Timer Me

Timer Me
Bab. 45. Timer Me


__ADS_3

Menaruh hati begitu lama dengan seseorang tanpa berani mengatakannya memang  begitu candu bagi Catrin. Sebelas tahun lamanya ia terus menyimpan rasa suka kepada Nadial namun hanya di pendam saja.


Berselang nya waktu berjalan, rasa itu bukannya berkurang malah semakin bertambah. Tanpa disadari, tiba-tiba ada seorang asing yang begitu saja masuk ke dalam hidupnya. Pertemuan pertama yang begitu singkat dengan Satria membuat hati Catrin tersentuh.


Hari ini, tepat di bawah pohon ia resmi menjadi pacarnya Satria. Hati kecilnya begitu mendukung untuk menerima Satria. Rasa sebelas tahun yang ia simpan untuk Nadial hilang begitu saja. Sepertinya Satria orang yang betul untuk dirinya saat ini. 


*****


Permainan kedua belum selesai ceritanya. Permainan tersebut masih berlanjut ke dua pasangan yang always bucin tiap detik walaupun baru menjalin hubungan spesial. Siapa lagi kalau bukan Lidya dan Angga. Papan kata mereka di pegang oleh Jorgas.


Jorgas tadi menyerahkan dirinya dengan suka rela memegang papan kata mereka. Kedua manusia bucin tersebut sudah siap dengan earphone di telinga. Lidya bertugas memberikan clue sedangkan Angga akan menebak kata. Kata kali ini adalah nasi. 


“Makanan pokok kita Woody.” Teriak Lidya memberikan clue. Karena sedikit jauh Lidya tidak dapat melihat jelas Angga. Kalau jam olahraga Lidya terbiasa membuka kacamata nya. Terlihat Angga sedang asing berjoget sambil sesekali menyanyi. Lidya yang tidak mendengar respon Angga langsung menghampiri. 


“La la la Yes or Yes.” Angga bernyanyi sambil menirukan goyangan dari lagu tersebut. Lagu tersebut milik sebuah girl group asal korea Selatan bernama Twice dengan judul yes or yes. Angga sibuk sekali hingga tak menyadari Lidya sedang merekam dirinya yang asik bergoyang.  Angga pun tersadar dan langsung malu. 


“Lily, hapus videonya Woody yah. Woody malu.” Bujuk Angga. Ia terus mengutuk dirinya yang begitu bodoh. Kenapa dia harus kelepasan untuk dance di tempat itu. Nasi sudah menjadi bubur. Kini yang ia harapan sekarang adalah Lidya menghapus  videonya.


“Lily simpan yah Woody. Lily janji ga bakal kirim siapapun. Janji.” Jawab Lidya agar Angga tidak memarahi dirinya.


“Ya sudah. Simpan yah, berani Lily kirim ke orang lain. Woody ga bakal lepasin Lily. Woody bakal hukum Lily.” Ancam Angga dengan wajah serius. 


“Udahan ribut masalah rumah tangganya?. Tangan gue udah pegel banget dari tadi bawa nih papan.” Omel Jorgas yang sudah capek melihat keributan dua orang itu.


Karena kasihan melihat Jorgas, Lidya dan Angga langsung siap-siap dan memulai permainan mereka.


Kata demi kata di jawab dengan baik oleh Angga. Itu berkat lagu Korea yang terus bersenandung di telinga nya sehingga ada sebuah kekuatan gaib yang membantu dia menjawab semua kata dengan benar. 

__ADS_1


Permainan kedua pun telah berakhir. Pak guru mengumpulkan semua data dari setiap murid yang bertugas mengawasi kelompok. 


“Baik anak-anak. Setelah melihat semua hasil pertandingan game kedua ini yang keluar sebagai peringatan pertama atas nama Alfius dan Jefran. Pemenang kedua atas nama Lidya dan Angga. Serta yang ketiga atas nama Rara dan Wardana.” Jelas Pak Guru. Alfius dan Jefran sontak kaget dan berpelukan. Saking senangnya mereka tidak sadar berpelukan. 


“Woi Jefran, pacar orang kenapa Lo peluk segala.” Teriak Feby sambil tertawa. Jefran dan Alfius kaget dan langsung melepaskan pelukan mereka.


Wajah mereka langsung berubah dari senang menjadi seperti orang bingung. Melihat Kejadian tersebut semua orang yang di lapangan termasuk Pak Guru ikutan tertawa.


“Perhatian Semua. Karena pemain kedua telah berakhir, maka Pak putuskan untuk beristirahat dulu. Sudah jam setengah sebelas dan matahari sudah begitu panas. Kalian bisa beristirahat dan makan siang.


Jam empat sore kita baru kita adakan game ke tiga, menangkap ikan di sungai. Di seberang dekat taman ada sungai kecil. Kita semua akan menangkap ikan di Sana. Terima kasih dan selamat beristirahat.”  


Setelah selesai berdoa menurut kegiatan mereka pagi itu, semua murid langsung berlari ke gedung-gedung masing-masing. 


“Sepertinya wajah gue bakal keriput deh. Kena sinar matahari berjam-jam bikin wajah sama badan gue belang-belang. Mana tadi panas banget” Omel Beby terus menerus di perjalanan pulang. Ia terus mengibaskan tangan tanda kepanasan.


“Wedeh, tangan Lo laki benar War. Muka aja yang cantik kaya anak bayi. Eh malah badan kaya binaraga.” Ucap Beby memuji.


Ke enam wanita tersebut masuk ke kamar dan langsung merebahkan diri. Badan mereka serasa mau remuk saja kecuali Wardana yang sudah terbiasa.


Dua bulan lamanya mereka tidak olahraga dikarenakan Guru olahraga mereka mengambil cuti pulang kampung karena ada urusan. Hari ini mereka kembali berolahraga dan dengan waktu yang berjam-jam. 


“Kalian ga mandi apa? Keringat kalian tuh banyak banget. Nih sampai basah kan baju kalian.” Tanya Wardana yang baru selesai mandi. Sunyi tanpa ada jawaban dari teman-teman nya.


Ternyata oh ternyata kelima temannya sudah tertidur pulas. Dari wajah mereka saja sudah tergambar kalau mereka itu sangat Capek. Wardana pun tidak mau mengganggu mereka. Ia lebih memilih berbaring di kasur Sambil memainkan Handphone.


Hal itu juga ia lakukan Sambil menunggu kapan waktu makan siang tiba. Ia sudah tidak sabar ingin makan. Cacing dalam perut nya sudah berteriak meminta asupan nasi.

__ADS_1


Suasana kian berbeda dengan kamar milik laki-laki. Kamar tersebut sangat ribut dengan suara tawa. Alasan mereka tertawa ialah cerita Jorgas tentang kejadian saat Angga menari. 


“Kalau gue jadi Lo bakal malu banget sih. Mau taruh di mana muka gue. Rasanya kek Pengen pindah planet aja.” Ejek Satria. Satu kamar pecah Ketawa.


“Cape gue di sini terus. Bye gue mau keluar.” Angga mulai merajuk. Ia malas sekali berada di kamar itu. Masuk ke kamar itu sama saja ia mempermalukan diri sendiri. Ia berdiri dari duduk dan keluar dari kamar entah ke mana.


Teman-teman sekamarnya tidak panik melainkan tertawa makin kencang. Perubahan sikap Angga yang seperti wanita ternyata imut juga.


Aditya, Jefran, dan Alfius yang sedari tadi Ketawa seperti nya akan ikut gila dengan Satria dan Jorgas. Mereka terus ketawa membayangkan bagaimana wajah dan eskpresi Angga saat kaget melihat Lidya memotret Angga.


“Cukup deh. Gue udah ga sanggup Ketawa. Gue takut gila kalau ketawa terus. Mending kita ke dapur umum aja. Sudah jam makan siang juga jadi bisa sekalian kita makan siang aja terus tidur.” Ajak Satria.


Semua cowok di dalam kamar itu keluar dengan masih menggunakan pakaian seragam mereka. Mereka sudah malah bergerak untuk menukarnya dengan baju santai.


Sesampainya di dapur, mereka melihat Wardana yang sedang sibuk makan. Terlihat dari piring yang ada di meja Wardana, ia sudah menghabiskan 2 kotak nasi. Sekarang ia sedang memakan kotak ketiga.


“War, Feby sama yang lain di mana?. Biasa kan kalau jalan kalian mesti bareng-bareng.” Tanya Jorgas. 


“Karena capek olahraga tadi Mereka ketiduran. Mau gue bangunin Cuma ga tega sama muka mereka yang kelihatannya capek banget. Ya sudah gue dahulu aja ke sini. Udah lapar banget soalnya.” Jelas Wardana jujur.


“Ya sudah kalau begitu, makasih yah Infonya. Gue sama yang lain ke sana dulu mau ngambil makanan.” Pamit Jorgas sopan.


Ada Alfius juga di sana. Ia tidak mengajak bicara Wardana, ia hanya menganggap tangan dan melambaikan nya ke arah Wardana tanda Sampai jumpa. 


Setelah mengambil kotak makan, Alfius memutuskan duduk makan bersama Wardana yang Sibuk dengan kotak makan ketiganya. Mereka duduk tanpa bicara karena sedang makan.


Teman-teman cowok yang lain memutuskan untuk makan dekat kolam di taman. Udara yang sejuk dan pemandangan yang begitu cantik membuat acara makan mereka makin special walaupun tak di dampingi kekasih.

__ADS_1


__ADS_2