
Kiel yang baru selesai bersiap-siap, turun ke bawah untuk sarapan. Ia menghampiri meja makan yang telah tersedia roti dan susu sebagai menu pagi ini. Kiel melihat sekelilingnya namun tak menemukan sosok yang ia cari.
“Kamu cari Rara yah. Sebentar lagi dia bakal balik ke rumah.” Ujar Mama nya Rara.
“Memang nya dia ke mana Mah.” Jawab Kiel. Jika dia berbincang dengan Mama nya Rara seorang diri maka ia akan memanggil dengan panggilan Mama bukan Tante. Panggilan itu sudah biasa untuk Kiel.
Mama nya Rara berjalan menuju kursi dan duduk berhadapan dengan Kiel.
“Katanya keluar ga tau ke mana. Mama langsung suruh dia pulang deh. Masa dia pergi dari rumah ga pamit langsung sama Mama. Ya sudah, Mama telepon dia buat pulang ke rumah. Mama juga tadi bohong sama dia kalau Mama ga bakal izinin dia ke sekolah selama seminggu.” Ujar Mama nya Rara sambil menaruh selai cokelat ke roti.
“Mah, Kiel minta jangan pakai ancaman macam begitu lah. Kasihan nanti sama Rara. Seminggu lagi dia bakal ujian semester tiga. Pasti tuh minggu ini bakal banyak tugas yang harus di selesaikan. Masa Mama tega sama Rara. Kiel mohon banget sama Mama, sebentar Rara sampai ke sini Mama harus jujur sama dia. Nanti biar Kiel yang antar sama jemput Rara. Mama jangan khawatir, Kiel bakal jaga Rara di sekolah kalau punya waktu kosong. Kiel ga bercanda Mah.” Kiel memohon. Ia sengaja berbicara panjang lebar agar Mama nya Rara berubah pikiran.
Mamanya Rara tertawa. “Kiel, dengarkan Mama. Mama Cuma bercanda saja soal semua ini. Kamu kenal sama sikap Mama kan. Mama hanya mau mencobai kamu saja. Ternyata kamu begitu perhatian sama Rara. Mama jadi iri deh sama Rara. Punya calon suami yang begitu perhatian.” Goda Mama nya Rara sambil tersenyum.
Tiba-tiba pintu depan terbuka dan muncullah Rara. Wajah Rara terlihat begitu ketakutan. Ia sangat takut dan gelisah. Saat perjalanan tadi, Rara sudah berusaha menetralkan perasaannya namun tak kunjung normal kembali. Ia terus kepikiran dengan perkataan sang Mama. Baru kali ini ia mendapatkan ancaman dari Mama. Padahal selama hidupnya, ia selalu mendapatkan kasih sayang dan tak pernah mendapatkan ancaman ataupun bentakan dari Mama. Dengan ketakutan, ia berjalan mendekati Mama yang berada di meja makan. Wajah Rara kini makin terlihat gelisah karena keberadaan Kiel.
“Ra, jujur sama Mama. Kamu jalan sepagi itu ke mana.” Tanya Mama secara tiba-tiba. Posisi Rara sekarang berdiri di ujung meja makan. Ia tak berani untuk duduk.
“Rara tadi ke rumah teman antar kue ulang tahun.” Jawab Rara gugup. Tangan nya dari tadi tidak bisa dia memainkan ujung seragam nya.
“Cewek apa cowok.”
“Cowok Mah.”
“Pacar kamu?”
“Hanya teman seangkatan.”
“Kalau boleh tau namanya siapa Ra. Nama panjangnya sekalian saja.” Tanya Mama nya Penasaran.
__ADS_1
“Jefran Emerald Delonix.” Jawab Rara cepat.
Seketika Mama nya Rara sulit bernapas mendengar nama itu. Nama yang tak asing lagi bagi dirinya.
“Ya sudah. Mama tidak perlu lagi bertanya kepada kamu Ra. Untuk yang tadi di telepon Mama hanya bercanda. Sekarang kamu kembali pergi ke sekolah. Biar Kiel yang antar kamu. Sebentar juga Kiel yang bakal jemput kamu. Mama pergi ke kamar dulu, Mama cape mau tidur.” Pamit Mama nya Rara kemudian berlalu begitu saja.
Rara masih memasang wajah bingung melihat perubahan dramatis dari sang Mama. Ia bingung kenapa mimik wajahnya Mama langsung berubah ketika mendengar nama Jefran. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mama tentang Jefran. Rara terus melamun hingga tiba-tiba Kiel mengagetkan dirinya.
“Jadi ke sekolah ga? Saya sudah hampir terlambat ke kantor.” Kiel mengagetkan Rara.
“Oh maaf. Ini kunci mobilnya.” Rara menyerahkan kunci mobil kepada Kiel.
“Ayok jalan jangan bengong di situ terus nanti kesambet.” Teriak Kiel yang sudah berada di ambang pintu masuk. Rara pun berlari menyusul Kiel.
Sesampai di sekolah Rara langsung duduk dan berdiam diri. Ia masih kepikiran dengan sikap Mama yang berubah begitu cepat. Belum lagi saat ia menyebutkan nama Jefran. Dirinya kini makin stres karena lupa mengerjakan tugas matematika. Pelajaran matematika juga di mulai pada jam pertama. Habislah riwayatnya.
Jam pertama pun di mulai dan tak lama Guru matematika masuk ke kelas. Selesai memberikan hormat, semua siswa di minta untuk mengumpulkan tugas.
“Ra, ayok kita kumpulin ke depan. Masa Lo belum kerja sih. Kan gue udah kirim jawabannya.” Ajak Rara. Rara hanya menggaruk kepalanya.
“Kalian dahulu deh. Gue masih nyari buku di dalam tas.” Balas Rara.
“Baiklah. Kalau gitu gue dan Wardana dahulu yah.” Pamit Rara kemudian jalan meninggal Rara menuju meja guru. Kini semua siswa telah mengumpulkan tugas nya dan sang Guru sedang sibuk menghitung jumlah buku yang dikumpulkan.
“Jumlahnya hanya 35, kurang satu siswa. Tolong satu orang yang tidak mengerjakan bangun dari tempat duduk dan segera keluar kelas.” Perintah sang Guru. Dengan segera Rara bangun dari tempat duduk dan menuju ke depan. Semua murid terkuat begitu kaget melihat Rara bangun dari duduknya karena tidak mengerjakan tugas terutama Reva dan Wardana. Rara di kenal sebagai anak paling rajin dan pintar di kelas itu. Guru pun ikut heran melihat Rara yang bangun.
“Maaf Pak, tugas saya lupa di rumah karena tadi buru-buru ke sekolah.” Ujar Rara ketika sudah sampai di depan, di meja Guru.
“Kalau begitu besok saja baru kamu bawa ke ruangan saya. Tapi maaf hari ini kamu belum bisa mengikuti pelajaran matematika. Sesuai suruhan Pak tadi, tolong keluar dari kelas. Jika ingin bertanya tentang pelajaran hari ini, besok akan Pak ajarkan saat kamu menyerah tugas mu. Terima kasih.” Ujar sang Guru kemudian Rara pergi.
__ADS_1
Wajah Rara tidak terlihat sedih karena memang ini yang dia mau. Jujur dari dalam hati, Rara hari ini merasa malas untuk belajar matematika. Rara berjalan sendiri melewati kelas-kelas yang sedang sibuk belajar. Sepertinya ia seorang diri yang mendapat hukuman keluar dari dalam kelas. Kini Rara memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan. Kue ulang tahun yang tadi pagi ia makan ternyata tidak dapat bertahan lama untuk mengisi perut. Buktinya saja perut Rara merasakan lapar.
“Buk, bakmi ayam satu sama es teh. Ingat yah Buk, es teh nya jangan kebanyakan gula. Dikit aja udah cukup kok.” Pesan Rara kepada Ibu kantin.
“Siap neng Rara. Ibu sudah tau kok menu andalannya neng Rara jadi jangan khawatir.” Jawab Ibu kantin kemudian berlalu ke belakang membuat pesanan Rara.
Rara berjalan menuju meja yang berada di ujung sudut kantin. Meja tersebut merupakan meja andalan setiap kali Rara pergi ke kantin. Tak lama pesanan Rara datang.
“Makasih Buk.”
“Sama-sama neng.”
Saat sedang asik nya makan, Rara terkejut melihat kedekatan Kiel.
“Nih orang kenapa datang coba. Mau sembunyi juga gue sudah ketahuan. Nasib oh nasib.” Pasrah Rara. Kiel kini berjalan makin mendekat dan akhirnya sampai ke meja Rara.
“Ra, kenapa di kantin? Memangnya jam pertama tidak ada kelas?” Tanya Kiel.
“Ada kelas kok. Tadi aku minta izin ke Guru buat sarapan karena tadi di rumah lupa sarapan. Terus si guru izinin deh. Kata si Guru takut aku nya pingsan di kelas. Hehehe.” Bohong Rara.
“Aku kira kamu ga kerja tugas terus di usir sama Guru. Tapi ga mungkin sih, kata Tante kamu rajin banget kerja tugas.” Ujar Kiel menatap Rara.
“Nah betul banget kata Mama.” Jawab Rara memasang senyum terpaksa. Ia harus terlihat senang agar Kiel tak mencurigainya. Namun bukan Kiel namanya, ia sudah tau kalau Rara tidak mengerjakan tugas. Ia hanya mencoba apakah Rara akan jujur atau tidak, dan ternyata hasilnya Rara malah berbohong.
“Jadi kamu datang ke sini mau ngapain?” Tanya Rara mengalihkan pembicaraan.
“Oh itu, tadi di kantor ga ada kerjaan jadi saya putuskan untuk menjaga kamu di sekolah sampai pulang. Tenang saja, saya akan menunggu di ruang Pak Nathan. Saya ingin berbincang lebih banyak dengan Pak Nathan. Mumpung saya masih punya waktu lama di Indonesia.” Jelas Kiel.
“Oh baiklah. Kalau gitu kamu mau makan ga. Biar Rara pesankan mie ayam buat kamu.” Tawar Rara.
__ADS_1
“Boleh juga. Kalau bisa sama es teh kaya punya kamu yah Ra. Yang gula nya sedikit.” Jawab Kiel tersenyum.
Rara memasang wajah tak percaya. Rara di buat makin heran dengan semua perkataan yang keluar dari mulut Kiel. Kenapa pagi ini semua yang keluar dari mulutnya itu tepat. Mulai dari tidak mengejar tugas sampai es teh dengan sedikit gula. Dalam otak Rara Kini menetapkan bahwa Kiel seorang peramal.