
“Parfum sudah. Make-up pun sudah pas. Rambut sudah cantik. Tas sama perlengkapan juga sudah.”
“Wah cantik banget anak Bunda.” Puji Bunda Wardana.
“Selain pintar habisin makanan sama bela diri ternyata anak Bunda juga pintar make-up yah. Berjalan dari mana sih kamu War.” Lanjut Bunda.
“Ih Bunda mah suka gitu. Gini-gini juga Wardana perempuan dan otomatis harus bisa make-up.” Jawab Wardana.
Selesai Wardana berbicara ada suara ketukkan pintu. Dengan cepat Wardana pergi menghampiri pintu depan. Betul apa kata hati Wardana. Yang datang ialah Alfius, sang pujaan hati. Alfius dan Wardana sama-sama tidak berkedip melihatmu satu sama lain.
“Ya Tuhan kenapa Alfius malah ini selepas pangeran.” Batin Wardana.
“Bidadari dari mana lagi yang engkau titipan kepada hamba. Dia terlalu cantik untuk di miliki sesaat. Hamba ingin memiliki bidadari ini selamanya.” Batin Alfius.
Bunda dan Ayah Alfius yang melihat tingkah laku anaknya pun langsung menegur.
“Anak saya cantik kan Nak Alfius.” Tegur Ayah.
“Eh iya Om. Cantik pakai banget. Sudah kaya bidadari saja.” Jawab Alfius jujur. Kini Wardana terlihat senyum malu-malu.
“Panggil Ayah jangan Om. Kamu kan Ayah sudah anggap sebagai anggota keluarga.” Jelas Ayah.
“Siap Ayah.” Jawab Alfius dengan panggilan Ayah sesuai permintaan Ayah Wardana.
“Sudah ah ini tempatnya acaranya jauh jadi Wardana sama Alfius jalan dulu yah.” Pamit Wardana buru-buru.
“War, kan Alfius baru saja sampai masa di suruh langsung jalan. Istirahat dulu sebentar aja kenapa.” Tahan Bunda.
“Nggak ada lagi waktu Bun. Dana sama Alfius jalan dulu. Bye bye.” Pamit Wardana kemudian menarik Alfius keluar.
“Bunda sama Ayah Alfius pamit dulu yah. Maaf nggak istirahat soalnya si Wardana takut terlambat.” Pamit Alfius dalam keadaan di tarik paksa oleh Wardana.
Sesampainya di depan pagar Wardana melepaskan pegangannya.
“Kenapa di tarik begitu sayang. Aku kan masih mau ngobrol sama orangtua kamu.” Ucap Alfius.
“Aku takut aja kita terlambat. Hehehe.” Jawab Wardana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bilang aja sayang mau berdua aja kan sama aku.” Tebak Alfius.
__ADS_1
“Ih apaan sih. Suka nggak jelas deh kalau ngomong.” Balas Wardana sebal. Memang yang dikatakan Alfius betul, hanya karena ia malu untuk mengatakan iya.
“Jadi mau langsung jalan apa tetap di sini terus sambil main handphone?” Tanya Alfius kepada Wardana yang sibuk memainkan ponselnya.
“Aduh sayang maaf yah. Tadi aku masih kabari teman-teman kalau kita baru aja mau ke lokasi.” Jelas Wardana agar Alfius tak salah paham.
“Ih kok cewek aku makin pintar sih. Udah pintar, cantik pula kaya bidadari. Tadi saja aku kirain lihat bidadari eh ternyata pacar aku yang cantik ini.” Puji Alfeus mencubit gemas pipi Wardana.
“Hey jangan di pegang lama-lama. Nanti make-up nya bakal hilang. Aku make-up nya tadi lama loh.” Omel Wardana kemudian mengambil kaca kecil yang ada di tas miliknya. Ia melihat wajahnya apakah terjadi perubahan atau tidak.
“Mau nggak pakai make-up pun kamu tetap cantik jadi jangan khawatir sayang.” Ujar Alfius membuat Wardana senyum-senyum salah tingkah.
“Ayok cepat naik di belakang. Kamu nggak mau kan kita terlambat.” Lanjut Alfius.
Selesai berhasil naik di kursi penumpang motor milik Alfius, mereka berdua pun langsung tancap gas menuju tujuan.
***
“Mau kemana nih kok sudah cantik saja. Mandi parfum yah kamu? Kok harus banget.” Tanya Kiel ketika Rara baru saja ingin turun ke lantai bawah.
“Eh gue kirain lo masih di bengkel. Gimana? Mobilnya udah beres apas masih di bengkel?” Tanya balik Rara kepada Kiel tanpa mementingkan pertanyaan Kiel tadi.
“Orang nanya kok malah di balas gitu sih.” Omel Rara.
“Yah salah sendiri. Masa tadi gue nanya mau kemana eh malah nanya balik ke gue soal mobil. Ya sudah gue jawab ngasal deh.” Jawab Kiel dengan cepat.
“Ya sudah maaf. Ini gue mau ke acara ulang tahun temen gue. Alhamdulillah gue dapat izin dari Mama.” Jawab Rara.
“Terus perginya sama siapa? Sendiri apa sama pacar? Atau mau gue anterin aja.” Tanya Kiel berturut-turut.
“Aman deh. Gue bareng teman gue. Kata Mama lo di rumah aja biar besok bisa ke tempat kerja jangan kecapean. Kasihan tadi lo udah capek-capek dari bengkel terus masa gue ajak ke acara ulang tahun lagi.” Jelas Rara panjang lebar.
“Ternyata lo perhatian juga yah sama gue. Gue kirain lo bakal benci gue karena nggak jemput lo. Hahaha.” Ujar Kiel tertawa. Dalam tawanya merasa senang karena Rara mengkhawatirkan dirinya.
“Ini lo masih mau nanya apaan lagi? Gue udah mau terlambat loh ke acaranya.” Tanya Rara karena memang ia sedang buru-buru. Sebenarnya masih satu jam lagi acara itu di mulai, namun yang ingin dia lihat sekarang adalah Jefran. Dia sudah begitu rindu ingin melihat Jefran. Apalagi pasti Jefran terlihat ganteng memakai baju pesta.
“Oh betul Ra. Lo tunggu sebentar di sini gue mau ambil sesuatu buat lo.” Perintah Kiel dan Rara menunggunya di luar. Tak menunggu waktu lama Kiel keluar membawa kunci mobilnya Rara.
“Nih kunci mobil lo. Masa lo ke sana naik ojek online. Kan nggak mungkin banget.” Ujar Kiel seraya menyerahkan kunci mobil.
__ADS_1
Reflek Rara langsung memeluk Kiel karena bahagia. Kiel juga mengambil kesempatan itu untuk membalas pelukan Rara.
“Ih lo emang pengertian banget deh. Lo tau apa yang gue butuhkan sekarang. Makasih yah buat kunci mobilnya.” Ujar Rara kemudian berjalan menuruni tanggal. Namun langkahnya tertahan oleh tangan Kiel.
“Lo pakai hak tinggi dan nggak mungkin gue ninggalin lo turun ke bawah sendiri. Gue takut aja lo jatuh dan akhirnya ke rumah sakit pakai dress.” Ucap Kiel sambil menuntun Rara turun ke bawah.
“Eh ngomong-ngomong nih yah. Lo cantik banget malam ini. Gue jadi suka lihatnya.” Bisik Kiel pelan di telinga Rara.
Wajah Rara kini sudah seperti udang rebus saja. Ia salah tingkah di puji oleh Kiel.
“Nih orang gila yah. Suka banget gombalin anak orang. Mana nggak tanggung jawab pula.” Batin Rara.
“Untung lagi di tangga aja. Kalau nggak udah gue salto juga nih.” Lanjutnya.
“Wih, cantik banget anak Mama. Kiel juga ikutan yah sama Rara?” Tanya Rara saat mereka berdua sampai di lantai bawah.
“Nggak kok tante. Kiel cuma anterin Rara sampai ke sini. Dia kan pakai hak tinggi, takutnya jatuh terus nggak jadi ke tempat acara deh.” Jelas Kiel.
“Eh hadiahnya mana Ra? Masa ke sana nggak bawa hadiah buat yang ulang tahun.” Tanya Mama melihat tangan Rara yang kosong tanpa membawa apapun.
Rara memukul jidatnya. Ia adalah orang yang suka pelupa.
“Eh hadiahnya ada di dalam kamar Mah. Rara lupa ambil. Bentar Rara ke atas buat ambil hadiahnya.”
“Nggak usah jalan. Biar Kak Kiel aja yang ngambil buat kamu.”
Dengan cepat Kiel berlari ke atas menuju kamarnya Rara yang bersebelahan dengan kamar miliknya. Tak menunggu waktu lama akhirnya Kiel sudah kembali membawa sebuah paper bag kecil berisi hadiah.
“Nih hadiahnya. Masih ada yang lupa lagi? Biar gue sekalian ambil.” Tanya Kiel memastikan Rara yang suka pelupa itu.
“Nggak ada lagi kok. Makasih yah buat ini.” Jawab Rara berterima kasih sambil menunjuk paper bag yang ia pegang sekarang.
“Kalau gitu Rara berangkat dulu Mah, Kak Kiel.” Pamit Rara.
Kini Rara sudah berada di dalam mobil. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Jefran. Tak lama panggilan tersebut terjawab.
“Jef gue dalam perjalanan ke apart lo.”
“Hati-hati yah cantik. SampaI bertemu di apart.”
__ADS_1
Kemudian panggilan tersebut berakhir.