Timer Me

Timer Me
Bab. 19. Dibalik Kematian-Nya


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang Pak Nathan langsung menggendong Nadya dan mencari taksi, Angga yang melihat kejadian tersebut dari tadi tidak bisa diam. Ia terus meremas jemarinya dan berjalan kesana kemari sambil menunggu taksi yang lewat agar tidak terlalu panik, tapi ketika ia kembali melihat wajah Nadya ia makin panik. Wajah cantik itu terlihat sangat pucat, bahkan lebih pucat disaat ia baru saja pingsan.


Tak lama taksi lewat dan Angga tanpa basa basi langsung melambaikan tangan membuat taksi tersebut berhenti. Tak membuang waktu lagi, mereka masuk ke dalam taksi itu. Angga duduk di depan bersama supir sedangkan Pak Nathan dibelakang sambil tetap mengendong gadis yang sangat dicintai adiknya itu.


“Pak tolong antarkan kami ke Rumah sakit A. Kalau bisa dipercepat saja jalannya,” suruh Pak Nathan dan diiyakan sopir taksi tersebut.


Selama diperjalanan, keringan dingin terus mengucur sambil menatap rekan mereka. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di depan rumah sakit, tanpa berpikir panjang Pak Nathan langsung turun dan berlari membawa Nadya masuk kedalam rumah sakit. Mereka tidak lupa untuk membayar ongkos taksi.


“Sus, suster tolong ini ada yang pingsan!” Teriak Pak Nathan saat masuk kedalam rumah sakit.


Suster pun langsung membawa brankar kemudian membawa Nadya keruang rawat.


“Tolong tunggu diluar,” ucap seorang suster kepada Angga yang ingin juga masuk ke dalam.


Angga berbalik dan mendapati kakaknya tengah duduk sambil memegang kepalanya, kakaknya juga khawatir akan keadaan Nadya. Pak Nathan mengangkat kepala dan memanggil Angga duduk bersamanya.


“Angga, kamu tenang dulu. Kamu berdoa aja buat hasilnya nanti. Kakak yakin Nadya bakal baik-baik aja,” ucap Pak Nathan sambil mengelus pundak adik yang terlihat sangat khawatir.


Ia berusaha menenangkan Angga. Wajah Angga sudah bisa dibaca kalau dia sedang mengkhawatirkan Nadya. Hari ini adalah hari dimana kedekatan mereka menginjak tahun ketiga, ia selalu bersama Nadya dimana pun Nadya berada. Melihat orang yang dicintai tiba-tiba pingsan membuat Angga merasa badannya seperti tidak bernyawa. Ia tidak pernah melihat Nadya pingsan ataupun merasa sakit. Ketika bersama dirinya keadaan Nadya baik-baik saja, ia pun duduk merenung dengan beberapa teka-teki yang berkeliaran diotaknya.


Pikiran buruk tentang keadaan Nadya mulai muncul dikepala. Ia sangat khawatir jika tiba-tiba Nadya meninggalkan dirinya sendiri. Saat sedang berperang dengan pikirannya, Dokter keluar dari ruang rawat Nadya.

__ADS_1


Pak Nathan dan Angga langsung bangkit dan menghampiri Dokter tersebut.


“Dok, bagaimana keadaan adiknya saya?” Tanya Pak Nathan.


“Keadaannya sekarang masih belum sadarkan diri. Penyakit hipotensi yang sudah lama di derita Nadya membuat dia pingsan. Sebelum itu saya ingin memberitahu, Nadya adalah pasien saya jadi saya tahu betul jika dia tidak bisa kecapean. Kalau begitu saya pamit dulu, kalian berdua bisa langsung melihat keadaan Nadya didalam,” jelas Dokter tersebut dan berjalan meninggalkan Pak Nathan serta Angga.


Mereka langsung buru-buru masuk kedalam melihat keadaan Nadya. Saat masuk kedalam, terlihat Nadya yang terbaring lemas dengan wajah pucat. Angga tidak sanggup melihat Nadya seperti itu. Ia langsung menghampiri Nadya dan memegang tangan wanita itu. Tiba-tiba Ibu serta Ayah Nadya datang dan langsung menuju ke arah Nadya yang terbaring lemah, air mata mereka tak terasa jatuh begitu saja ketika melihat keadaan anak mereka satu-satunya.


“Tante, kenapa tante gak kasih tahu aku kalau Nadya mengidap hipotensi? Bukannya aku berhak tahu tante?” Ujar Angga terdengar sedih.


Seketika Ibunya Nadya berbalik menghadap ke arah Angga.


“Tante gak mau ngerepotin kamu nak, maafkan tante yah. Kamu juga jangan beritahu Nadya, karena tante menyembunyikan hal ini ke dia. Tante gak mau dia bersedih karena hal ini,” jawab Ibu dari Nadya memohon.


Pak Nathan yang melihat Angga langsung menghampiri adiknya dan menutup mulut anak itu.


“Maaf tante, adik saya gak bisa menghormati orang yang lebih tua,” tutur maaf Pak Nathan sambil sedikit membungkukkan badan.


“Gak apa Nathan, tante memang layak dimarahin seperti itu. Walaupun dia anak kecil tapi ucapannya itu benar. Tante minta maaf yah Angga. Karena tante Nadya jadi seperti ini. Diketurunannya tante anak pertama wanita atau anak bungsu wanita akan terkena hipotensi, tante juga tidak tahu penyebabnya tapi penyakit ini menurun dari omanya Nadya. Tante dulu pernah terkena hipotensi dan alhamdulillah tante bisa sembuh dari penyakit itu,” jelas Ibunya Nadya panjang lebar dengan sedikit isakan pilu.


Mendengar kenyataan itu membuat Pak Nathan dan Angga terdiam sejenak. Mereka tidak menyangka bahwa Nadya bisa mendapatkan penyakit seperti itu. Senyuman yang manis serta tawa yang selalu menghiasi kehidupannya seakan menutupi penyakit berbahaya tersebut, mereka masih tidak percaya akan kenyataan yang berada di depan mata mereka. Angga, Pak Nathan, serta kedua orang tua Nadya duduk termenung menunggu Nadya sadar dari pingsan, Angga masih memikirkan bagaimana jika Nadya tidak bisa sembuh dari penyakit itu. Ia berjalan mendekati Ibunya Nadya dan mengajaknya berbicara.

__ADS_1


“Tante, boleh gak Angga tanya sesuatu?” Ijin Angga.


“Tanyakan saja sayang,” jawab Ibunya Nadya sambil mengelus kepala Angga agar lelaki itu tenang.


“Penyakit Nadya bisa sembuhkan Tante? Angga sudah janji sama Nadya kalau pas SMA Angga bakal jadiin Nadya pacar, Angga juga janji buat Nadya bahagia kalaupun nantinya Nadya gak bisa sembuh dari sakit. Setidaknya sebelum Nadya pergi, dia sudah mendapatkan kasih yang banyak dari Angga.” Kata Angga tulus dari dalam hatinya.


Mendengar ucapan anak kecil disampingnya itu, dada Ibunya Nadya terasa sesak. Ia diam sejenak mencerna kata-kata seorang anak kecil yang begitu tulus, jantungnya tiba-tiba seperti tertusuk duri kenyataan yang pahit. Memang penyakit ini tidak terlalu berbahaya, tapi ia juga mengkhawatirkan jika anaknya tidak bisa sembuh seperti saudara wanitanya yang meninggal akibat penyakit tersebut.


“Tante yakin Nadya bakal sembuh, kamu rajin berdoa yah biar Nadya bisa sembuh dari penyakitnya,” jawab Ibunya Nadya dengan suara menahan tangis.


Tiba-tiba beberapa suster masuk dan memberikan resep obat buat Nadya. Mereka kemudian meminta izin kepada Keluarga Nadya agar mereka bisa segera memindahkan Nadya keruang rawat yang lebih nyaman, sesuai permintaan ayahnya Nadya.


Mereka semua menunggu diluar dan menunggu para suster membawa tubuh Nadya pergi ke ruang rawat barunya.


“Angga dan Nathan, kalian mending pulang dulu yah. Tante lihat kalian berdua sangat kecapean,“ ujar Ibunya Nadya.


Angga dan Pak Nathan memang sangat capek. Dari mereka lari sore tadi dan ditambah berlari, kemudiam dibuat panik oleh Nadya. Mereka juga masih menggunakan pakaian olahraga.


“Tapi nanti Nadya-nya gimana tante?” Tanya Angga khawatir.


“Kamu tenang saja yah Angga. Nanti tante sama om yang jagain, ini om juga mau tebus administrasi sama resep dokter. Kalian tenang saja yah. Kalau Nadya sudah siuman, tante bakal kabarin kalian kok,” jawab Ibunya Nadya.

__ADS_1


Pak Nathan dan Angga pun pulang, jujur mereka sudah sangat capek. Pak Nathan mengambil ponselnya dari saku celana dan menelpon supir untuk menjemput mereka, karena mereka tidak membawa mobil. Pak Nathan melihat guratan kekhawatiran yang mendalam diwajah adiknya. Ia juga terkejut setelah mendapat kabar kalau Nadya terkena hipotensi, ia hanya berharap kepada tuhan agar Nadya cepat sembuh dari penyakit tersebut.


10 menit lamanya menunggu akhirnya jemputan mereka datang, mereka langsung naik kedalam mobil dan mobil melaju menuju kerumah mereka.


__ADS_2