Timer Me

Timer Me
Bab. 34. Timer Me


__ADS_3

Hati yang sudah biasanya tersakit sulit sekali untuk kembali membaik. Terkadang melakukan sesuatu yang tidak masuk di akal seringkali terjadi.


Tidak banyak Orang yang mengerti akan keadaan ini.


Sangat sulit sekali untuk disembuhkan namun tetap berusaha agar cepat menghilangkan. Entap kapan rasa sakit itu akan memudar, yang pasti membutuhkan waktu yang tidak lama. 


Kebanyakan dari mereka sering pergi untuk healing. Namun tidak dengan diriku yang lebih memilih mengurung diri dan tetap setia bersama rasa sakit ini.


Cukup dengan 2 atau 3 cangkir kopi dapat membuat otaku kembali membaik. Bahkan jika sedang tersudut aku akan menghabiskan 5 cangkir kopi pahit. Rasa pahitnya sama persis dengan kehidupanku saat ini.


Aku sangat merindukan masa lalu bersama dia. Sekarang ini aku kembali ke Indonesia dan memilih sekolah yang tak lain adalah sekolahmu. Beruntung sekali aku bisa sekelas denganmu saat pindah sekolah.


Aku masih mengingat senyuman itu. Senyuman yang sangat manis mengalah malu. Sepertinya kalau gula dan madu melihatnya pasti mereka akan insecure karena kamu melebihi manisnya mereka.


 Saat melihat daftar nama, aku sempat diam sejenak. Aku terkejut ketika melihat sebuah nama yang sama persis dengan namamu. Aku mengira nama bukan dirimu, aku menguatkan diri agar tidak mengingat dirimu kembali. Saat masuk ke kelas, detak jantungku sudah tidak beraturan.


Aku kepikiran dengan nama yang sama dengan namamu, Cantika Reva Kim. Aku mulai melangkahkan kaki menuju kelas baruku bersama seorang guru yang menjabat sebagai wali kelas. Ia menunggu aku hingga masuk ke kelas itu. Aku disuruh untuk memperkenalkan diri kepada teman baru.


“Halo, semua perkenalkan nama Saya Nadial Ambertlein. Saya pindah dari Jerman ke Indonesia karena mengikuti Ayah yang ingin kembali ke sini. Saya mohon bantuan dari semuanya agar kita bisa berteman baik.” 


Setelah perkenalan mataku sempat melihat wanita yang sama persis dengan wanita yang memenuhi hari-hari ku di Jerman. Ia sempat tersenyum padaku, senyumannya tidak pernah berubah. Akan selalu terlihat manis walaupun tidak sudah berjuta-juta kali aku melihatnya.


Kenangan bersama membuatku tak akan melupakan dirinya. Walau aku membenci kehidupan di Jerman, tapi masih ada alasan untuk aku bertahan disana. Seorang wanita yang bernama Reva kim menjadi alasan aku tetap disana.


Setiap kali aku bersama dirinya, masalah tiba-tiba lenyap begitu saja. Aku menempuh beberapa tahun bersekolah disana bersama. Waktu sekolah adalah yang paling aku tunggu. Saat disekolah pasti aku hanya bermain dengannya. 


Bukan karena aku tidak mau bermain dengan yang lain, melainkan karena hanya Reva saja yang mengerti bahasaku.

__ADS_1


Walaupun sekolah di sekolah luar negeri, skil Bahasa Inggris ku masih di bawah rata-rata. Reva saja yang bisa aku ajak untuk bicara. Setiap hari aku lalui dengan semangat walaupun itu hanya disekolah saja.


Keadaan rumah saat di Jerman membuat diriku seperti dineraka saja. Karena aku tinggal sendiri bersama ayah membuat diriku merasa sangat tertekan.


Ibu lebih memilih tinggal di Indonesia karena harus mengelola cabang perusahaan ayah yang berpusat di Indonesia. Karena terlalu lama hidup berjauhan dengan Sang istri membuat Ayah stres.


Jika aku melakukan sebuah kesalahan maka bayaran adalah sebuah cambukan. Yah ini sudah menjadi kebiasaan rutin jika dia sedang berada dalam masalah.


Aku seorang diri selalu ingin menyenangkan hati ayahku. Tapi hal itu malah membuatnya makin marah. Kegemaran ku bermain basket bahkan membuat dirinya makin tidak suka terhadap.


Alasannya tak lain adalah ia tak menyukai aku lahir ke bumi. Ia mau kalau anaknya adalah perempuan tapi karena kehendak Tuhan berkata lain maka aku yang lahir ke bumi. Setelah melahirkan diriku, ibuku mengalami gangguan di Janinnya dan ia didiagnosis tidak bisa hamil lagi.


Dari sinilah awal mula ayahku mulai membenci diriku. Aku tau ini bukan salahku, tapi kenapa ia selalu menyalahkanku? Dimata banyak orang aku seperti anak emas bagi Ayahku. Banyak juga yang menginginkan kehidupan seperti diriku.


Memiliki seorang ayah yang kaya Raya dan menjadi anak tunggal. Mereka mengira hidupku akan seperti di film-film. Tapi ternyata itu hanya film bukan kehidupan nyata. 


Aku tidak pernah  mengira sumber semangat ku akan pergi meninggalkanku di Jerman sendiri bersama sang Psikopat yang tak lain adalah Ayahku sendiri. Setelah kepergian Reva hidupnya menjadi tidak berwarna. Aku sering sekali pergi ke bar-bar dekat lingkungan hanya untuk bermabuk mabukan.


Saat itu aku baru saja lulus dari sekolah menengah pertama dan akan melanjutkan sekolah menengah atas. Para penjaga bar tidak pernah bertanya akan umurku karena postur ku yang seperti seorang remaja.


Tiap malam Minggu aku selalu ke sana Minggu pagi pasti aku pulang dengan keadaan mabuk berat. Tidak ada jalan keluar lagi selain pergi mabuk.


Mau bercerita dengan siapa kalau aku suka sekali menyendiri. Ayah yang selalu sibuk dengan urusan kantornya sampai lupa kalau dia mempunyai seorang anak. Ia sering membawa wanita yang berbeda-beda setiap bulannya.


Tapi saat pulang ia tidak melihat wanita tersebut. Ia juga sering mencium bau darah yang sangat menyengat saat malam hari. Mau berpikir aneh-aneh tentang ayahnya tapi ia sangat mengenal ayahnya yang Takut akan darah.


Walaupun ayahnya bersikap seperti itu ia tetap sayang terhadap ayahnya. Beberapa bulan kemudian Ibunya Nadial mengalami kecelakaan dan Sang Ayah memutuskan untuk tinggal dan menetap di Indonesia.

__ADS_1


Semua keluarga besar yang mereka tinggal di Indonesia jadi mau tidak mau mereka harus kembali ke Indonesia. Mengetahui kabar bahwa ibunya meninggal membuat hati kecil Nadial sakit tak berdarah. 9 tahun lamanya ia tak pernah berjumpa dengan Ibunya, sekali mendapat kabarnya ibunya telah meninggal.


Ada rasa senang juga Karena ibu kembali ke Indonesia. Ia berdoa jika kembali ke Indonesia Semoga saja ia bisa berjumpa dengan wanita pujaannya, Reva Kim.


Sepertinya Tuhan kali ini berbaik hati kepada Nadial, Tuhan menjawab semua permohonan tiap malam dan kali ini ia bisa berjumpa Kembali dengan Reva. Senyuman yang sangat ia rindukan akhirnya kembali juga. Setelah perkenalan selesai wali kelas menyuruh Nadial untuk pergi duduk.


Reva yang juga merindukan Nadial pun pergi menghampiri Nadial. Ia langsung memeluk Nadial sebagai rasa rindunya kepada Nadial.


Nadial hanya diam sambil menikmati pelukan pertama yang pernah ia rasakan.


“ Nadial aku ga nyangka kamu bakal ke Indonesia.” Ujar Reva membuka percakapan.


Nadial masih tidak percaya dengan pemandangan didepannya. Ini seperti mimpi saja melihat Reva didepannya.


“ Aku ke sini karena kemauan ayah. Ibuku bulan lalu mengalami kecelakaan dan ayah memutuskan untuk tinggal menetap di Indonesia” jelas Nadial.


“Turut berdukacita yah Nad, Pasti kamu terpukul banget yah. Maaf yah aku ga pergi melayat. Ini aja aku baru tau beritanya. Kamu yang sabar yah , aku pasti selalu ada  kamu Nad” ujar Reva sebagai penguat agar aku bisa kembali ceria. Ia merangkul bahuku dan menepuknya pelan agar aku tetap kuat.


Hari terus belajar dan diriku makin membaik. Kebiasaanku yang sering mabuk akhirnya aku lepaskan karena wanita penyembuh hatiku telah kembali. Aku mengira bahwa ini saat yang tepat agar aku bisa mengungkapkan perasaan kepadanya.


Aku akan menggunakan waktu berkunjung ke Desa X untuk menyatakannya. Tapi sepertinya waktu ini kurang tepat.


Aku melihat jelas bahwa Reva malah sedang dekat dengan seorang lelaki yang tidak aku kenal. Ia sepertinya bahagia Ketika berbincang dengan lelaki itu. Sebelum kegiatan ke dataran tinggi mencari bunga Y aku berdoa agar bisa sekelompok dengan Reva tapi tetap saja takdir berkata lain.


Reva malah mendapat kelompok dengan lelaki yang sama dengan Yang awal aku lihat. Ingin sekali aku marah tapi aku bukan siapa-siapa dia. Aku mendapat kelompok bersama seorang wanita bernama Catrin. Ia seorang wanita pendiam didalam kelas. Ia adalah anak dari rekan kerja Ayahku.


Saat perjalanan tidak ada pembicaraan yang terjadi hingga tiba-tiba Catrin pingsan tidak tau apa penyebabnya. Aku panik dan membawanya ke sebuah pondok dekat situ.

__ADS_1


Wajahnya sangat pucat dan badannya terasa begitu dingin. Aku sebagai teman sekelompoknya merasa sangat panik. Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan setelah ini.


__ADS_2