Timer Me

Timer Me
Bab. 39. Timer Me


__ADS_3

Masa lalu sudah semestinya dikenang dalam-dalam. Yang dipikirkan sekarang ialah masa depan. Tidak ada masalahnya jika kita masih menyimpan kenangan masa lalu. Tapi harus dipikirkan bahwa kehidupan kita maju ke depan bukan mundur ke belakang. Dimulai dari diri sendiri kita  berusaha agar menciptakan sebuah masa depan yang lebih baik.


Angga senang bisa mengenal kembali cinta bersama Lidya. Waktu Yang singkat mampu membuat Angga menaruh hati kepada Lidya. Memang belum sepenuhnya menaruh rasa kepada Lidya karena sebagian hatinya masih untuk Nadya.


“Woi Angga, masa baru lari segitu doang udah berhenti.” Teriak Lidya yang melihat Angga sudah beristirahat.


“Bukan gitu, ini tugas gimana mau selesai kalau Lo sama gue main kejar kejaran terus. Yang ada sampai besok pun ga tau selesai nih tugas.” Jawab Angga. Betul juga apa yang dikatakan Angga. Lidya akhirnya pasrah dan berjalan menuju Angga. Mau menolak pun tidak bisa karena tujuan utama mereka ialah belajar bukan bermain.


Sekarang semua kelompok sedang sibuk meneliti bunga Y. Mereka mengambil beberapa bunga Y dan mulai melihat secara detail bentuk bunga Y. Sehabis meneliti semua murid disuruh berkumpul di bawah pohon. 


“Baik anak-anak karena waktu sudah selesai jadi kita  akhiri tugas hari ini. Tolong semua berbaris rapi untuk mengambil makan siang. Sebenarnya makan siang akan dilaksanakan saat sudah sampai ke Desa X , tapi setelah melihat keadaan sekarang tidak memungkinkan jadi Pak selaku panitia menyuruh orang dari Desa X untuk mengantarkan makan siang. Terima kasih.” Ujar Pak Nathan kemudian mengatur semua murid untuk mengambil jatah makan siang. 


Semua orang disana sangat menikmati makan siang mereka. Sudah dipastikan kalau Wardana mengambil 2 kotak makan. Ini sudah jadi kebiasaannya sekarang di Desa X. Sebenarnya makanan yang diberikan itu mempunyai porsi yang banyak, tapi tidak tahu kenapa dengan perutnya Wardana. 


“War, pelan-pelan lah makannya. Kita ga bakal ambil bagian mu kok War.” Ucap Rara yang ngeri melihat cara makan Wardana. Masa belum ditelan sudah masuk satu sendok lagi.


Rara memang sudah terbiasa dengan tingkat laku Wardana tapi tetap saja ia tidak bisa berhenti melarang Wardana makan seperti itu.


Reva, Lidya, Beby, dan hanya tertawa melihat kelakuan kedua gadis tersebut. Karena sudah kesal dengan Wardana, Rara pun bangun dan pergi tidak tau kemana.


“Eh itu si Rara mau kemana. Makanannya belum habis juga masa iya tinggalin begitu saja.” Ujar Beby heran.


“Pasti si Rara lagi ambil minum. Tuh lihat airnya aja udah habis 2 gelas.” Jawab Reva menerka. Tapi betul juga sih, airnya Rara tidak ada. Mereka akhirnya melanjutkan makan siang.


Tak lama kemudian Rara datang bersama beberapa cowok disampingnya. Cowok tersebut tak lain adalah orang yang dekat dengan mereka. Sontak Wardana yang tadi  makannya ga beraturan langsung berubah jadi ayu. Rara langsung tertawa melihat tingkah laku Wardana.


“Nah kan gitu bagus War. Untung otak gue pintar juga jadi gue bawa si Alfius ke sini.” Ujar Rara sambil memegang tangan Alfius. Ia seperti menyeret Alfius dari jauh. Terlihat dari wajah Alfius yang bingung.


“Terus cowok yang di belakang Alfius gimana? Masa iya Lo bawa buat si Wardana juga.” Ujar Feby sambil menunjuk ke belakang Rara. Rara tidak sadar ternyata teman-temannya Alfius juga ikut. Tidak disangka pula Jefran juga ikut.


Raut wajah Jefran seperti tidak suka melihat tangan Rara yang terus memegang tangan Alfius. Karena ketakutan Rara langsung melepaskannya.

__ADS_1


“Jadi gimana? Lo nyuruh gue buat berdiri aja di sini?.” Tanya Alfius yang sudah Cape berdiri dari tadi.


“Eh itu apaan tadi sampai lupa kalau ada Lo. Nih tolong temani si Wardana makan. Masa makan ga pakai kunyah langsung telan aja. Ajarin dia deh, gue udah Cape banget sama dia. Cuma Lo seorang yang bisa buat si Wardana menurut. Selamat berjuang yah bro, gue yakin lo bisa.” Jelas Rara kemudian meninggalkan Alfius mengurus Wardana.


Sekarang tidak tahu lagi si Rara pergi ke mana. Jefran yang melihat Rara berlalu pun mengejarnya. Cowok yang lain mulai menghampiri pacar mereka masing-masing.


Satria yang ikut hanya duduk termenung sambil berubah menjadi nyamuk kalangan orang yang pacaran. Sudahlah nasib dia menjadi seorang jomblo. Mau mencari pacar juga dia malas jadi ya sudahlah mending jomblo.


Sama seperti Satria, Catrin juga duduk termenung setelah makan siang tadi. Ia duduk di bawah pohon sambil termenung mengingat perjalanannya tadi bersama Nadial.  Waktu yang bisa dikatakan paling lama buat dirinya bersama Nadial bertemu.


Walaupun sering bertemu di Jerman, mereka berdua paling lama menghabiskan waktu selama 1 jam. Bibir Catrin terangkat sedikit menggambarkan sebuah senyuman tipis. 


Satria yang tidak tahu mau berbuat apa kemudian pergi meninggalkan teman-temannya. Ia berjalan santai sambil melihat pemandangan hamparan bunga Y yang begitu cantik.


Pandangannya terpaku setelah melihat Catrin yang duduk sendiri di bawah pohon. Dengan keberanian penuh ia menghampiri Catrin.


“Permisi. Boleh ga gue duduk di sini.” Sapa Satria meminta izin kepada Catrin.


Catrin yang sedari tadi melamun langsung kaget dan berbalik ke Satria namun belum menjawab sapaan dari Satria.


“Hai, boleh ga gue duduk di sini. Kalau ga bisa juga ga apa lah biar gue nyari tempat lain.” Lanjut Satria sambil melambaikan tangannya ke depan wajah Catrin. Ia ingin memastikan apakah Catrin sadar atau tidak. Takutnya saja ia kerasukan. 


“Aduh maaf menunggu. Boleh kok Lo duduk di sini.” Jawab Catrin sambil memperbaiki duduknya. Satria langsung duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Catrin.


“Ga kenapa-kenapa kan kalau gue kaya gini? Ga ada yang marah kan. Atau pacar mu marah?.” Tanya Satria memastikan. 


“Ga ada yang marah kok, aman saja. Senderan aja kaya gitu kalau Lo ngerasa nyaman.” Jawab Catrin santai. Mumpung kan ada cogan jadi sekalian lah ambil kesempatan. 


“Lah gue juga jomblo berarti bisa lah kita berdua.” Canda Satria sambil tertawa.


“Hahaha , Lo bisa aja kalau bercanda.” Jawab Catrin juga ikut tertawa. Baru kali ini ia bisa akrab dengan seorang cowok secepat ini.

__ADS_1


Biasanya dia akan risih jika berada dekat Cowok atau cowok mengajak berkenalan. Tapi saat dengan Satria seperti sudah ada ikatan sendiri membuatnya jadi nyaman.


“Bentar deh gue sampai lupa. Kenalin nama gue Satria, kakak kelas Lo yang ikutan ke Desa X.” Ujar Satria mengenalkan diri.


“Waduh ternyata Kakak kelas toh. Kenalin nama gue Catrin dari kelas sebelah IPA 3.” Jawab Catrin membalas Satria.


“Panggil gue Satria aja yah jangan ditambah kakak. Kalau boleh dipanggil sayang.” Canda Satria lagi. 


“Boleh tuh gue panggil sayang. Satria sayang.” Jawab Catrin meladeni ucapan Satria. 


“Lah lah lah malah dijawab. Tanggung jawab gue udah baper nih.” Jawab Satria sambil tertawa. Tanpa disadari mereka berdua seperti sudah saling mengenal lama.


Pertemuan yang tidak diduga itu ternyata membuat mereka dekat dalam waktu singkat.


Satria masih tetap dengan posisi awal. Ia masih menyandarkan kepalanya di bahu Catrin.


“Cat, ngomong-ngomong nih yah kok gue ga pernah lihat Lo di sekolah? Padahal biasanya gue suka banget lewat depan kelas Lo.” Tanya Satria.


“Gue selalu dalam kelas dan ga pernah keluar. Gue kan bawa bekal jadi ga jajan di kantin. Terus gue juga ga suka keramaian jadi gue tetap dalam kelas. Keramaian tuh bikin pusing tau ga sih.” Jelas Catrin. Faktanya memang betul kalau Catrin tidak suka keramaian.


Keadaan yang sunyi senyap tanpa gangguan dari orang lain membuat dirinya lebih nyaman.


“Pantas aja gue nyari pacar ga ketemu-ketemu. Ternyata pacarnya suka di dalam kelas.” Ujar Satria kemudian bangun dan mencubit gemas pipi Catrin. 


“Ih apaan sih setan. Mau gue tinjau ha.” Ujar Catrin sedikit kesal. Masa lagi duduk tenang-tenang malah di cubit.


“Habisnya kamu cantik sih.” Jawab Satria jujur. Seketika wajah Catrin langsung memerah. Baru kali ini ada cowok yang mengatakan kalau dirinya cantik.


“Cukup Sat, jangan puji gue macam begitu. Gue  jadi malu kan.”  Kata Catrin sambil menutup wajahnya. Satria tidak habis akal membuat Catrin malu-malu.


Ada saja yang dibuatnya hingga Catrin terus tersenyum. Tanpa disadari ada sepasang mata yang melihat kedekatan mereka berdua.

__ADS_1


Orang itu adalah Nadial. Ia tak suka melihat kedekatan Catrin dengan cowok lain. Walaupun hatinya menyukai Reva tapi saat melihat Catrin bercanda dengan orang lain membuat dada Nadial panas.


Masih jadi misteri dengan perasaan Nadial. Ia harus memilih antara Reva sang cinta pertama atau Catrin sang malaikat kecil yang selalu ada buat Nadial ketika tersiksa.


__ADS_2