eh malah di sangka gila.” Omel Rara sembari melipat kedua tangan di dada dan memanyunkan bibir tanda ia sedang cemberut. 


“Ya sudah jangan ngambekan gitu dong. Nanti cantiknya nambah.” Goda Jefran untuk kedua kalinya dan kali ini pun berhasil membuat Rara kembali salah tingkah. 

__ADS_1


“Ih Jefran mah suka gitu yah.” Marah Rara sambil memukul lengan Jefran. 


“Hahaha maaf Ra. Maafin Jefran nggak bakal ulangi kok.” Jefran memintanya ampun kepada Rara. 


Tiba-tiba ponsel Rara berbunyi tanda ada panggil video yang masuk. Ternyata yang menelepon Rara adalah Kiel. 


“Bentar gue angkat telepon dulu yah.”Pamit Rara


“Kiel kapan si jemputnya. “


“Maaf yah Ra, sepertinya gue nggak bisa jemput lo deh. ”


“Memangnya kenapa sampai nggak bisa?”


“Ban mobilnya pecah dan sekarang gue lagi di bengkel. Seperti bakal lama deh jadi lo pulang naik taksi aja. Oke bye Ra.” Pamit Kiel kemudian menutup panggilan begitu saja. 


“Kenapa Ra? Kok mukanya jadi musuh gitu.” Tanya Jefran. 


“Ban mobilnya pecah dan butuh waktu lama buat perbaikannya. Sekarang gue bakal naik taksi buat pulang.” Jawab Rara dengan wajah lesu. 


“Lo tungguin di sini yah, gue ke sana dulu buat ambil motor.” Lanjut Jefran kemudian berlalu ke parkir. 


Tak butuh waktu lama Jefran sudah datang motor besar  berwarna merah miliknya. 


“Ra sini dekat.” Panggil Jefran dan Rara mendekat.  Kini Jefran sedang sibuk memasangkan helm ke kepalanya Rara. Bagaimana dengan Rara? Rara malah sibuk melihat wajah tampan Jefran dengan jarak yang begitu dekat. 


“Ra ini sudah selesai pakai helmnya. Ayok naik ke motor.” Pinta Jefran namun Rara tak bergerak sedikit pun dari posisinya. Ia masih berdiri menatap wajah Jefran. 


“Ciptaan Tuhan mana lagi yang kau dustakan.” Ucap Rara tanpa sadar.


Gemas dengan kelakuan Rara, Jefran mencolek sedikit hidung gadis itu. Dengan cepat Rara langsung tersadar dari lamunannya.


“Gue tau gue ganteng kok Ra. Tapi  nggak pegel apa tuh kaki berdiri terus.” Goda Jefran. 


“Ih apaan sih nggak jelas banget deh jadi orang.” Omel Rara. Ia pun ke belakang dan duduk di kursi penumpang. 


“Pegangan yang erat yah, gue mau ngebut.” Perintah Jefran kepada Rara. Rara pun menurut dan memeluk Jefran erat dari belakang. Memang momen ini adalah momen yang paling di inginkan oleh Rara dari dulu. Ternyata Jefran pun sama halnya dengan Rara yang menginginkan hal seperti ini. 

__ADS_1


“Gue nggak tau rumah lo di mana jadi jangan lupa yah tunjukkin arahnya.” Ujar Jefran. 


“Oke siap.” 


Mereka berdua pun keluar dari halaman sekolah. Kecepatan motornya Jefran sebenarnya tidak sekencang yang ia katanya tapi Rara sudah terlanjur nyaman dengan memeluk Jefran. Biarkan dirinya kali ini merasakan bagaimana di antara pulang oleh pujaan hati. 15 menit berlalu dan akhirnya mereka berdua sampai juga di depan gerbang rumah Rara. Setelah melepas helm, Rara mengucapkan terima kasih kepada Jefran. 


“Makasih yah udah anterin gue sampai ke rumah.” 


“Nggak usah makasih. Gue ikhlas kok buat cantiknya Jefran apa sih yang nggak.” Jawab Jefran kemudian mengelus kepala Rara. 


“Gue pulang dulu yah. Sampai jumpa sebentar malam cantik.” Pamit Jefran kemudian berlalu dengan motornya. 


Rara masih saja terpaku di depan pagar sambil memegang kepalanya yang tadi sempat di elus Jefran. Ia terus senyum-senyum mengingat kejadian tadi. Ia juga mencium jaket yang tadi ia pakai. Parfum Jefran ternyata menempel sempurna di jaket miliknya. 


“Nggak bakal gue cuci sumpah. Atau gue taruh di museum aja kali. Ini kan barang bersejarah. Beuh, mana harus banget lagi.” Ucap Rara sendiri sambil masuk ke dalam rumah. 


“Anak Mama senyum mulu. Pasti lagi jatuh cinta nih yah.” Teriak Mama. Rara tidak sadar jika ada Mamanya di situ. 


“Eh Assalamualaikum Mah.”


“Waalaikumsalam Ra. Kok senyum-senyum sendiri sih. Lagi jatuh cinta sama siapa nih.” Tanya Mama kepo.


“Ada dong Mah, mau tau aja urusan anak muda.” Jawab Rara tertawa. Mamanya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya. 


“Eh Mah, Rara tadi dapat undangan ulang tahun teman jam 8 malam ini. Izinin yah Mah, sekali ini aja kok.” Rara memohon. 


“Eum, tapi ingat jangan pulang sebelum jam 12 yah. Kalau lewat jam 12 berarti malam ini Rara tidurnya di luar sama nyamuk.” Jawab Mama setuju. 


“Aw Mama memang Mama paling baik sedunia deh.” Rara pergi memeluk sang Mama.


“Oh Rara hampir lupa Mah. Kak Kiel tadi ban mobilnya pecah jadi katanya sore atau malam baru bisa pulang ke rumah.” Kata Rara. 


“Oke Ra makasih yah  infonya. Sebentar pulang baru Mama ngurus Kak Kiel. Gih kamu pergi tidur dulu, kan sebentar malah harus ke acara ulang tahun.”


“Oke Mak.”


Rara pun berlalu meninggalkan Mamanya di ruang keluarga. 

__ADS_1


__ADS_2