
Matahari masih malu-malu menunjukkan dirinya. Pagi ini Rara terbangun lebih awal di antara teman-temannya.
Semalam mereka mengeluh badan sakit karena dari pagi hingga sore terus bergerak. Sepertinya mereka semua akan bangun kesiangan.
Untungnya hari ini mereka di liburkan, jadi mereka bisa bermalas-malasan seharian. Rara sudah siap dengan baju lari paginya. Pagi ini ia memutuskan untuk lari pagi sendiri.
Rara mengecek perlengkapannya. “Air sudah siap, baterai handphone juga penuh. Headset? Eh di mana headset.” Bingung Rara mencari headset.
Ia membongkar ransel dan ternyata betul, headset masih tersimpan rapi dalam tas. Ia mengambilnya dan langsung pergi keluar dari gedung.
Rara terlebih dahulu melakukan pemanasan agar tidak keseleo saat lari pagi. Jefran yang juga kebetulan ingin lari pagi melihat Rara yang sibuk pemanasan di taman dekat gedung laki-laki. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Rara.
“Pagi Ra. Rajin banget pagi-pagi udah olahraga.” Sapa Jefran. Rara yang tadinya sibuk pemanasan langsung berbalik menghadap Jefran.
Rara menyilang kedua tangan di depan dada. “Bukannya rajin Jef, gue gabut aja jadi pengen lari pagi.” Jawab Rara.
“Sama dong. Gue juga gabut pengen lari pagi. Sepertinya kita berdua jodoh deh.” Goda Jefran.
“Dih, aneh-aneh aja Lo. Tapi kalau betulan jodoh gue setuju.” Jawab Rara sambil tertawa.
“Jadi gimana nih?. Mau tetap ngobrol di sini atau lari?.” Tanya Jefran.
“Lari lah. Masa udah rapi pakai baju lari malah ngobrol. Kan lawak jadinya. Yok Kita langsung lari. Gue yang pimpin.” Ajak Rara.
Tanpa membuang waktu Rara langsung berlari di ikuti Jefran dari belakang. Tak ada percakapan antara mereka. Takutnya jika mengobrol terus maka mereka akan lebih cepat kecapekan. 30 menit lamanya mereka berlari dan sampai ke tujuan.
Tujuan dari lari pagi Rara adalah ingin melihat kembali hamparan luas bunga Y di dataran tinggi. Ia dan Jefran pergi beristirahat di bawah pohon. Rara membuka botol air nya dan minum.
“Jef, Lo ga minum?.” Tanya Rara. Ia tidak melihat Jefran minum dari tadi. Apakah ia tidak kehausan?.
“Gue lupa bawa air.” Ujar Jefran menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Astaga Jef. Kenapa ga minta air gue coba.”
Rara langsung memberikan botol airnya kepada Jefran. Dengan cepat Jefran meminum air itu.
__ADS_1
“Makasih banyak yah Ra.” Jefran berterima kasih dan mengembalikan botol minum Rara.
“Jef, gue baru dikit loh minum airnya. Masa Lo habisin semuanya.” Rara memasang wajah cemberut.
“Tadi siapa yang kasih air? Elo kan, ya udah karena haus gue habisin.” Jelas Jefran tak mau dirinya salah.
“Tapi kan di habisin semua Jef.” Rara emosi.
“Ya Maaf. Kalau gitu kita pulang aja yok. Sudah mau jam sarapan pagi. Kalau terlambat takutnya ga kebagian.” Ujar Jefran mengalihkan topik. Rara yang merasa lapar pun menyetujui permintaan Jefran. Mereka berdua langsung kembali ke Desa X.
Baru juga sampai di sana, Jefran dan Rara di buat bingung. Teman-teman mereka berkumpul seperti sedang terjadi sesuatu. Dengan cepat mereka berdua berlari menghampiri kerumunan itu. Terlihat Wardana yang pingsan. Di situ juga ada Alfius dan teman baik mereka.
“War, bangun. Ini kenapa Wardana bisa pingsan. Jujur, siapa pelakunya.” Tanya Rara khawatir.
“Gue Ra, maaf yah. Jadi ceritanya gini...” Jawab Alfius
/Flashback on/
Pagi tadi setelah Jefran dan Rara pergi lari, Alfius berserta cowok lain pergi bermain basket. Ada Angga, Aditya, Satria, Nadial, dan Jorgas. Mereka berenam kemudian terbagi menjadi dua tim. Saat sedang seru bermain datang lah Wardana.
“Ayok War, pasti Lo bisa.” Teriak Feby yang menonton mereka. Di sana juga ada Catrin, Lidya, dan Beby yang ikut menonton. Mereka malas jika terus menerus di dalam kamar. Sekalian juga mereka mencuci mata di pagi hari. Wardana yang mendengar teriakkan itu makin semangat. Tanpa menunggu waktu lama, bola basket tersebut masuk ke dalam ring.
“Yes, Wardana hebat banget.” Puji Feby yang makin semangat. Ia terlihat paling heboh di antara teman-temannya. Untung saja Beby sedang tidak enak badan jadi dia banyak diam. Kalau tidak, pasti suara mereka berdua akan terdengar lebih besar dari ini.
Sepuluh menit berlalu dan tim nya Wardana unggul. Tim Wardana terdiri dari Satria, Aditya, dan Nadial. Ketiga cowok tersebut seperti akan kalah jika mereka tidak satu tim dengan Wardana.
Untung ada Wardana jadi mereka bisa berada di posisi aman. Kali ini, poin mereka seri. Permainan terakhir akan menentukan siapa yang keluar jadi juara. Bola sekarang di pegang oleh Alfius. Ancang-ancang telah di ambil dan bola di lempar.
Bruk...
Bola tersebut bukan masuk ke dalam ring malah mengenai kepala Wardana. Karena benturan yang begitu keras, Wardana pun pingsan.
/Flashback off/
Rara menggelengkan kepala heran. Mau menyalahkan Alfius pun bukannya salahnya Alfius. Ini semua hanya kecelakaan kecil yang tidak di sengaja.
__ADS_1
“Kalian semua sudah sarapan pagi belum?.” Tanya Rara.
“Belum sih. Memangnya kenapa Lo nanya gitu.” Jawab Alfius.
“Si Wardana kan semalam makan sedikit aja. Terus pagi dia ga sarapan langsung main basket. Nah, tuh bola basket kena juga di kepalanya. Sudah pasti lah dia pusing dan pingsan.” Jelas Rasa membuat kesimpulan.
“Pintar banget cewek gue.” Bangga Jefran. Ia mengelus kepala Rara pelan. Rara tersenyum malu.
“Woilah, jangan bucin juga pagi-pagi. Mending satu cewek antar gue ke kamar Wardana biar gue obatin dia. Terus yang lain coba ke kamar Guru siapa saja minta kotak P3K. Tolong cepat Yah.” Ujar Alfius. Ia kemudian langsung menggendong tubuh Wardana pergi ke kamar Wardana di antar Feby.
Angga dan Lidya bergegas ke kamarnya Pak Nathan meminta kotak P3K. Sisanya yang lain pergi ke dapur umum mengambil sarapan untuk mereka semua terutama Wardana. Reva yang tahu porsi makan Wardana sengaja mengambil tiga kotak sarapan.
“Rev, jangan banyak-banyak ngambil makanannya. Kasihan yang lain, takut ga kebagian.” Tegur Nadial melihat empat kotak sarapan di tangan Reva.
“Ini semua bukan buat gue juga Nad, punya gue cuma satu doang. Yang sisa tiga tuh punya nya Wardana. Lo tau kan bagaimana porsinya Wardana kalau makan.” Jelas Reva. Nadial langsung membenarkan apa yang di katakan Reva.
Betul juga yah kata dia. Mana tadi kata si Rara kalau Wardana makan sedikit semalam.
Berpindah dari mereka, terlihat Angga dan Lidya yang sedang menunggu di depan pintu kamar Pak Nathan. Mereka menunggu Pak Nathan membukakan pintu kamar.
“Woilah, ini anak orang lagi pingsan malah lama buka pintunya. Cepat dikit Napa.” Teriak Angga marah-marah Sambil terus mengetuk pintu kamar Pak Nathan keras.
Pak Nathan yang tertidur pulas langsung bangun. Mata yang awalnya masih berat untuk terbuka begitu cepat menjadi terang benderang mendengar suara teriakan sang adik, Angga Adhitama.
Dengan cepat Pak Nathan turun dari tempat tidur dan membukakan pintu. Angga yang melihat pintu terbuka dengan cepat masuk tanpa menghiraukan Pak Nathan yang berada di balik pintu.
Tanpa membuang waktu Angga langsung membuka semua laci di lemari. Ia mencari letak kotak P3K. Karena tidak menemukan letak kotak P3K, Angga berteriak kesal.
“Kak, kotak P3K di mana sih. Kasihan itu si Wardana udah pingsan dari tadi. Jangan bengong mulu, cepat bantu cariin.” Teriak Angga emosi.
Pak Nathan yang baru saja mengumpulkan nyawa malah di buat kalang kabut oleh sang adik. Ia dengan buru-buru membuat lemari pakaian miliknya dan mengambil kotak P3K. Pak Nathan langsung menyerahnya kepada Angga.
Angga dengan cepat mengambil kotak P3K kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Lidya yang juga panik pergi begitu saja meninggalkan Pak Nathan yang masih setengah sadar dengan baju tidur.
__ADS_1