
“Lid ayok kita kesana!” Ajak Angga.
Angga pun berjalan dahulu meninggalkan Lidya dibelakang, karena langkah Angga yang begitu besar, Lidya susah sekali menyamakan langkah kaki tersebut.
Tiba-tiba handphone Angga berbunyi tanda ada pesan masuk. Angga pun langsung berhenti tiba-tiba dan Lidya menabraknya dari belakang dan..
“Aduh!” Ringis gadis itu.
-Kak Nathan-
'Kamu harus perlakukan Lidya seperti pacar kamu, ingat dia anak Presiden, kamu gak boleh ninggalin dia sendiri. Paham?'
Mau tidak mau Angga langsung berdiri disamping Lidya dan memegang tangan gadis itu tanpa mengatakan apapun.
“Duh ini gimana sih ceritanya? Gue kesini udah dipaksa Kak Nathan. Malah makin kesini gue jalan sama cewek pula,” adu Angga dalam hati.
Lidya sekarang dalam keadaan kaget, sifat Angga tiba-tiba menjadi hangat kepadanya.
“Kak, kok megang tangan aku?” Tanya Rara sedikit takut.
“Jangan pikir aneh-aneh. Gue megang tangan lo karena lo jalannya lama, takutnya pas gue udah sampai ditempat tujuan, lo malah ketinggalan,” jawab Angga bohong, lucu sekali Angga ini.
“Terus kalau ngomong sama gue pakai lo gue aja jangan pakai aku, kamu, apalagi Kakak. Gue anti banget sama panggilan kakak,” lanjut Angga.
“Oh iya siap,“ jawab Lidya yang makin takut.
Dia sudah senyum-senyum karena Angga memegang tangannya, tapi kenyataan berkata lain. Semangatnya kembali patah dan yang tadi dia mengira kalau Angga itu menjadi lelaki yang hangat ditarik kembali. Mereka berdua pun masuk ke supermarket yang berada didalam mall tersebut, sibuk mencari barang yang akan dibawa. Tapi yang aneh tangan mereka berdua masih bergandengan erat. Setelah beberapa lama mencari mereka membayar ke kasir.
“Ini totalnya jadi segini kak,” kata kasir menunjuk ke arah komputer.
Angga pun mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu ATM. Lidya juga sibuk mencari kartunya dan kemudian memberikan kartu itu kepada Angga.
“Udah biar gue aja yang bayar, simpen aja kartu lo,” ucap Angga.
“Makasih banyak Angga.” Lidya berterima kasih.
Enak sekali hidupnya Lidya itu, sudah anak presiden, sekarang dapat lelaki ganteng plus royal pulak.
“Ini mas kartunya. Adek ceweknya cantik banget mas,” fuji kasir tersebut sambil menyodorkan kartu milik Angga.
“Maaf mas dia cewek saya. Tolong jangan ganggu dia,” jawab Angga sambil memegang bahu Lidya agar mendekat ke tubuh Angga. Angga melakukan ini demi menjalankan pesan dari Kakaknya. Masa sih?
“Aduh maaf yah Mas, saya gak tahu,” jawab Kasir tersebut merasa canggung.
“Ayok sayang kita langsung pergi! Banyak yang naksir sama kamu,“ ajak Angga memegang tangan Lidya setelah mengambil belanjaannya.
Setelah jauh dari supermarket tersebut Angga berhenti sejenak, “Lo gak risihkan gue gituin tadi? Kalau risih bilang aja, gue lakuin itu juga buat jagain lo dari orang yang gak jelas kaya mereka,” ujar Angga.
“Oh gak kok, makasih yah udah lindungi gue,” jawab Lidya.
Baru kali ini Angga banyak bicara kepada lawan bicaranya. Biasa dia Cuma menjawab seperlunya saja.
Saat berjalan keliling melihat sekitar mall, Lidya dan Angga tidak sengaja bertemu dengan Alfius dan Wardana dijalan.
“Alfi!” Teriak Lidya memanggil Alfius.
__ADS_1
Alfius pun berbalik ke arah Lidya. Wardana pun juga berbalik ke arah Lidya. Mereka saling bertatapan dan baru menyadarinya, Alfius segera menghampiri Lidya diikuti Wardana.
“Duh, Alfius ternyata udah berani nih yah jalan bawa cewek,” Goda Lidya.
“Lah ngomongin orang gak sadar diri, jalan juga sama cowok lo,” balas Alfius sekali melirik Angga yang cuek.
“Eh kamu Alfius kan? Si ketua basket di sekolah?” Tanya Angga memotong pembicaraan Alfius dan Lidya.
“Iya kak. Kakak ketua OSIS kan di sekolah? Angga Adhitama.” Sahut Alfius menebak.
“Betul. Tumbenan ada yang ingat nama gue,” ujar Angga memang wajah percaya diri.
“Bentar deh, ini pacar kamu Al?” Tanya Lidya.
“Kita cuma te—” ucapan Wardana terpotong.
“Iya dia pacar gue, kenalin namanya Wardana.” Potong Alfius saat Wardana ingin berbicara.
“Wah selamat yah lo udah punya pacar, pantesan kita ajak ngumpul juga gak punya waktu terus. Toh ternyata waktunya cuma buat bucin sama mbak Wardhana.” ujar Lidya menggoda Alfius lebih dominan menyindir.
“Hahaha, kamu juga pasti sebentar lagi bakal kayak aku deh Lid. Noh pacar kamu disebelah, dari tadi kelihatannya tuh tangan gak bisa dilepas deh, takut si Lidya lari?” Jawab Alfius sambil tertawa.
Angga dan Wardana juga ikutan tertawaan. Berbeda dengan Lidya yang wajahnya sudah memerah karena malu.
“Iya nih Al, takut nanti dibawa orang jadi aku genggam terus,” sahut Angga membalas Alfius.
“Cukup deh, Kasihan si Wardana diam dari tadi. Cepat Al pergi ngedate sana sama Wardana. Aku gak mau gangguin,” ucap Lidya.
Ia Sengaja berbicara begitu karena sudah malu setengah mati dengan Alfius. Angga juga segala mengiyakan Alfius kalau Lidya itu pacarnya. Alfius dan Wardana pun pamit meninggalkan Angga dan Lidya.
Mereka berdua pun sampai disebuah kafe yang masih berada di dalam mall tersebut. Mereka berdua duduk dimeja yang berada dipojok. Singkat waktu, pesanan pun sudah datang dan mereka kemudian menikmati makanan itu.
Tak lama disaat mereka makan, Angga terkejut karena ada yang memukul pelan pundaknya. Ternyata yang memukul pundak Angga ialah Jorgas. Jorgas hari ini ditemani Satria jalan-jalan mencari angin, mereka melepaskan lelah setelah 6 hari belajar.
“Jo, kayaknya sebentar lagi kita udah dilupain deh,” bisik bising Satria sambil mengambil kursi dan duduk bersama Lidya dan Angga.
“Nah betul tuh Sat, gue curiga mereka backstreet,” jawab Jorgas.
“Kalian berdua kenapa sih datang-datang langsung ngegosip kaya emak-emak. Gue lagi makan jangan ganggu,” kesal Angga marah.
“Eits bentar, ini lo kan Angga Adhitama yang gue kenal. Tumbenan lo ngomong banyak, biasa gue sama Jorgas ngomong pun ga di balas sama lo,“ heran Satria kaget.
“Udah, gue gak peduli. Mending diam aja,“ jawab Angga.
“Eh kamu Lidya kan? Anak Presiden yang sekelas sama Feby.“ Tanya Jorgas
“Iya kak,” jawab Lidya.
“Bentar deh ini mulai gak beres nih otaknya Angga. Masa iya waktu itu kan gue suruh dia dekatin lo eh malah dianya cuek banget Lid. Sekarang malah makan berdua disini, terus nih kantong belanjaan juga ada. Cieee jalan berdua nih yah ceritanya?” Goda Satria ke Angga.
“Biasalah Sat, karma tuh berlaku,” sahut Jorgas ikut ikutan menggoda temannya.
“Ini gue lagi pegang garpu yah, jangan bikin gue emosi dan colok mata kalian berdua,” heram Angga yang mulai emosi.
“Udah Angga, mereka Cuma bercanda doang jangan dimasukin ke hati,” ucap Lidya menenangkan Angga sambil mengelus bahu lelaki itu.
__ADS_1
“Tuh dengerin kata calon masa depan lo, jangan dimasukin ke hati nanti cepat tua,” seru Satria mengulangi perkataan Lidya.
Mereka berempat pun akhirnya duduk bersama berbincang-bincang di kafe tersebut. Tidak tahu apa yang membuat Angga hari ini tersenyum lebar. Yang lebih penting sekarang dimana Pak Nathan beserta Beby. Tapi tenang mereka tidak bakal hilang, tadi sebelum berpisah Pak Nathan sudah memberikan pesan bahwa ia akan mengirim pesan ke Angga kalau sudah selesai berbelanja dengan Beby.
Sudah 20 menit lamanya mereka berbincang dan tiba-tiba Pak Nathan mengirim pesan ke Angga.
-Kak Nathan-
'Angga, kakak udah selesai belanja nih. Gue tunggu lo sama Lidya di kafe yang tadi kita makan.'
“Bro, gue sama Lidya gak bisa lama-lama bareng kalian disini, kak Nathan udah nyuruh gue pulang,” pamit Angga ke Jorgas dan Satria.
“Ya sudah kalau gitu hati-hati yah, jagain Lidya baik-baik nanti gue ambil,” ujar Satria bercanda.
“Kalau gak mau gue penggal kepala lo, mending diam-diam deh,” sahut Angga kemudian pergi meninggalkan Jorgas dan Satria.
Tidak lupa ia menggenggam tangan Lidya. “Kak aku pamit dulu yah. Kapan-kapan lagi baru kita ngumpul, bye!” Pamit Lidya kepada Jorgas dan Satria sambil melambaikan tangan. Ia sudah ditarik Angga menjauh dari Jorgas dan Satria.
“Jo, udah kirim fotonya belum? Lucu nih buat bahan candaan kita ditongkrongan,” tanya Satria.
“Udah gue kirim ke grup. Tinggal tunggu si Angga lihat aja,” jawab Jorgas tertawa.
Tadi sebelum menghampiri Angga, Jorgas menyempatkan diri untuk memotret Angga dan Lidya. Katanya buat kenang-kenangan sekalian bahan candaan ditongkrongan. Mereka suka sekali membuat Angga marah.
Angga dan Lidya pun sudah sampai di kafe yang tadi awal mereka ketemu. Disana sudah ada Pak Nathan dan Beby Yang menunggu mereka.
“Makasih yah Angga udah jagain Lidya.” Ujar Beby tersenyum manis.
“Iya sama-sama,“ jawab Angga kembali dingin.
“Yaudah kalau gitu kita pamit dulu, saya mau nyiapin berkas buat kegiatan besok di desa X,” pamit Pak Nathan.
“Oke, hati-hati yah Sayang. Jangan ngebut,” sahut Beby. Pak Nathan dan Angga pun berjalan meninggalkan Beby dan Lidya ditempat.
“Lid, gimana rasanya jalan sama tuh kulkas berjalan?” Tanya Beby dengan wajah penasaran.
“Yah biasa aja kayak jalan sama manusia,” jawab Lidya bohong.
“Yah, gue tahu dia manusia, tapi coba deh jelasin yang lebih spesifik gitu,” sekarang Beby makin penasaran.
“Gak penting juga yah Beb. Ada yang lebih penting dari ini,” jawab Lidya membuat Beby makin penasaran.
“Memangnya tentang apaan?“ Jawab Beby.
“Ini tentang Alfius yang jalan sama cewek,” jawab Lidya.
“Buset! Cepat cerita, kejadiannya gimana?” Sahut Beby sangat bersemangat untuk mendengar cerita Lidya. Ia terlihat begitu antusias.
“Nanti gue cerita deh, mending sekarang kita pulang dulu. Gue janji bakal cerita di rumah,” jawab Lidya kemudian pergi meninggalkan Beby. Sedangkan gadis itu hanya melongo, ia heran kenapa seorang Alfius dengan cepat terdengar berita memiliki pasangan.
“Lidya mah suka gitu,“ Beby mulai pasrah mengikuti gadis itu.
“Eh Lidya tunggu! Jangan tinggalin gue sendiri disini woi!” Teriak Beby kemudian mengejar Lidya dari belakang.
Saking asiknya berbicara sendiri sampai ia tidak sadar kalau Lidya sudah berjalan jauh meninggalkan dirinya.
__ADS_1
“Halahh.. Tunggu woi! Kaki gue masih gemeteran ini abis jalan sama Pak Nathan.” Seru Lidya bercanda setengah serius.