
Sebuah kedekatan bukan berarti ada hubungan lebih. Kedekatan antara lawan jenis terkadang dianggap orang sebagai dua orang Yang menjalin hubungan spesial. Fakta terkuat mengatakan pasti salah seorang dari antara mereka ada yang memiliki rasa ingin lebih dari teman. Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi.
Rara dan Jefran contohnya. Ketika Rara sudah memiliki rasa ingin memiliki lebih dari teman, Jefran malah mematahkan rasa itu. Belum tahu pasti dengan kejelasan perkataan Jefran tadi Siang. Apakah itu serius atau tidak. Yang pastinya Sekarang Rara sudah galau terlebih dahulu.
Rara terus mencari keberadaan Jefran tapi tidak ketemu juga. Tiba-tiba ada sebuah tangan memeluk nya dari belakang.
“Maaf yah Ra, tadi gue bercanda aja sama Lo. Gue mau ngetes gimana keadaan lo setelah gue bilang kaya gitu.” Ujar seorang cowok yang tak lain adalah Jefran. Rara tidak menjawab perkataan Jefran, Ia malah menangis.
“Eh kok nangis sih. Jef jahat banget yah?.” Tanya Jefran memastikan keadaan Rara.
“Jef jahat banget sumpah. Rara dari tadi ga semangat tau pas pulang ke sini. Rara kepikiran terus sama kata-kata Jef.” Ujar Rara Sambil menangis.
“Ya sudah Jefran minta maaf yah. Jefran ga ngulang deh. Janji.” Janji Jefran. Hati Rara yang sudah luluh pun menerima permintaan maaf Jefran. Walaupun sempat marah besar akan perkataan Jefran tapi dia dengan mudah memaafkan Jefran.
“Perhatian anak-anak semua. Karena saya lihat semua sudah dengan pasangan masing-masing jadi saya mulai saja. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 3 sore dan sebentar malam akan diadakan acara penyambutan yang kemarin dibatalkan. Jadi, maksudnya disini saya menyuruh kalian untuk menyalin semua hasil penelitian di lembar kertas kerja yang baru dan menuliskan kesimpulan dari kegiatan tersebut. Saya beri waktu sampai jam 5 sore dan tidak ada protes. Hasilnya nanti dikumpulkan saja pada Kak Angga. Terima kasih.” Ujar Pak Nathan tegas. Ia kemudian membagikan lembar kerja siswa kepala semua murid.
Sehabis membagikannya ia langsung berlalu meninggalkan anak-anak.
Wajah semua murid saat ini terlihat begitu tertekan. Dengan waktu yang diberikan sepertinya tidak cukup. Bukan hanya satu lembar yang diisi, melainkan lima lembar jawaban. Terus untuk setiap lembarnya pasti ada saja jawabannya yang sepanjang perjalanan hidup. Mau marah juga tidak bisa.
Sekolah mereka dikenal sebagai sekolah yang taat akan perintah guru. Semua kasus yang biasa terjadi di sekolah lain tak pernah terjadi di sekolah itu. Mungkin karena ini uang sekolah tiap bulan nya bisa mencapai angka 6 juta.
Harga yang pas dan tepat untuk mereka yang berduit. Untuk masuk ke sekolah tersebut juga tidak mudah. Harus mengikuti beberapa tes yang bisa dikatakan sulit.
Saat ini semua sibuk menulis dan melihat kembali hasil penelitian mereka. Beby dan Satria yang dari sibuk menulis tiba-tiba berhenti. Beby mengeluh karena pinggang nya sakit. Baru hari ini banyak jalan kaki dan duduk terlalu lama.
__ADS_1
“Sat berhenti tahan boleh ga. Pinggang gue sakit banget sumpah. Gue kirain mau datang bulan tapi ga mungkin karena sebelum ke sini gue udah habis datang bulan.” Ucap Beby sambil memegang pinggangnya.
“Ini nih yang biasa dikata remaja jompo. Baru juga gerak sedikit langsung sakit pinggang. Kerja nya aja yang model, malah suka sakit pinggang.” Jawab Satria mengejek Beby. Ia heran dengan Beby. Masa jadi model terkenal tapi suka sakit pinggang. Ada-ada saja Beby ini.
“Namanya juga manusia Sat, pasti ga luput dari dosa dan penyakit.” Ujar Beby membalas Satria. Ingin memarahi Satria tapi ia sudah tidak ada tenaga.
“ Sudah Beb, mending kita kerja nih tugas deh. Lo tau kan kalau pacar Lo marah gimana. Mending buruan deh, gue yang tulis lo yang baca jawabannya.” Ucap Satria sedikit menakuti Beby.
Beby langsung membayangkan bagaimana wajah Pak Nathan jika sedang marah. Ia langsung buru-buru mengambil kertas jawaban dan membaca jawaban untuk satria.
Di sebelah mereka ternyata ada dua pasangan yang sedang dimabuk asmara. Siapa lagi kalau bukan Jorgas dan Feby.
Disana terlihat Jorgas yang sibuk menulis untuk Feby. Ia melarang Feby untuk menulis. Ia takut jika sebentar Feby tak dapat mengikuti kegiatan penyambutan dari Desa X karena kecapekan. Saking sayangnya Jorgas ke Feby ia rela melakukan apa pun untuk Feby. Selagi ia masih bisa membantu, maka dengan senang hati ia bakal melakukan.
Mau heran tidak bisa karena kenyataannya bahwa orang itu adalah Jorgas. Ia baru pertama kali pacaran, jadi ia ingin first time nya terlihat baik. Ia juga berdoa agar pacar pertama nya kelak menjadi isterinya di masa depan. Waduh, jadi baper deh bawaannya.
“Tunggu sebentar. Nah kan sudah habis. Mau Jojo yang antar atau sayang aja?.” Tanya Jorgas kepada Eby. Sebelum itu, nama Jojo dan Eby adalah panggilan sayang mereka berdua. Lucu sekali pasangan ini.
“Biar Eby aja gimana. Kasihan Jojo sudah berjuang tulis nih lima lembar jawaban.” Jawab Feby kemudian mengambil kertas jawaban mereka. Ia pamit dengan Jorgas dan pergi mencari Angga.
“Akhirnya selesai juga penderita ini. Mau banget santai sih tapi kasihan Eby nanti Cape kalau kerja.” Ujar Jorgas sambil merebahkan tubuhnya di kursi taman. Ia meremas jarinya yang sudah keriting. Tidak apa-apa jarinya sakit yang penting Ayang senang. Apa sih yah ga buat Eby nya Jojo. Hehehe
Angga dan Lidya sedang sibuk-sibuknya memeriksa semua lembar Kerja siswa. Karena dua kelas yang berpartisipasi jadi mereka harus menghitung berulang kali. Selesai menghitung mereka berdua langsung pergi ke kamar Pak Nathan.
Setelah jauh dari kerumunan, Angga sengaja memegang tangan Lidya. Lidya kaget dan ingin melepaskannya namun Angga malah makin kuat menggenggam tangan Lidya.
__ADS_1
“Sudah, jangan takut gitu sayang. Udah ga orang di sini jadi kita bisa jalan Sambil gandengan tangan. Kalau ada yang lihat pun gue bakal kenalin kalau Lo itu pacar gue.” Ucap Jorgas sambil tersenyum. Lidya tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan Angga. Sayang? Apakah telinga Lidya salah mendengar.
“Bentar deh, gue ga salah dengar kan Lo manggil sayang. Itu untuk gue kan atau untuk siapa di sini ha?.” Lidya berbalik melihat sekelilingnya. Siapa tau kan ada orang selain dirinya. Angga merasa lucu melihat kelakuan polos Lidya.
Lidya sangat menggemaskan dengan wajah polosnya. Angga langsung memegang bahu Lidya agar wanita itu diam.
“Lidya Gabriela Margareth coba tatap mata gue.” Suruh Angga agar Lidya melihat matanya. Lidya pun memberanikan diri melihat mata Angga. Jantungnya Lidya tidak aman lagi. Jantungnya serasa ingin meledak saja.
“Sekarang gue mau jelasin sesuatu. Lo itu udah resmi pacar gue. Gue manggil sayang juga untuk Lo bukan dengan yang lain. Lo jangan kaya orang kebingungan saat gue manggil sayang yah. Kalau gue manggil sayang harus di balas sayang juga. Kalau ga balas gue segan-segan buat nyium di lo walaupun itu di depan banyak orang.” Jelas Angga panjang lebar. Ada rasa senang dan takut bercampur aduk. Ia senang karena Angga sudah menganggap dirinya sebagai pacar.
Takutnya yaitu jika ia salah menjawab panggilan sayang dari Angga. Malu banget kalau sampai orang melihat dirinya dicium Angga. Mau taruh dimana coba mukanya.
Setelah itu mereka berdua pergi ke kamar Pak Nathan yang berada di gedung laki-laki. Kamar Pak Nathan berada di bagian depan jadi mereka tidak capek-capek untuk pergi kebagian dalam. Mana gedung tersebut sangat besar. Bisa mampus mereka mencari Pak Nathan.
“Kakak, ini Angga antar tugas.” Teriak Angga sambil mengetuk pintu Kamar Pak Nathan berulang-ulang. Sebenarnya ia mau langsung masuk ke dalam kamar itu, tapi kamar itu terkunci.
Angga paling benci dengan namanya menunggu. Ia tak suka menunggu sesuatu yang karena hal itu membosankan. Beberapa saat kemudian Pak Nathan keluar dengan rambut yang masih basah. Bisa di baca kalau ia baru selesai mandi.
“Lama benar kak. Gue udah lumutan dari tadi nungguin kakak. Nih tugas penelitian. Bye.” Ujar Angga langsung pergi meninggalkan Pak Nathan. Lidya tidak lupa ia tarik.
“Terima kasih banyak Pak. Kami pamit dulu.” Pamit Lidya di sela-sela Angga menarik tangannya.
Pak Nathan tersenyum melihat pemandangan di depan matanya.
“Ga beda jauh yah sama Nadya. Kali ini kamu malah makin bucin dek.” Ucap Pak Nathan kemudian masuk ke dalam kamar. Ia ingin bersiap untuk acara penyambutan dari masyarakat Desa X. Ia sudah tidak sabar dengan acara tersebut.
__ADS_1
Kelihatannya bakal meriah karena saat pulang tadi ke gedung laki-laki, ia melihat banyak dekorasi berwarna-warni yang cantik dan ramai.